KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar saham teknologi China mengalami koreksi tajam di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek permintaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), valuasi saham yang terlalu tinggi, serta pembatasan ekspor produk teknologi China. Indeks STAR50, yang mencakup perusahaan-perusahaan unggulan di sektor AI dan semikonduktor, telah merosot 40% dalam waktu kurang dari empat bulan. Penurunan tersebut menghapus sekitar US$ 480 miliar kapitalisasi pasar saham, sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasar saham global. Koreksi ini juga menjadi tantangan bagi upaya pemerintah China mendorong masyarakat untuk berinvestasi di pasar saham guna mendukung pendanaan industri AI. Sebelumnya, janji stimulus ekonomi telah mendorong reli pasar saham selama sekitar dua tahun.
Namun, tren tersebut kini berbalik arah. Indeks saham unggulan China, CSI300, telah turun sekitar 20% dari level tertingginya pada Juni lalu. "Pasar saham kemudian berkembang menjadi pasar bullish spekulatif yang tidak terkendali. Dan sekarang kita melihat gelembung itu pecah," kata Dong Baozhen, manajer investasi yang berbasis di Beijing.
Baca Juga: Pemilu Israel 2026: Netanyahu Hadapi Ancaman Kehilangan Kekuasaan Pembalikan arah pasar saham China mencerminkan reli sebelumnya yang melampaui kenaikan pasar saham di negara-negara Barat maupun kawasan Asia lainnya. Sebagai perbandingan, saham-saham AI Amerika Serikat (AS) mengalami koreksi yang relatif lebih terbatas. Indeks Nasdaq turun sekitar 6% dari rekor tertingginya yang dicapai tiga pekan sebelumnya. Di China, belum ada satu faktor pemicu penjualan saham yang benar-benar dominan. Namun, para pedagang menilai valuasi yang tinggi, kewajiban pajak, serta potensi larangan penggunaan peralatan teknologi China di pusat data AS dan negara lain turut menekan pasar. Menurut Goldman Sachs, saham-saham AI telah menyumbang sekitar 42% dari kapitalisasi pasar dan 57% nilai transaksi saham A di bursa China daratan serta saham H di Hong Kong. Besarnya porsi tersebut membuat banyak investor, terutama investor ritel yang mendominasi pasar, ikut terdampak oleh koreksi.
Saham Favorit Investor Ritel Berguguran
Penurunan tajam juga terjadi pada sejumlah perusahaan teknologi yang sebelumnya menjadi favorit investor. Saham produsen robot Unitree telah kehilangan sekitar separuh nilainya sejak mulai diperdagangkan pada Agustus. Saat pencatatan sahamnya, permintaan dari investor ritel tercatat mencapai 8.000 kali lipat dari jumlah saham yang tersedia. Produsen cip CXMT juga kehilangan lebih dari seperempat nilai sahamnya dalam sebulan terakhir. Sementara itu, saham perusahaan semikonduktor MetaX Integrated Circuits dan Moore Threads Technology, yang masing-masing sempat melonjak 700% dan 400% ketika pertama kali melantai di bursa tahun lalu, kini telah kehilangan sekitar separuh nilainya sejak Juli.
Baca Juga: Penjualan Global iPhone 18 Pro Melesat Lantaran Laris Manis di China Chen Wensheng, pemilik usaha kecil sekaligus investor asal Hainan, China selatan, mengatakan dirinya ikut membeli saham ketika pasar mengalami reli. Keputusannya didorong keyakinan bahwa pemerintah memberikan dukungan terhadap perusahaan seperti Unitree, yang memiliki investor dari kalangan dana yang didukung negara. Namun, Chen dan sejumlah rekannya kini harus menanggung kerugian investasi. Kekecewaan terhadap anjloknya saham yang sebelumnya didukung oleh narasi kebijakan pemerintah berpotensi mendorong investor beralih ke aset yang lebih defensif. Kondisi tersebut juga dapat memperlambat penghimpunan dana melalui pasar saham oleh perusahaan teknologi. Tekanan turut dirasakan oleh produsen komponen optik Zhongji Innolight dan Eoptolink Technology. Harga saham kedua perusahaan tersebut turun sekitar 60% dari level tertingginya pada Juni dan Juli. Penurunan ini antara lain dipengaruhi langkah Washington yang mengarah pada pelarangan pemasokan produk kedua perusahaan tersebut ke pusat data AS. Meski telah mengalami koreksi, valuasi indeks STAR50 masih berada di sekitar 100 kali laba historis atau trailing earnings. Angka tersebut memang jauh di bawah puncaknya yang hampir mencapai 250 kali, tetapi masih lebih tinggi dibandingkan rasio valuasi Nasdaq 100 yang sekitar 30 kali. Perbedaan valuasi tersebut membuat investor khawatir tekanan jual saham teknologi China masih akan berlanjut. "Apa yang sedang terjadi sekarang akan menghentikan banyak perusahaan yang berupaya mencatatkan sahamnya di bursa," kata Hong Hao, mitra pengelola sekaligus kepala investasi Lotus Asset Management di Hong Kong.
Gelembung Saham AI China dan Tantangan Regulasi
Gejolak pasar saham teknologi China terjadi di tengah upaya pemerintah memperbaiki imbal hasil investasi dan meredam volatilitas pasar. Otoritas China sebelumnya memperketat pengawasan terhadap penggunaan leverage dan perdagangan frekuensi tinggi. Investor yang didukung negara juga sempat menjual saham ketika pasar mengalami reli untuk membatasi kenaikan harga yang dinilai berlebihan. Komisi Regulasi Sekuritas China (China Securities Regulatory Commission/CSRC) belum memberikan tanggapan langsung atas pertanyaan yang dikirimkan Reuters melalui faks pada pekan sebelumnya. Ketua CSRC Wu Qing telah bertemu dengan sejumlah pelaku pasar pada awal bulan ini untuk mendengar masukan mengenai perbaikan pasar modal. Informasi tersebut disampaikan regulator melalui situs resminya. Di kalangan pelaku investasi, muncul pandangan bahwa reli saham teknologi yang terlalu agresif justru berpotensi mengganggu struktur pasar. "Terlalu menekankan 'kandungan teknologi'—yakni bobot perusahaan teknologi berdasarkan kapitalisasi pasarnya dalam indeks-indeks utama—menyebabkan penyimpangan, bahkan distorsi, dalam perilaku permodalan," kata Leo Wang, mitra di Qianchuang Capital yang berbasis di Beijing.
Baca Juga: Harga Emas Turun Tertekan Penguatan Dolar AS, Pasar Menanti Sinyal Suku Bunga The Fed "Hal ini menciptakan gelembung besar di sektor-sektor tertentu dan menguras modal secara serius dari sektor lainnya," tambahnya. Meski demikian, sebagian investor menilai koreksi tersebut dapat membuka peluang investasi baru. Mereka berpendapat bahwa penurunan harga saham bukanlah sesuatu yang mengejutkan dan tidak serta-merta merugikan reformasi pasar modal jangka panjang China. Reformasi tersebut dinilai telah menunjukkan kemajuan dalam meningkatkan imbal hasil investasi, terutama pendapatan yang diterima investor, dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan riset HSBC, dana investasi Asia secara umum masih memiliki alokasi berlebih (overweight) pada aset China meskipun telah melakukan penjualan saham selama tiga bulan terakhir. Goldman Sachs juga memasukkan Innolight dan CXMT ke dalam daftar rekomendasi baru yang mencakup puluhan saham AI China yang diterbitkan pada awal bulan ini. Sementara itu, William Bratton, ahli strategi BNP Paribas Securities, menilai pasar China menawarkan peluang pembelian bagi investor yang selektif.
Kendati demikian, sebagian investor di bursa China daratan masih memilih mengalihkan perhatian ke sektor lain atau menunggu valuasi saham turun lebih jauh sebelum kembali membeli. Wang Zhuo, mitra di Shanghai Zhuozhu Investment Management, memperingatkan bahwa perusahaan semikonduktor dan pemasok teknologi AI pada akhirnya dapat menghadapi persaingan harga yang semakin ketat. "Sama seperti produsen China lainnya, perusahaan semikonduktor dan pemasok AI pada akhirnya akan terjebak dalam perang harga," kata Wang. "Tidak ada pengecualian. Semua gelembung pada akhirnya pasti pecah," tambahnya.