Saham AIA, HSBC dan Standard Chartered Jatuh Setelah China Perketat Kontrol Modal



KONTAN.CO.ID - Saham sejumlah perusahaan keuangan besar yang tercatat di Bursa Hong Kong melemah tajam pada perdagangan Jumat (5/6/2026).

Setelah muncul kekhawatiran bahwa kebijakan kontrol modal yang lebih ketat dari pemerintah China dapat mengganggu bisnis lembaga keuangan global yang memiliki eksposur besar terhadap nasabah dari daratan China.

Baca Juga: Jepang Siapkan Hingga 14 Reaktor Nuklir Baru untuk Penuhi Lonjakan Kebutuhan Listrik


Melansir Reuters pada awal perdagangan, saham AIA Group turun lebih dari 3%. Saham HSBC Holdings melemah hampir 2%, sementara Standard Chartered merosot sekitar 3%.

Saham Bank of East Asia juga turun lebih dari 2%.

Pelemahan tersebut mengikuti penurunan saham perusahaan-perusahaan keuangan tersebut di London sehari sebelumnya.

Setelah laporan media menyebut warga China daratan menghadapi pembatasan yang lebih ketat dalam membuka rekening luar negeri (offshore account) di sejumlah bank besar Hong Kong.

Menurut laporan yang diterbitkan oleh South China Morning Post, staf cabang HSBC di kawasan Lujiazui Shanghai mengingatkan bahwa seluruh dana yang disetor ke rekening investasi harus memenuhi persyaratan regulasi Hong Kong.

Baca Juga: Bursa Australia Melemah Jumat (5/6) Pagi, Saham Tambang dan Energi Jadi Beban Utama

Pengawasan Lintas Batas Diperketat

Perbankan dan institusi keuangan dilaporkan mulai memperketat pengawasan terhadap aktivitas investasi lintas batas yang melibatkan nasabah asal China.

Langkah tersebut dilakukan setelah pemerintah China memperketat kontrol modal pada 22 Mei lalu dan menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah perusahaan pialang yang dituduh menjalankan kegiatan bisnis di China tanpa izin resmi.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya Beijing untuk mengawasi arus dana keluar negeri dan memperketat kepatuhan terhadap aturan keuangan domestik.

Selain itu, regulator Hong Kong juga meminta bank-bank untuk meningkatkan pemeriksaan terhadap sumber dana investor dan menutup rekening yang menggunakan dokumen mencurigakan atau palsu.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran di kalangan investor bahwa arus dana dari China menuju produk investasi dan asuransi di Hong Kong dapat melambat.

Padahal, nasabah dari China daratan selama ini menjadi salah satu sumber pertumbuhan utama bagi sejumlah bank internasional dan perusahaan asuransi yang beroperasi di Hong Kong.

Baca Juga: Jepang Kembali Ancam Intervensi Saat Yen Bertahan di Level Kritis 160 per Dolar

Potensi Dampak pada Industri Keuangan

Analis menilai, pengetatan kontrol modal dapat memengaruhi pertumbuhan bisnis pengelolaan kekayaan (wealth management), asuransi jiwa, dan layanan perbankan lintas negara yang selama ini menjadi andalan perusahaan seperti AIA, HSBC, dan Standard Chartered.

Nasabah China selama bertahun-tahun memanfaatkan Hong Kong sebagai pusat keuangan internasional untuk mengakses produk investasi global, diversifikasi aset, serta memperoleh perlindungan asuransi yang tidak tersedia di pasar domestik.

Hingga saat ini, HSBC, Standard Chartered, AIA, Prudential, maupun Bank of East Asia belum memberikan tanggapan resmi atas laporan tersebut.

Baca Juga: Bursa Asia Rontok Jumat (5/6), Reli AI Kehabisan Tenaga dan Konflik Timur Tengah

Pasar kini akan mencermati apakah kebijakan pengawasan yang lebih ketat ini hanya bersifat sementara atau menjadi bagian dari strategi jangka panjang Beijing untuk membatasi arus modal keluar negeri.

Jika diterapkan secara permanen, langkah tersebut berpotensi menekan pertumbuhan sektor jasa keuangan Hong Kong yang selama ini sangat bergantung pada aliran dana dari China daratan.