Saham Alfamart (AMRT) Dibayangi Pelemahan Rupiah, Ini Prospek dan Target Harganya



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ekspansi gerai dan pertumbuhan penjualan masih menjadi penopang bisnis PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). Namun, pengelola jaringan minimarket Alfamart ini harus menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah, tekanan daya beli masyarakat, hingga persaingan industri ritel modern yang semakin ketat.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty mengatakan, pelemahan rupiah yang belakangan mendekati level Rp 18.200 per dolar AS berpotensi meningkatkan biaya pengadaan AMRT, terutama untuk produk yang memiliki komponen impor.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan beban biaya perusahaan dan menekan tingkat profitabilitas. Selain itu, pelemahan daya beli masyarakat berpotensi memperlambat pertumbuhan penjualan, khususnya untuk produk-produk nonesensial.


“Namun, dampaknya diperkirakan lebih terasa pada pertumbuhan same store sales growth (SSSG) dan profitabilitas dibandingkan menyebabkan penurunan pendapatan secara langsung,” ujar Arinda kepada Kontan, Selasa (3/11/2026).

Baca Juga: IHSG Anjlok 16,7% pada Oktober 2026, Ini Langkah OJK Perkuat Pasar Modal

Sementara itu, rencana pemerintah menerapkan pajak digital juga perlu dicermati. Meski demikian, kebijakan tersebut belum tentu memberikan dampak langsung terhadap transaksi ritel AMRT.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, AMRT masih memiliki peluang pertumbuhan melalui ekspansi jaringan gerai dan pengembangan kanal penjualan digital.

Hingga September 2026, perusahaan mengoperasikan sekitar 21.500 hingga 21.900 gerai. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan awal tahun ketika AMRT mengoperasikan 21.120 gerai.

Head Equity Research Henan Putihrai Sekuritas, Yehezkiel Christian Hamidjaja mencatat, AMRT menargetkan pembukaan 800 gerai Alfamart baru sepanjang 2026. Lebih dari separuh gerai baru tersebut direncanakan berlokasi di luar Pulau Jawa.

Menurut Yehezkiel, produktivitas gerai di luar Jawa secara umum mampu menyamai gerai di wilayah Jabodetabek. Bahkan, gerai-gerai tersebut memiliki margin operasional yang lebih tinggi.

Selain pasar domestik, Filipina juga berpotensi menjadi sumber pertumbuhan kedua bagi perusahaan dalam jangka panjang. AMRT menargetkan pembukaan 200–250 gerai baru di negara tersebut.

Meski demikian, Yehezkiel melihat sejumlah risiko yang dapat membayangi kinerja perusahaan. Salah satunya adalah persaingan industri minimarket modern di Indonesia yang berpotensi semakin ketat.

“Promosi yang semakin agresif dari para pesaing dapat memaksa AMRT meningkatkan belanja promosi. Kondisi ini berpotensi menekan pertumbuhan penjualan di gerai yang telah beroperasi minimal satu tahun (SSSG) serta margin laba kotor,” ujar Yehezkiel.

Baca Juga: Deretan Saham Ini Masih Jadi Buruan Investor Asing, Cek Prospeknya

Risiko lainnya berasal dari kenaikan biaya upah dan sewa yang dapat meningkatkan beban operasional perusahaan. Apabila kenaikan biaya tersebut berlangsung lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan, margin keuntungan AMRT berpotensi tertekan.

Selain itu, ketergantungan kegiatan logistik terhadap bahan bakar diesel membuat harga BBM menjadi salah satu komponen utama biaya distribusi perusahaan. Lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya operasional, sementara kenaikan biaya bahan bakar tidak sepenuhnya dapat dialihkan melalui penyesuaian harga jual.

Kinerja Keuangan AMRT Tumbuh pada Kuartal III-2026

Di tengah berbagai tantangan tersebut, AMRT masih mampu mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang positif sepanjang sembilan bulan pertama 2026.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 September 2026, AMRT membukukan pendapatan neto sebesar Rp 101,28 triliun. Perolehan tersebut meningkat sekitar 7,21% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 94,48 triliun.

Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga meningkat. Hingga 30 September 2026, AMRT mencatatkan laba bersih sebesar Rp 2,40 triliun, naik sekitar 3,79% secara tahunan atau year on year (YoY) dibandingkan Rp 2,31 triliun pada periode yang sama 2025.

Berdasarkan segmen usaha, kontribusi terbesar terhadap pendapatan AMRT berasal dari segmen makanan yang mencapai Rp 72,14 triliun. Pendapatan segmen ini tumbuh 7,96% dibandingkan periode kuartal III-2025 sebesar Rp 66,82 triliun.

Sementara itu, segmen nonmakanan menyumbang pendapatan sebesar Rp 29,14 triliun hingga September 2026. Jumlah tersebut meningkat 5,43% YoY dibandingkan Rp 27,64 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga: Investor Waspadai Risiko Struktural, CDS Indonesia Masih Dibayangi Tekanan

Proyeksi Pendapatan dan Rekomendasi Saham AMRT

Melihat perkembangan bisnis tersebut, Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Willy Goutama memproyeksikan pendapatan AMRT sepanjang 2026 dapat mencapai Rp 144,74 triliun. Angka tersebut meningkat 14,2% YoY dibandingkan realisasi pendapatan 2025 sebesar Rp 126,74 triliun.

Willy juga memperkirakan laba bersih inti atau core net profit AMRT meningkat menjadi Rp 3,72 triliun pada 2026. Proyeksi tersebut tumbuh 9% dibandingkan realisasi laba bersih inti pada 2025 sebesar Rp 3,41 triliun.

Dari sisi investasi, Willy memberikan rekomendasi hold saham AMRT dengan target harga Rp 1.400 per saham.

Sementara itu, Yehezkiel merekomendasikan buy saham AMRT dengan target harga Rp 1.500 per saham. Rekomendasi serupa juga diberikan Arinda yang menyarankan investor untuk membeli saham AMRT dengan target harga lebih tinggi, yakni Rp 2.100 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News