Saham AMRT Terkoreksi 36%, Analis Ungkap Penyebab dan Prospek hingga Akhir 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) telah terkoreksi sekitar 36% sejak awal tahun 2026. Di tengah tekanan harga saham tersebut, perusahaan menyiapkan dividen interim sebesar Rp595,83 miliar atau Rp14,5 per saham.

Equity Analyst sekaligus Head of Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, terdapat sejumlah faktor yang menekan saham AMRT. Faktor terbesar berasal dari penurunan valuasi saham.

"AMRT lama diperdagangkan dengan valuasi premium, dan saat pasar turun sekitar 30% dan premi risiko naik, saham valuasi tinggi paling dulu dipangkas meski bisnisnya tidak memburuk sebesar itu," ujar Wafi kepada Kontan, Selasa (6/10/2026).


Baca Juga: Meski Sedang Tertekan, Reksadana Pasar Uang dan Pendapatan Masih Menarik

Selain faktor valuasi, tekanan juga berasal dari dana asing. Wafi mengatakan, AMRT memiliki bobot yang cukup besar serta tingkat kepemilikan asing yang tinggi.

Sementara dari sisi fundamental, Wafi menilai tekanannya relatif lebih kecil. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan antara lain daya beli masyarakat kelas menengah bawah yang tertekan, persaingan dengan jaringan minimarket lain dan pertumbuhan belanja daring, serta kenaikan biaya upah, sewa, dan energi.

Di tengah koreksi saham tersebut, AMRT telah menyiapkan dividen interim sebesar Rp595,83 miliar atau Rp14,5 per saham. Wafi menilai pembagian dividen tersebut menjadi sinyal positif terhadap kemampuan menghasilkan kas.

Meski demikian, dividen tersebut tidak menjadi alasan utama untuk membeli saham AMRT. Dengan dividen Rp14,5 per saham, imbal hasil yang ditawarkan relatif kecil jika dibandingkan dengan Surat Berharga Negara (SBN) yang berada di kisaran 7%.

"AMRT dinilai sebagai saham pertumbuhan, jadi daya tariknya tetap ditentukan pertumbuhan penjualan toko yang sama dan margin," tuturnya .

Lebih lanjut, Wafi menilai prospek kinerja AMRT hingga akhir 2026 masih cukup tahan. Salah satu penopangnya adalah kuartal IV yang secara musiman menjadi periode terkuat bagi bisnis ritel seiring momentum liburan akhir tahun.

Selain itu, stimulus sekitar Rp 31 triliun melalui bantuan pangan dan Bantuan Subsidi Upah (BSU) berpotensi mengalir ke belanja kebutuhan sehari-hari yang menjadi bisnis inti AMRT.

Namun, investor tetap perlu mencermati sejumlah indikator kinerja AMRT. Wafi menyebut pertumbuhan penjualan toko yang sama, margin kotor, serta dampak pelemahan rupiah terhadap harga barang impor menjadi beberapa faktor yang perlu diperhatikan.

Terkait rekomendasi saham AMRT, Wafi menyatakan TP masih dalam tahap peninjauan (under review).

Baca Juga: AUM Reksadana Turun, Ada Indikasi Investor Beralih ke SBN hingga Emas

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News