KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa saham Asia bergerak menguat pada perdagangan Kamis (13/8/2026), setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) sesuai dengan perkiraan pasar. Kondisi tersebut meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat. Di sisi lain, harga minyak masih bertahan pada level tinggi di tengah kebuntuan antara Washington dan Teheran dalam upaya mengakhiri perang di kawasan Teluk. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,97%. Penguatan terutama dipimpin saham Korea Selatan yang melonjak 4,4%. Indeks Nikkei Jepang juga menguat 1,86%, sementara kontrak berjangka S&P 500 naik tipis 0,02%.
Data menunjukkan harga konsumen AS hanya meningkat 0,1% pada Juli, sesuai dengan ekspektasi pasar. Kenaikan yang relatif kecil tersebut berpotensi melemahkan alasan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan depan. Pasar uang kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed hanya sekitar 40%, turun dari 54% sepekan sebelumnya berdasarkan CME Group FedWatch.
Baca Juga: Bursa Korea Selatan Tembus Level Tertinggi 3 Pekan Kamis (13/8), Saham Chip Melonjak Dengan data inflasi Agustus yang akan dirilis sebelum pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan depan, serta harga kontrak berjangka minyak mentah yang naik moderat sejak Juli, pasar masih akan mencermati data ekonomi AS hingga menjelang keputusan The Fed. "Baik The Fed maupun pasar kemungkinan akan ingin menilai data hingga sesaat sebelum FOMC September," kata Den Miki, senior rate strategist SMBC Nikko Securities, dalam sebuah catatan.
Wall Street Bergerak Campuran
Perdagangan saham di Wall Street berakhir bervariasi pada Rabu malam. Indeks Nasdaq Composite dan S&P 500 masing-masing membukukan kenaikan tipis, sedangkan Dow Jones Industrial Average terkoreksi. Sementara itu, harga minyak di perdagangan Asia mengalami penurunan, tetapi masih berada pada level tinggi. Harga minyak mentah AS turun 0,83% menjadi US$82,58 per barel, sedangkan Brent melemah 0,71% menjadi US$88,35 per barel. Pergerakan harga minyak masih dipengaruhi ketegangan geopolitik di kawasan Teluk. Iran dan AS belum mencapai kesepakatan terkait upaya mengakhiri perang secara permanen. Pembicaraan untuk menghidupkan kembali kesepakatan sementara pada Juni juga belum menunjukkan kemajuan, sementara belum ada jadwal pelaksanaan yang ditetapkan. Seorang sumber senior Iran mengatakan kedua negara masih berada dalam posisi yang berseberangan. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa AS memiliki "kendali penuh" atas Selat Hormuz. Pernyataan tersebut langsung ditolak Iran yang menyatakan bahwa jalur pelayaran tersebut masih diblokade.
Dolar AS Tertekan terhadap Yen
Di pasar valuta asing, dolar AS melemah 0,06% terhadap yen menjadi 159,32 yen per dolar. Pelemahan tersebut terjadi di tengah meningkatnya spekulasi bahwa Bank of Japan (BOJ) dapat menaikkan suku bunga pada bulan depan, lebih cepat dari perkiraan sebelumnya yang mengarah pada Desember. Ekspektasi tersebut semakin menguat setelah data harga grosir Jepang menunjukkan kenaikan 7,2% pada Juli dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Data tersebut menunjukkan tekanan harga yang semakin meluas di perekonomian Jepang. Indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap sejumlah mata uang utama, termasuk yen dan euro, relatif stabil di level 99,93. Sementara itu, imbal hasil surat utang AS tenor 10 tahun naik 0,62 basis poin menjadi 4,688%, dibandingkan 4,682% pada akhir perdagangan Rabu.
Baca Juga: Secret Service Pindahkan Trump dari Air Force One karena Ancaman Rudal Kebijakan Moneter Australia
Dari Australia, Assistant Governor Reserve Bank of Australia (RBA) Christopher Kent mengatakan tiga kali kenaikan suku bunga acuan yang dilakukan bank sentral pada awal tahun mulai memberikan dampak sesuai dengan yang diharapkan. Berbicara dalam acara Reuters NEXT Newsmaker di Sydney, Kent mengatakan kebijakan moneter yang lebih ketat membutuhkan waktu sebelum memberikan dampak penuh terhadap aktivitas ekonomi dan inflasi.
"Perlu waktu agar kebijakan moneter yang lebih ketat memberikan dampak penuh terhadap aktivitas ekonomi dan inflasi," ujar Kent. Dolar Australia relatif stabil terhadap dolar AS di level US$0,7062.
Harga Emas Naik
Di pasar komoditas, harga emas di pasar spot naik 0,28% menjadi US$4.419,28 per ons. Sementara itu, harga perak spot meningkat 0,3% menjadi US$65,50 per ons. Pergerakan aset safe haven masih menjadi perhatian investor di tengah ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral utama serta meningkatnya risiko geopolitik di kawasan Teluk.