KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham PT Avia Avian Tbk (AVIA) masih berada dalam tekanan. Sepanjang Oktober 2026, saham AVIA telah melemah sekitar 9%. Di tengah tekanan tersebut, Direktur AVIA Robert Christian Tanoko melakukan pembelian sebanyak 1,79 juta saham dengan nilai sekitar Rp593 juta. Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand mengatakan tekanan terhadap saham AVIA lebih banyak berasal dari faktor pasar dibandingkan dengan kondisi fundamental perusahaan. "Pelemahan sekitar 9% sepanjang Oktober sejalan dengan koreksi IHSG yang lebar akibat outflow asing, yield US Treasury yang tinggi, dan rupiah di kisaran Rp17.800," ujar Abida kepada Kontan (8/10/2026).
Selain faktor pasar, pelemahan rupiah dan tingginya harga minyak turut menjadi tekanan bagi AVIA. Abida mengatakan, kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya bahan baku cat yang sebagian besar berbasis petrokimia dan impor. Sementara itu, sektor properti dan konstruksi yang masih lesu turut menjadi perhatian. Pasar juga mencermati kenaikan persediaan barang dalam laporan keuangan semester I-2026 yang memunculkan pertanyaan mengenai laju penjualan di semester kedua.
Baca Juga: AVIA Raih Kenaikan Penjualan & Laba Double Digit per Semester I-2026, Ini Penopangnya Meski demikian, Abida menilai aksi pembelian saham oleh direksi memberikan sinyal positif bagi investor. Pembelian tersebut dilakukan pada harga rata-rata sekitar Rp 331 per saham dan menunjukkan adanya keyakinan dari orang dalam bahwa harga saham AVIA saat ini berada di bawah nilai wajarnya. "Namun nilainya relatif kecil dibanding kapitalisasi pasar AVIA, sehingga tidak cukup untuk menggerakkan harga secara signifikan. Sinyal ini lebih bermakna jika diikuti pembelian lanjutan atau eksekusi buyback," tuturnya. Dari sisi fundamental, Abida menilai kinerja AVIA masih solid. Pada semester I-2026, penjualan AVIA tumbuh 18,2% menjadi Rp4,59 triliun, sedangkan laba bersih meningkat 20,7% menjadi Rp938 miliar. Margin bersih AVIA juga masih terjaga di level 20,4% didukung volume segmen Solusi Arsitektur yang meningkat 8,6% serta dua kali penyesuaian harga. Menurut Abida, capaian tersebut bahkan telah melampaui target pertumbuhan penjualan setahun penuh sebesar 10%-14%. Dengan demikian, panduan manajemen tergolong konservatif. Memasuki sisa tahun 2026, terdapat sejumlah katalis yang dapat menopang kinerja AVIA. Di antaranya musim renovasi menjelang akhir tahun, perluasan jaringan distribusi, serta peluncuran produk baru.
Baca Juga: Harga Saham Melorot 9%, Direktur AVIA Rogoh Kantong Beli Jutaan Saham Perusahaan Namun, di sisi lain terdapat sejumlah risiko seperti kenaikan biaya bahan baku akibat pelemahan rupiah, daya beli yang tertekan sehingga ruang kenaikan harga terbatas, serta perlambatan sektor properti. Senada, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, tekanan pada saham AVIA lebih dipengaruhi oleh aksi profit taking dan sentimen pasar terhadap sektor konsumen, di tengah ekspektasi terhadap daya beli masyarakat yang masih menjadi perhatian investor. Menurut Nafan, koreksi saham AVIA belum tentu mencerminkan adanya perubahan fundamental yang signifikan pada perusahaan. Pelaku pasar masih cenderung mencerminkan sikap wait and see terhadap pertumbuhan penjualan, margin keuntungan, serta prospek pemulihan permintaan. Terkait aksi pembelian saham oleh Direktur AVIA Robert Christian Tanoko, Nafan menilai langkah tersebut dapat menjadi sinyal positif. Pembelian tersebut menunjukkan kepercayaan manajemen terhadap prospek fundamental dan valuasi saham AVIA. "Aksi pembelian oleh direksi juga menunjukkan adanya skin in the game dan dapat memberikan sentimen positif bagi investor," ujar Nafan kepada Kontan (8/10/2026). Meski demikian, Nafan menilai aksi pembelian tersebut tidak dapat menjadi satu-satunya indikator untuk memperkirakan arah saham AVIA. Investor tetap perlu mencermati perkembangan kinerja keuangan dan prospek bisnis perusahaan.
Untuk kinerja hingga akhir 2026, Nafan masih melihat prospek AVIA cukup positif, terutama apabila konsumsi domestik dan daya beli masyarakat mulai membaik. Potensi penurunan suku bunga, pemulihan daya beli, serta peningkatan aktivitas renovasi dan pembangunan properti dapat menjadi katalis bagi permintaan produk cat dan pelapis. Di sisi lain, perusahaan masih menghadapi sejumlah risiko, seperti pelemahan daya beli, volatilitas harga bahan baku, pergerakan nilai tukar rupiah, serta persaingan industri yang dapat menekan margin.
Baca Juga: Laba Avian Brands (AVIA) Tumbuh 20,7%, Tetap Ngebut Meski Harga Cat Naik 2 Kali Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News