Saham Bank Bangkit Usai Tekanan MSCI, Sejumlah Emiten Ini Kaji Buyback



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar rebound pada perdagangan Selasa (20/10/2026), setelah tertekan sentimen pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Di tengah pemulihan harga saham, sejumlah bank mulai mencermati opsi pembelian kembali saham (buyback) untuk merespons dinamika pasar.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 5,65% ke level 5.278. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) memimpin penguatan di antara bank besar dengan kenaikan 9,84% ke Rp 2.790. Disusul PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang naik 9,82% ke Rp 3.690.


Baca Juga: BBCA dan BBTN Kompak Menguat, Bagaimana Perkembangan Rencana Buyback?

Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menguat 8,78% ke Rp 3.220, sedangkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 7,88% ke Rp 5.200.

Meski harga saham berbalik menguat, investor asing masih mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp 2,13 triliun. BBCA mencatatkan net sell asing terbesar, yakni Rp 966,11 miliar. Selanjutnya, BBRI sebesar Rp 355,39 miliar, BMRI Rp 269,82 miliar, dan BBNI Rp 28,24 miliar.

Di tengah volatilitas pasar tersebut, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) tengah mengkaji opsi buyback sebagai salah satu alternatif aksi korporasi.

Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu mengatakan, pergerakan harga saham perlu dilihat dengan mempertimbangkan fundamental bisnis, prospek pertumbuhan, serta transformasi yang sedang dijalankan perseroan.

 
BBNI Chart by TradingView

"Buyback merupakan salah satu opsi yang sedang kami kaji," kata Nixon dalam keterangan tertulis, Selasa (20/10/2026).

Ia menambahkan, BTN juga mempertimbangkan kemungkinan pemanfaatan saham hasil buyback untuk kebutuhan tertentu. Namun, keputusan tersebut akan memperhatikan kondisi keuangan, kecukupan modal, dan kepentingan seluruh pemegang saham.

Baca Juga: BNI Buka Peluang Perpanjang Buyback Saham yang Berakhir 26 Oktober 2026

BTN sebelumnya pernah menyiapkan dana Rp 275 miliar untuk buyback saham pada 2020, ketika pasar tertekan akibat pandemi Covid-19.

Sementara itu, BBNI membuka peluang memperpanjang periode pelaksanaan buyback yang dijadwalkan berakhir pada 26 Oktober 2026.

Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan, perseroan masih mencermati perkembangan pasar dan berbagai opsi strategis untuk pelaksanaan aksi korporasi tersebut. Namun, pelaksanaannya tetap mengacu pada ruang buyback yang telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

BNI sebelumnya telah menyampaikan rencana buyback melalui keterbukaan informasi pada Juli 2026.

"Pelaksanaan buyback dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan kecukupan permodalan perseroan," ujar Okki.

Baca Juga: Saham Big Bank Menghijau pada Perdagangan Selasa (20/10)

Ia menegaskan, pelaksanaan buyback tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan tata kelola perusahaan yang baik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News