KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham perbankan besar kompak menguat pada perdagangan Jumat (21/8/2026). Kenaikan terjadi di tengah kinerja perbankan yang masih positif, meski tekanan likuiditas dan biaya pendanaan mulai menjadi perhatian. Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (
BBNI) menjadi salah satu yang mencatat kenaikan paling tinggi. Saham BBNI ditutup naik 3,9% ke level Rp 3.720 per saham. Dalam lima hari perdagangan, saham BBNI telah menguat 3,32%. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (
BBRI) juga naik 2,87% menjadi Rp 3.230 per saham. Dalam periode lima hari, saham BBRI menguat 3,86%.
Selanjutnya, saham PT Bank Mandiri Tbk (
BMRI) naik 1,69% ke Rp 4.220 per saham. Dalam lima hari terakhir, saham BMRI tercatat menguat 1,93%. Sementara itu, saham PT Bank Central Asia Tbk (
BBCA) ditutup naik 0,78% menjadi Rp 6.450 per saham. Dalam lima hari perdagangan, saham BBCA telah menguat 2,38%.
Baca Juga: Asuransi Bintang (ASBI) Laporkan Enam Orang ke Bareskrim, Dugaan Penggelapan Dana Di tengah penguatan saham bank tersebut, kinerja perbankan masih menunjukkan pertumbuhan positif, meski mulai menghadapi tekanan pendanaan. Dalam riset Maybank Sekuritas Indonesia, kinerja BBCA, BMRI, dan BBNI dinilai sesuai dengan ekspektasi, sedangkan kinerja PT Bank Jago Tbk (ARTO) berada di bawah perkiraan. Harga saham ARTO naik 0,47% di Rp 1.060 per saham pada Jumat (21/8/2026). Sementara itu dalam lima hari saham ARTO turun 10,92%. Menurut riset 9 Agustus 2026 Maybank Sekuritas Jeffrosenberg Chenlim, pada semester I 2026, laba ARTO tumbuh 49% secara tahunan, laba BMRI tumbuh 24%, BBNI 7%, dan BBCA 2%. BMRI mencatat pertumbuhan laba terkuat di antara bank konvensional. Kinerja tersebut didukung oleh peningkatan pendapatan berbasis komisi (fee income), penurunan beban operasional, serta penurunan biaya pencadangan sebesar 12,5%. Sementara itu, pertumbuhan laba ARTO ditopang oleh peningkatan pendapatan bunga bersih dan pendapatan berbasis komisi. Namun, capaian laba ARTO masih berada di bawah laju yang dibutuhkan untuk mencapai proyeksi setahun penuh dalam laporan strategi tersebut.
Pertumbuhan kredit kuat, likuiditas mulai ketat
Pertumbuhan kredit perbankan masih kuat dan terutama didorong oleh segmen kredit wholesale. Kredit BBNI tumbuh 24% secara year on year (yoy) dan BMRI meningkat 19%. Pertumbuhan tersebut antara lain didukung oleh penyaluran kredit dalam jumlah besar kepada Agrinas. Sementara itu, kredit BBCA tumbuh 8%.
Baca Juga: Investasi Asuransi Syariah Anjlok 95%, Ini Strategi Industri Hadapi Tekanan Pasar Di bank digital, kredit ARTO meningkat 24%, ditopang pertumbuhan nasabah serta kerja sama dengan mitra digital. Namun, Jeffrosenberg menyebut, kondisi likuiditas yang semakin ketat berpotensi memperlambat ekspansi kredit. Hal tersebut tercermin dari rasio loan to deposit ratio (LDR) ARTO yang mencapai 96,3%, BMRI 95,1%, dan BBNI 87,7%. Sebagai perbandingan, LDR BBCA berada pada level yang lebih nyaman, yakni 78,7%. CASA dan margin jadi perhatian Komposisi pendanaan dan margin bunga bersih alias net interest margin (NIM) menjadi perhatian utama. Rasio current account saving account (CASA) BMRI dan BBNI mengalami penurunan tajam. Kedua bank tersebut semakin mengandalkan deposito berjangka yang memiliki biaya dana lebih tinggi. Kondisi tersebut mendorong keduanya memangkas panduan NIM untuk tahun buku 2026. Sementara itu, posisi pendanaan ARTO relatif lebih stabil. Dana pihak ketiga tumbuh 23%, sedangkan rasio CASA meningkat menjadi 53%. Biaya dana (cost of funds) juga tetap berada di level 3,5%. Meski demikian, persaingan dalam menghimpun dana tetap berpotensi memberikan tekanan terhadap ARTO. BBCA dinilai memiliki posisi paling defensif dari sisi pendanaan. Hal ini didukung rasio CASA yang mencapai 85,2% serta kondisi likuiditas yang masih memadai.
Kualitas aset masih terkendali
Dari sisi kualitas aset, risiko masih dinilai dapat dikelola, meski mulai meningkat pada segmen tertentu. Biaya kredit (credit cost) BBCA dan BMRI masih rendah. Sementara itu, biaya kredit BBNI dan terutama ARTO lebih tinggi. Credit cost ARTO masih berada pada level tinggi, yakni 4,3%. Kondisi tersebut mencerminkan karakteristik portofolio kredit ARTO yang memiliki tenor lebih pendek dan imbal hasil lebih tinggi. Risiko kredit ARTO juga mulai meningkat seiring dengan bertambah matangnya portofolio kredit, tercermin dari kenaikan tipis rasio loans at risk.
Baca Juga: BRI Permudah Pekerja Migran Indonesia di Taiwan Kirim Uang ke Indonesia Pakai BRImo Secara keseluruhan, kinerja bank masih ditopang oleh pertumbuhan kredit, pendapatan berbasis komisi dan disiplin biaya. Namun, likuiditas yang semakin ketat, kenaikan biaya pendanaan, serta potensi normalisasi biaya kredit dapat memperlambat momentum pertumbuhan pada semester II 2026. Maybank Sekuritas menilai BBCA memiliki posisi pendanaan yang paling defensif. BMRI mencatatkan pertumbuhan laba terkuat di antara bank konvensional, sedangkan ARTO menawarkan pertumbuhan struktural paling cepat dengan konsekuensi risiko likuiditas dan kredit yang lebih tinggi. Jeffrosenberg memberi rekomendasi buy saham BBCA, BBNI, BMRI dan ARTO. Saham BBCA ditargetkan di Rp 8.800, BBNI Rp 4.800, BMRI, Rp 5.700 dan 2.000 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News