Saham Bank Menghijau Pasca Tertekan, Analis Sebut Peluang Rebound Masih Terbuka



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Aksi jual bersih investor asing masih membayangi sektor perbankan, seiring kekhawatiran terhadap aspek investability pasar saham domestik, terutama setelah MSCI menyoroti isu transparansi free float dan struktur kepemilikan saham. Kendati begitu, saham perbankan terpantau mulai menghijau dengan potensi rebound lebih lanjut. 

Pada penutupan perdagangan Kamis (29/1/2026), saham perbankan berhasil memasuki zona hijau. Dari jajaran big banks, cuman saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang masih loyo, dengan koreksi harian 0,45% ke level Rp 4.420. 

Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencetak penguatan tertinggi sebesar 5,29% menjadi Rp 3.780. Menyusul, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik 1,54% ke level Rp 4.630 dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menguat 2,49% menjadi Rp 7.200. 


Baca Juga: Siapkan Dana Buyback Saham Rp 1,5 Triliun, BBNI Minta Restu Pemegang Saham

Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, tekanan dua hari terakhir belum mencerminkan kondisi fundamental perbankan nasional. Hingga kini, sektor perbankan masih ditopang permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, serta kinerja laba yang relatif stabil. 

Bahkan, ia melihat respons investor domestik cukup solid, tercermin dari kemampuan sejumlah saham bank besar yang mampu bertahan atau mencatatkan penguatan meski investor asing masih mencatatkan net sell dalam jumlah besar.

Ke depan, peluang kembalinya aliran dana asing ke saham perbankan pun menurutnya masih terbuka setelah tekanan jual mereda dan ketidakpastian kebijakan berkurang. 

Langkah regulator yang relatif cepat, mulai dari reformasi aturan free float, peningkatan transparansi data kepemilikan saham, hingga penetapan batas minimum free float sebesar 15%, dipandang sebagai sinyal positif bagi investor global.

“Ketika risiko penurunan status indeks bisa diredam dan kepastian regulasi meningkat, investor asing biasanya kembali masuk ke saham berkapitalisasi besar dan likuid, dengan sektor perbankan sebagai tujuan utama karena bobotnya yang signifikan dalam indeks,” ujar Hendra kepada Kontan, Kamis (29/1/2026). .

Dari sisi fundamental, katalis pemulihan saham perbankan akan sangat bergantung pada konsistensi kinerja keuangan, khususnya pertumbuhan laba dan kemampuan menjaga margin bunga di tengah dinamika suku bunga. 

Baca Juga: Strategi Gadai ValueMax Perkuat Diversifikasi Gadai Non Emas pada Tahun 2026

Pertumbuhan kredit yang tetap terjaga, baik dari segmen konsumsi maupun korporasi berkualitas, serta kualitas aset yang stabil dengan rasio kredit bermasalah yang terkendali, menjadi faktor kunci penopang kepercayaan investor.

Selain itu, stabilitas nilai tukar rupiah, kebijakan Bank Indonesia, serta arah suku bunga global juga akan mempengaruhi minat investor terhadap sektor perbankan ke depan.

Dari sisi timing, Hendra menilai saham perbankan mulai kembali menarik ketika tekanan jual asing melandai, indeks saham mampu bertahan di atas level support kunci, serta muncul indikasi akumulasi bertahap pada saham-saham bank besar. 

Kondisi ketika harga saham mampu bertahan atau menguat di tengah aksi jual asing kerap menjadi sinyal awal terbentuknya dasar pemulihan.

Secara selektif, ia menilai sejumlah saham bank menarik untuk dicermati. BBCA dinilai menunjukkan ketahanan yang kuat dengan dukungan fundamental solid dan likuiditas tinggi, dengan target harga di kisaran Rp 8.000. 

BBRI juga tetap menarik sebagai cerminan pemulihan ekonomi domestik dan segmen mikro dengan target Rp 4.000. BMRI menawarkan eksposur ke sektor korporasi dan infrastruktur dengan target Rp 4.800, sementara BBNI berpeluang mengalami re-rating seiring perbaikan kinerja dan transformasi bisnis dengan target Rp 4.600.

Baca Juga: BNI (BBNI) Gelar RUPS Tahun Buku 2025 Secara Daring pada 9 Maret 2026,

Meski demikian, Hendra mengingatkan volatilitas pasar masih berpotensi tinggi dalam jangka pendek. Oleh karena itu, strategi masuk bertahap disertai disiplin manajemen risiko tetap menjadi kunci bagi investor.

Secara keseluruhan, pelemahan saham perbankan saat ini dinilai sebagai fase penyesuaian akibat tekanan eksternal dan ketidakpastian kebijakan, bukan perubahan arah fundamental.

Dengan fondasi bisnis yang masih solid serta kebijakan yang mengarah pada peningkatan transparansi dan tata kelola pasar, sektor perbankan berpeluang kembali menjadi motor pemulihan pasar saham Indonesia seiring pulihnya kepercayaan investor.

Selanjutnya: Pegadaian: Transaksi Emas Rp 8,5 Triliun Awal Januari 2026, Minat Masyarakat Melonjak

Menarik Dibaca: Hasil Thailand Masters 2026, 12 Wakil Indonesia Melaju ke Perempatfinal

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News