Saham Bank Syariah Kurang Bertenaga Meski Potensi Besar



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Potensi perbankan syariah di Indonesia kerap kali digadang-gadang memiliki masa depan yang menjanjikan. Meski demikian, kinerja saham dari bank-bank syariah ini tak cukup bertenaga.

Dari empat emiten bank syariah yang tercatat, hanya PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) yang masih mencatatkan pertumbuhan sepanjang tahun berjalan. Harga BRIS ada di level Rp 1.640 per saham pada penutupan pasar 7 September 2023, atau naik 27,13% year to date (ytd).

Penurunan paling dalam terjadi pada PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) yang harganya turun 29,21% ytd atau senilai Rp 1.975 per saham. Disusul oleh PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK) yang turun 16,96% atau Rp 1.175 per saham.


Memang, BSI menjadi salah satu emiten bank syariah yang sedang memiliki sentimen positif. Hal ini terkait kabar masuknya investor asing ke bank syariah milik negara tersebut.

Baca Juga: BSI Perkuat Posisi di Bisnis Ekosistem Haji dan Umrah

Terbaru, Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengungkapkan bahwa bank tersebut akan melakukan aksi korporasi. Oleh karenanya, bank syariah terbesar di Indonesia ini harus melakukan audit laporan keuangan kembali.

“Harus diaudit karena ada rencana divestasi gitu, pemegang saham yang divestasi ya, bukan kita,” ujar Hery saat ditemui, Rabu (6/9).

Sementara itu, Hery enggan berkomentar terkait rencana masuknya investor asing yang digadang-gadang bakal menggantikan posisi BNI dan BRI yang bakal melakukan divestasi. Menurutnya, itu adalah ranah pemegang saham.

 
BRIS Chart by TradingView

“Gak tau saya, tanya pemegang saham saja,” ujarnya.

Seperti diketahui, Kementerian BUMN sudah memutuskan BRI dan BNI akan melakukan divestasi sahamnya di BSI. Kabarnya, aksi tersebut menjadi pintu masuk bagi investor baru masuk menjadi pemegang saham BSI.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Fajar Dwi Alfian melihat terkait rencana divestasi pada saham BSI tersebut akan menambah kekuatan yang sama dengan bank-bank konvensional. Misal, dari sisi kompetitifnya yang bisa mendorong kinerja saham-saham tersebut.

Baca Juga: Bos BSI Beberkan Alasan Bank Syariah Indonesia (BRIS) Belum Serahkan Laporan Keuangan

Dalam hal ini, ia menilai aksi korporasi tersebut akan membuat modal BRIS bertambah besar untuk jangka panjang. Sebab, ia menilai modal dibutuhkan oleh bank syariah agar bisa lebih besar dari segi aset maupun kinerjanya dan menyusul bank konvensional.

“Selama ini likuiditas sahamnya kecil dan investor masih belum banyak yang tahu model bisnisnya seperti apa,” ujar Fajar.

Ia berpendapat secara prospek, bank syaria ini sebetulnya masih cukup menarik terlebih dalam jangka panjang. Mengingat, Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia.

Editor: Noverius Laoli