Saham Bank Tertekan di Akhir Pekan, Ini Sentimen Pekan Depan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham-saham perbankan menjadi salah satu penopang penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal pekan, namun berbalik tertekan menjelang akhir pekan. Pada perdagangan Jumat (24/7), IHSG kembali melemah dan sejumlah saham bank besar masih berada di zona merah. Per Jumat (24/7/2026), BBCA berada di level Rp 6.275 per saham, BBRI turun 1% menjadi Rp 2.960, BMRI terkoreksi 5,71% menjadi Rp4.130, BBNI turun 2,22% menjadi Rp 3.520, dan BBTN melemah 4,37% menjadi Rp 1.205 per saham. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, saham-saham perbankan bergerak cukup fluktuatif sepanjang pekan ini. Menurutnya, sektor perbankan sempat menjadi salah satu penopang utama IHSG setelah investor merespons positif keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI-Rate di level 5,75%. "Investor merespons positif keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan BI-Rate di level 5,75%. Keputusan tersebut memberikan kepastian terhadap prospek stabilitas suku bunga dan kualitas aset perbankan," ujar Nafan kepada Kontan, Jumat (24/7/2026).

Baca Juga: Kredit Bank Saqu Tumbuh 37,4% di Juni 2026, Nasabah Digital Tembus 3,8 Juta Namun, setelah mengalami penguatan sebelumnya, saham-saham bank besar berbalik melemah akibat aksi profit taking. Tekanan juga datang dari investor asing yang masih cenderung melakukan net sell di pasar saham Indonesia. Menurut Nafan, pelemahan tersebut lebih mencerminkan faktor teknikal dan rotasi sektor dibandingkan perubahan fundamental. Fundamental perbankan masih relatif solid, ditopang pertumbuhan kredit yang positif, kualitas aset yang terjaga, serta ekspektasi pertumbuhan laba. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan mengatakan, pergerakan saham perbankan pada pekan ini cenderung mixed dan mulai melemah setelah menguat cukup tinggi dalam beberapa pekan terakhir. Menurutnya, penguatan sebelumnya ditopang valuasi saham bank yang relatif murah, ekspektasi perbaikan kinerja semester I-2026, serta Rupiah yang mulai stabil di bawah Rp18.000 per dolar AS. Keputusan BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75% turut menjadi sentimen positif karena mengurangi risiko kenaikan cost of fund dan perlambatan kredit. Namun, Ekky menilai kenaikan saham bank sebelumnya lebih banyak bersifat technical rebound sehingga aksi realisasi keuntungan dinilai wajar terjadi. "Namun, kenaikan saham bank sebelumnya memang masih lebih banyak bersifat technical rebound. Jadi, setelah mengalami kenaikan cukup signifikan dari area terendah, wajar apabila terjadi aksi realisasi keuntungan," ujar Ekky kepada Kontan, Jumat (24/7/2026). Memasuki pekan depan, Ekky memperkirakan saham perbankan masih bergerak fluktuatif. Meski demikian, prospek fundamental sektor perbankan masih cukup positif seiring pasar yang mulai mencermati laporan kinerja semester I-2026. Kinerja Bank Mandiri menjadi salah satu sinyal awal yang positif, dengan laba bersih konsolidasi tumbuh 24,4% menjadi Rp30,4 triliun. Sementara itu, kredit bank only meningkat 19,9% menjadi Rp 1.592 triliun, meski penurunan net interest margin (NIM) masih perlu dicermati. Selain kinerja emiten, investor juga perlu mencermati sentimen eksternal pada pekan depan. Rapat The Federal Reserve pada 28–29 Juli 2026 menjadi salah satu agenda utama, terutama terkait arah suku bunga AS dan risiko inflasi. Harga minyak mentah Brent yang kembali menembus US$ 100 per barel juga menjadi perhatian pasar. Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi, mendorong kenaikan yield global, serta menekan Rupiah dan aliran dana asing ke pasar negara berkembang. "Jadi, selama Rupiah mampu bertahan di bawah Rp 18.000, harga minyak tidak terus meningkat, dan investor asing kembali mencatatkan pembelian bersih, saham perbankan masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan. Sebaliknya, apabila harga minyak terus naik dan Rupiah kembali melemah, investor berpotensi kembali melakukan rotasi ke sektor berbasis komoditas," katanya. Untuk rekomendasi, Ekky menyarankan Trading Buy atau Buy on Weakness untuk BBCA dengan target Rp6.800–Rp7.000 per saham. Sementara BMRI direkomendasikan Trading Buy atau Buy on Weakness dengan target Rp4.800–Rp5.000 per saham. Adapun BBRI direkomendasikan Trading Buy dengan target Rp3.200–Rp3.300 per saham. BBCA dinilai lebih defensif berkat struktur dana murah dan kualitas aset yang terjaga, sedangkan BBRI masih menarik dari sisi valuasi dan peluang pemulihan kinerja. Meski demikian, BBRI memiliki risiko lebih tinggi karena sensitif terhadap kualitas kredit segmen mikro dan kenaikan cost of credit.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News