Saham BBCA, BMRI dan BBRI Berpeluang Pulih, Cermati Rekomendasi Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah pergerakan saham bank besar (big banks) yang cenderung bervariasi, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi pilihan akumulasi beli.

Sementara itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) direkomendasikan untuk ditambah secara bertahap.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai, saham-saham big banks masih memiliki peluang pemulihan secara bertahap.


Baca Juga: Saham Big Banks Kompak Melemah Sepekan, Simak Sentimen dan Rekomendasi Analis

Prospek tersebut didukung fundamental perbankan besar yang relatif kuat, mulai dari permodalan, kualitas aset, hingga kemampuan menghasilkan pendapatan berbasis komisi atau fee-based income melalui layanan digital.

Nafan merekomendasikan akumulasi beli saham BBCA dengan target harga Rp 6.775 per saham dan BMRI dengan target Rp 5.375 per saham. Adapun BBRI mendapat rekomendasi add dengan target harga Rp 3.360 per saham.

Menurut Nafan, peluang pemulihan saham perbankan akan semakin terbuka apabila stabilitas makroekonomi domestik membaik dan tekanan arus keluar dana asing mulai mereda.

"Secara fundamental, perbankan besar masih memiliki daya tahan relatif baik," ujar Nafan kepada Kontan.co.id, Senin (2/11/2026).

Rekomendasi tersebut muncul di tengah pergerakan saham big banks yang belum seragam. Pada penutupan perdagangan Senin (2/11/2026), BBRI menguat 0,71% ke level Rp 2.820 per saham. BBCA stagnan di level Rp 4.980 per saham.

 
BBRI Chart by TradingView

Sebaliknya, BBNI melemah 0,90% ke level Rp 3.290 per saham, sedangkan BMRI turun 0,54% ke level Rp 3.700 per saham.

Baca Juga: Saham Big Banks Kompak Melemah (29/10), Asing Ramai-ramai Jual Saham, BBCA Terparah

Secara mingguan, BBRI masih terkoreksi 3,78% dan BBNI turun 4,03%. BMRI juga melemah 4,86%. Hanya BBCA yang mencatatkan kenaikan sebesar 1,72% dalam sepekan terakhir.

Nafan menilai, pergerakan yang bervariasi tersebut mencerminkan sikap wait and see investor terhadap prospek perbankan domestik.

Investor masih mempertimbangkan kombinasi sentimen eksternal dan domestik, terutama arus modal asing, pergerakan rupiah, serta ekspektasi arah suku bunga Bank Indonesia (BI).

Selain faktor makroekonomi, selektivitas investor juga dipengaruhi perbedaan fundamental masing-masing bank.

Kualitas aset, pertumbuhan kredit, kemampuan menjaga margin bunga bersih (net interest margin/NIM), serta pengendalian biaya pencadangan menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi prospek saham perbankan.

Untuk perdagangan pekan ini, investor perlu mencermati sejumlah katalis. Salah satunya implementasi kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mengecualikan saham kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai 2 November 2026.

Perkembangan arus dana asing juga menjadi perhatian. Meredanya tekanan jual asing dan kembalinya akumulasi dana ke saham perbankan berkapitalisasi besar berpotensi mendorong pemulihan harga.

Baca Juga: Saham Big Bank Bergerak Variatif di Sesi Pertama, Buyback Jadi Sentimen Penopang

Selain itu, stabilitas rupiah dan arah kebijakan moneter global akan memengaruhi ruang BI dalam menjaga keseimbangan stabilitas ekonomi dan pertumbuhan kredit.