KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham dari PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) semakin menarik untuk dilirik. BBTN belum lama ini telah mengeluarkan laporan kinerja untuk kuartal I-2026. BBTN pada penutupan perdagangan hari ini, Kamis (16/4/2026), berada di harga Rp 1.335 per saham. Harga BBTN terhitung turun 0,74% dibandingkan perdagangan kemarin. Jika ditarik dalam waktu sepekan, harga BBTN sebenarnya meningkat sebesar 3,09%. Kalau ditarik lebih jauh lagi dalam waktu satu bulan, harga BBTN naik 5,95%.
Untuk diketahui, BBTN baru saja menyampaikan laporan keuangannya untuk periode kuartal-1 2026. BBTN mencatat laba bersih sebesar Rp 1,1 triliun, melesat 22,6% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga: Pengguna Bale by BTN Tembus 4 Juta Pengguna pada Kuartal I-2026 Perolehan tersebut
salah satunya ditopang oleh pendapatan bunga bersih atau net interest income perseroan yang tumbuh 13% yoy menjadi Rp 4,26 triliun dari Rp 3,77 triliun di periode sama tahun sebelumnya. Senior market analys dari Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menyebut, kinerja positif BBTN ini didukung oleh sektor pembiayaan perumahan yang masih terbukti bertumbuh tahun ini. "Keberpihakan BBTN pada perumahan memiliki multiplier effect yang besar, tidak hanya bagi penghuni rumah namun juga bagi perekonomian nasional," kata Nafan saat dihubungi, Kamis (16/4/2026).
Baca Juga: OJK Mau Hapus Informasi Kredit Kecil di SLIK, BTN: Faktor Kelayakan Debitur Banyak Nafan menyebut sektor perumahan sebagai sektor padat modal yang membutuhkan tenaga kerja domestik, baik dari pengembang hingga pekerja konstruksi termasuk tukang bangunan. Sebab itu, pertumbuhan sektor perumahan akan mendukung perekonomian Indonesia. Tentu, pertumbuhan di sektor ini akan berpengaruh besar juga untuk pergerakan saham BBTN.
Bagi investor yang tertarik untuk mengakumulasi BBTN, Nafan menilai ini adalah saat yang baik untuk mulai membeli sedikit demi sedikit. Nafan menyebut harga take profit (TP) atau ambil untung untuk saham BBTN ada di kisaran Rp 1.570. Untuk diketahui, BBTN terakhir kali mencapai titik harga tersebut pada tahun 2024.
Baca Juga: BTN Genjot Penjualan Aset Buruk, Raup Recovery Income Rp 800 Miliar per Tahun Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News