KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan saham perbankan masih beragam di tengah tekanan jual investor asing. Di tengah kondisi tersebut, aksi pembelian kembali saham (buyback) sejumlah emiten bank diharapkan dapat menopang harga saham, meski efektivitasnya tetap bergantung pada kondisi pasar dan fundamental masing-masing bank. Saham bank-bank besar milik negara atau Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) kompak melemah pada penutupan sesi I, Selasa (27/10/2026). Sebaliknya, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menguat menjelang paparan kinerja keuangan pada sore ini. Pada sesi pertama, saham BBCA sukses menguat 0,40% ke Rp 4.960. Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah 0,69% ke Rp 2.890. Setali tiga uang, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga terkontraksi 0,86% ke Rp 3.440 dan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun paling dalam setelah anjlok 1,53% ke Rp 3.850 per saham. Baca Juga: OttoDigital Perkuat Layanan Kasir Digital Lewat HelloBill Adapun investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) pada sesi I hari ini, yakni sebesar Rp 578,30 miliar. BMRI jadi saham yang paling banyak dijual asing senilai Rp 153,43 miliar. Disusul BRIS sebesar Rp 71,72 miliar dan BBCA senilai 65,40 miliar. BBRI sebesar Rp 32 miliar dan BBNI sebesar Rp 28,21 miliar. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, buyback dapat membantu menjaga kepercayaan investor di tengah volatilitas pasar saham. “Buyback dapat membantu menopang harga saham melalui peningkatan permintaan, terutama ketika perusahaan membeli sahamnya di pasar reguler,” ujar Nafan kepada Kontan, Selasa (27/20/2026). Meski demikian, dampak buyback terhadap harga saham tidak serta-merta bersifat permanen. Efektivitasnya bergantung pada besaran dana yang digunakan, realisasi pembelian saham, serta kondisi pasar secara keseluruhan. Dari sisi fundamental, saham perbankan masih menarik untuk dicermati secara selektif. Investor perlu memperhatikan kekuatan permodalan, kualitas aset, likuiditas, serta prospek pertumbuhan kredit dan laba masing-masing bank. Di sisi lain, kenaikan biaya dana, potensi peningkatan kredit bermasalah, dan tekanan margin bunga bersih masih menjadi tantangan bagi industri perbankan. Nafan mengatakan, investor sebaiknya tidak hanya menjadikan aksi buyback sebagai dasar keputusan investasi. Valuasi saham, prospek laba, serta kemampuan bank menjaga kinerja di tengah kondisi pasar yang bergejolak juga perlu menjadi pertimbangan.
BBNI Chart by TradingView