KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Saham perbankan khususnya big banks melemah pada perdagangan hari ini (8/7/2026). Pelemahan ini terjadi di tengah sentimen masuknya Indonesia ke dalam daftar pantau (watchlist) S&P Dow Jones Indices. Di mana, PT Bank Negara Indonesia Tbk (
BBNI) menjadi saham dengan pelemahan terdalam di antara saham big banks setelah ditutup melemah 2,59% ke level Rp 3.380 per saham pada Rabu (8/7/2026). Disusul, saham PT Bank Mandiri Tbk (
BMRI) yang ditutup turun 2,46% ke Rp 3.970 per saham. Lalu PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (
BBRI) yang ditutup melemah 2,45% ke Rp 2.790 per saham.
Sedangkan penutupan saham bank paling mini terjadi pada PT Bank Central Asia Tbk (
BBCA) yang sudah ditutup turun 1,98% ke Rp 6.175 per saham.
Baca Juga: Merger Empat MI BUMN Berpotensi Lahirkan Raksasa Baru Industri Reksadana Analis Senior Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, pelemahan saham perbankan dipengaruhi aksi ambil untung (
profit taking) setelah sebelumnya menguat. Pelemahan yang terjadi lebih mencerminkan penyesuaian portofolio investor dibandingkan perubahan pada fundamental. "Masuknya Indonesia ke dalam watchlist S&P Dow Jones Indices memang menjadi sentimen yang membuat pelaku pasar lebih berhati-hati. Namun, tekanan terhadap saham bank masih relatif terbatas dan lebih mencerminkan aksi penyesuaian portofolio," ujarnya kepada Kontan, Rabu (8/7/2026). Nafan menjelaskan, apabila terdapat saham bank yang turun lebih dalam dibandingkan saham sejenis (
peers), kondisi tersebut umumnya dipengaruhi tingginya kepemilikan investor asing dan besarnya kapitalisasi pasar. Alhasil, saham-saham tersebut lebih sensitif terhadap perubahan sentimen global maupun aliran dana asing. Menurutnya, keputusan S&P DJI memasukkan Indonesia ke dalam
watchlist menunjukkan masih adanya sejumlah aspek yang menjadi perhatian terkait struktur dan aksesibilitas pasar modal Indonesia. "Investor asing kemungkinan masih mengambil sikap
wait and see sambil mengevaluasi implikasi masuknya Indonesia ke dalam
watchlist," jelasnya. Meski demikian, investor asing tidak hanya menjadikan satu penyedia indeks sebagai acuan. Mereka juga mempertimbangkan perkembangan reformasi pasar modal, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia, arah kebijakan suku bunga global, pergerakan nilai tukar rupiah, hingga kinerja fundamental emiten. Karena itu, arus dana asing dalam jangka pendek masih berpotensi berfluktuasi. Sementara itu, keputusan investasi jangka panjang akan sangat bergantung pada keberhasilan regulator dalam melanjutkan reformasi pasar modal.
"Apabila harga saham kembali mengalami tekanan, fokus utama perbankan kemungkinan tetap diarahkan pada penguatan fundamental bisnis, seperti menjaga pertumbuhan kredit yang berkualitas, memperbaiki efisiensi operasional, mempertahankan kualitas aset, serta menjaga profitabilitas. Langkah-langkah tersebut merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam membangun kembali kepercayaan investor," jelasnya. Di sisi lain, Nafan bilang, program buyback juga dapat menjadi instrumen untuk membantu menjaga stabilitas harga saham sekaligus memberikan sinyal bahwa manajemen menilai valuasi saham berada pada level yang menarik. Namun, efektivitas buyback tetap bergantung pada besarnya tekanan pasar dan kondisi likuiditas. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News