KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
Harga saham perbankan yang terus melemah menimbulkan pertanyaan, apakah valuasi harga yang murah benar-benar bisa dimanfaatkan sebagai momentum masuk oleh investor? Hingga akhir perdagangan Rabu (4/11/2026), PT Bank Central Asia Tbk (
BBCA) berada di level Rp 4.930, sudah susut 38,95% sejak awal tahun. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (
BBRI) turun 26,5% ytd ke Rp 2.690. Koreksi juga dialami saham PT Bank Mandiri Tbk (
BMRI) sebesar 29,41% ytd ke Rp 3.600 dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (
BBNI) sebesar 27,46% ytd ke Rp 3.170. Sementara itu, saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (
BBTN) melemah 27,66% ytd ke Rp 850 dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (
BRIS) terkoreksi hingga 52,47% ytd ke Rp 1.060.
Dalam kalkulasi Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta, level harga saham perbankan saat ini sudah murah dibanding valuasi masa lalunya.
Baca Juga: JTrust Bank Siapkan Ex Bankir BNI Jadi Dirut Baru, Simak Profilnya Jika dibandingkan harga bukunya, Nafan bilang price to book value (PBV) wajar BBCA ada di 2,5–3x, BMRI dan BBRI di 1,4–1,7x, BBNI di 0,9–1,2x, BBTN di kisaran 0,33x, dan BRIS di kisaran 0,96x. Namun, ia melihat saat ini pasar mulai memberikan diskon yang lebih besar. “Beberapa saham bahkan sudah diperdagangkan mendekati atau di bawah nilai bukunya,” ujar Nafan kepada Kontan, Rabu (4/11/2026). Menurutnya, itu tak lepas dari meningkatnya persepsi risiko terhadap perekonomian domestik, ketidakpastian fiskal, tekanan nilai tukar rupiah, serta perkembangan geopolitik global. Tim riset KISI memiliki pandangan serupa, dengan kalkulasi rata-rata PBV saat ini BBCA ada di level 2,2x, BMRI di 1,1x, BBRI di 1,2x, dan BBNI di bawah 1x. Padahal, dengan memperhitungkan biaya ekuitas kisaran 12,5%–15%, PBV wajar BBCA ada di 1,8–2,1x, BMRI di 1,5–1,6x, BBRI di 1,3x, dan BBNI di 0,9x. Artinya, BBCA sudah dekat dengan nilai wajarnya, sementara BMRI dan BBRI masih terdiskon. KISI memandang diskon harga ini memang tak terhindarkan sebab biaya modal sudah naik. Dengan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun yang mencapai 7,7%, investor tentu menuntut imbal hasil saham yang lebih tinggi. Di luar itu, diskon harga juga diperparah oleh aksi jual asing terkait MSCI, tekanan margin bunga, kekhawatiran kualitas aset, penugasan program pemerintah ke bank milik negara (Himbara), serta rasio dividen yang mulai dipangkas. Meski begitu, Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya melihat sebenarnya fundamental perbankan besar masih relatif solid, didukung pertumbuhan kredit, permodalan yang kuat, dan profitabilitas yang sehat.
Baca Juga: Suku Bunga Tinggi, Ini Strategi Bank Genjot Pendapatan Bunga Hanya saja, memang, tekanan likuiditas, kenaikan biaya dana, serta meningkatnya cost of equity akibat ketidakpastian makroekonomi dan pelemahan rupiah turut membatasi potensi ekspansi valuasi. Secara umum Andrey melihat PBV historis masih relevan sebagai pembanding, tetapi sebaiknya tak dijadikan satu-satunya acuan harga wajar. Sebab, PBV pada setiap masa memiliki katalis tersendiri. Sebelumnya, valuasi premium yang sempat dinikmati perbankan didukung oleh kondisi likuiditas, suku bunga, dan persepsi risiko yang berbeda. “Dalam kondisi saat ini, ketika suku bunga relatif tinggi dan premi risiko pasar meningkat, sulit mengharapkan saham perbankan kembali diperdagangkan pada PBV puncaknya dalam waktu dekat,” jelas Andrey. Menurutnya penentuan harga wajar sebaiknya menggunakan pendekatan
forward PBV yang dikaitkan dengan sustainable ROE, cost of equity, dan prospek pertumbuhan laba. Bank dengan ROE tinggi, kualitas aset terjaga, serta struktur pendanaan yang kuat tetap layak memperoleh valuasi premium. Sebaliknya, bank dengan profitabilitas lebih rendah atau risiko kredit lebih tinggi seharusnya diperdagangkan pada valuasi yang lebih konservatif. RHB Sekuritas masih mempertahankan outlook
overweight terhadap sektor perbankan, dengan preferensi pada bank yang memiliki fundamental kuat dan valuasi menarik. Dalam jangka pendek, stabilisasi rupiah, penurunan premi risiko, dan pemulihan aliran dana asing menjadi katalis penting bagi rerating saham big banks.
Baca Juga: Batavia Dana Kas Gebyar Cetak Return 8,16% YTD, Ini Strategi BPAM KISI melihat level harga saat ini membuat saham perbankan sudah layak diakumulasi bertahap dengan mengantisipasi tekanan asing. BBCA dianggap cocok sebagai jangkar portofolio, sementara BMRI memiliki potensi pemulihan terbesar karena diskonnya paling besar padahal ROE tetap tinggi. Nafan juga merekomendasikan akumulasi beli BRIS. Setelah resmi menjadi BUMN, Nafan bilang BRIS memiliki potensi penguatan posisi di ekosistem perbankan nasional yang besar. Secara keseluruhan, ia melihat peluang valuation re-rating sektor perbankan apabila likuiditas domestik membaik, tekanan biaya dana mereda, dan pertumbuhan laba semakin solid. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News