Saham Big Banks Kian Tertekan Aksi Net Sell Asing, Cermati Rekomendasi Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham bank berkapitalisasi besar atau big banks kembali tertekan pada penutupan perdagangan Rabu (24/6/2026), meski MSCI mempertahankan status Indonesia sebagai emerging market dalam hasil evaluasi terbarunya.

Tekanan jual terjadi merata pada saham-saham perbankan jumbo. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) memimpin pelemahan dengan turun 3,64% ke level Rp 3.970 per saham.

Walau demikian pada pembukaan perdagangan, sahamnya sempat dibuka menguat di level Rp 4.130 per saham. Dalam sepekan terakhir, saham BMRI telah terkoreksi 11,58%.


Pelemahan juga terjadi pada saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang turun 3,21% ke level Rp 3.320 per saham. Pada pembukaan perdagangan sahamnya dibuka di level Rp 3.430. Secara mingguan, saham BBNI telah anjlok 12,63%.

Baca Juga: Saham Big Banks Menguat Meski Sebagian Masih Dilego Asing, Simak Rekomendasi Analis

Sementara itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah 3,44% menjadi Rp 2.810 per saham dan terkoreksi 8,77% dalam sepekan terakhir.

Adapun saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 3,27% ke level Rp 5.925 per saham. Sahamnya dibuka di level Rp 6.125 dan selama sepekan sahamnya melemah 5,58%.

 
BBCA Chart by TradingView

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai pelemahan saham perbankan lebih banyak dipicu sentimen eksternal dan faktor makro ekonomi dibandingkan perubahan fundamental emiten.

Menurut Nafan, pelemahan nilai tukar rupiah menjadi faktor utama yang mendorong investor asing melakukan aksi jual.

"Ketika rupiah melemah, nilai aset investor asing dalam denominasi dolar AS otomatis menyusut sehingga mereka cenderung mengamankan modalnya terlebih dahulu," ujar Nafan kepada Kontan, Rabu (24/6/2025).

Selain itu, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) hingga 5,75% turut memunculkan kekhawatiran pasar terhadap prospek pertumbuhan kredit dan kualitas aset perbankan.

Baca Juga: Cermati Rekomendasi Saham Big Caps di Tengah Banjir Net Sell Asing

Menurutnya, pelaku pasar khawatir suku bunga yang tinggi dapat memperlambat penyaluran kredit sekaligus meningkatkan risiko kredit bermasalah (non-performing loan/NPL).

Di sisi lain, ketidakpastian global serta aksi ambil untung (profit taking) setelah reli saham perbankan dalam beberapa waktu terakhir juga menjadi faktor yang menekan harga saham sektor ini.

Meski demikian, Nafan menegaskan prospek jangka menengah hingga panjang sektor perbankan masih tetap solid.

"Tekanan yang terjadi saat ini lebih bersifat jangka pendek dan didorong faktor eksternal makro, bukan karena pelemahan fundamental emiten perbankan," katanya. 

Nafan menilai, koreksi harga saham saat ini justru membuat valuasi saham perbankan kembali menarik untuk strategi akumulasi bertahap.

Ia menyarankan perbankan terus mengoptimalkan margin bunga bersih (net interest margin / NIM) melalui penyesuaian suku bunga kredit secara selektif.