Saham Big Banks Kompak Melemah Jelang Pengumuman RDG BI Kamis (19/2/2026)



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Sejumlah saham emiten perbankan terutama big banks kompak melemah menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada hari ini, Kamis (19/2/2026).

Saham bank-bank berkapitalisasi besar seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), hingga PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) kompak susut pada perdagangan sesi pertama siang ini. 

Pada perdagangan sesi I hari ini, harga saham BBRI turun 0,78% ke level Rp 3.800 per saham. Adapun pada pembukaan perdagangan, sahamnya sempat menguat di level Rp 3.850 per saham.


Lebih lanjut, saham BBCA susut 0,37% ke level Rp 7.250 per saham. Pada pembukaan perdagangan sahamnya sempat dibuka menguat di level Rp 7.325 per saham. Harga saham bank pelat merah berikutnya yakni BBNI yang turun 20 poin atau 0,45% ke level Rp 4.470 per saham. BBNI sempat dibuka menguat di level Rp 4.520 pada perdagangan hari ini.

Baca Juga: 58,03% Dana Desa Akan Dialokasikan untuk Kopdes Merah Putih, Ini Respons Industri LKM

Penurunan terdalam terjadi pada kinerja saham BMRI yang terpantau berada pada level Rp 5.100 susut 175 poin atau 3,32%. BMRI sempat dibuka di level Rp 5.275 pada perdagangan hari ini.

Bank Indonesia (BI) diperkirakan kembali mempertahankan suku bunga atau BI-Rate di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Februari 2026.

Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo memperkirakan, alasan BI masih mempertahankan BI-Rate lantaran nilai tukar rupiah masih berpotensi tertekan, meskipun sudah mulai mereda.

Baca Juga: Dana Murah Makin Kuat, Bisnis Payroll BPD DIY Tumbuh 6%

Disisi lain, ia juga melihat yield differential atau selisih imbal hasil masih perlu dijaga agar surat berharga negara (SBN) tetap menarik di mata investor, dan beban bunga tidak terlalu tinggi.

“Untuk RDG bulan ini, kami melihat masih akan ditahan dengan potensi penurunan masih terbuka tetapi cenderung terbatas minimal sekali,” tutur Banjaran kepada Kontan, Selasa (18/2/2026).

Selanjutnya: Kinerja Cashlez Worldwide (CASH) Tertekan pada 2025, Simak Strateginya untuk 2026

Menarik Dibaca: Kerja Fleksibel Bukan Sekadar Tren, Ini Dampaknya bagi Pekerja

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News