KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham bank berkapitalisasi besar alias big banks kompak menguat di sesi pertama perdagangan bursa hari ini, Rabu (8/4/2026). Adapun penguatan terhadap harga saham big banks telah terjadi sejak perdagangan kemarin. Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (
BBNI) mengalami penguatan paling besar. Disusul oleh PT Bank Central Asia Tbk (
BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (
BBRI), dan PT Bank Mandiri Tbk (
BMRI). Keempat saham big banks kompak melesat naik sejak awal pembukaan perdagangan. Adapun keempat saham big banks telah mengalami tekanan harga sejak perdagangan beberapa pekan lalu.
Baca Juga: OJK Siapkan POJK Baru, Laporan Berkala Lembaga Penjamin Lebih Ketat Secara rinci, BBNI siang ini berada di level harga Rp 3.730 per saham atau naik 6,27% dibandingkan penutupan kemarin. BBNI juga sempat berada di Rp 3.740 yang merupakan titik harga tertingginya dalam perdagangan sepekan terakhir. Menyusul itu, harga saham BBCA saat ini ada di Rp 6.800 per saham atau naik 4,62%. Harga ini juga menjadi titik tertinggi BBCA dalam perdagangan sepekan. BBCA sebelumnya memang terus mengalami koreksi harga hingga sempat berada di titik paling rendah dalam 5 tahun terakhir. Sementara itu, harga saham BBRI ada di Rp 3.350 atau naik 3,72% dan harga saham BMRI ada di Rp 4.660 atau naik 3.33%. Analis Kiwoom Sekuritas, Adrian Djie, mengimbau para investor untuk tetap berhati-hati. Ia menyebut harga saham big banks di pekan ini akan dipengaruhi oleh beberapa sentimen, di antaranya adalah eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, isu MSCI dan lembaga pemeringkat, hingga tantangan makroekonomi. Adrian juga menyebut tren pelemahan nilai tukar rupiah akan menimbulkan sikap kehati-hatian dari investor asing untuk mengakumulasi saham Indonesia. Oleh sebab itu, Adrian memproyeksikan harga saham big banks di pekan ini belum akan melesat tinggi. "Menurut pandangan kami, pergerakan saham big banks di pekan ini masih berada dalam tekanan," kata Adrian kepada Kontan, Selasa (7/4/2026). Lebih lanjut, Adrian menyebut jika rupiah terus mengalami tekanan nilai tukar, maka Bank Indonesia (BI) sebagai regulator dapat mengambil langkah menaikkan BI-Rate untuk menjaga inflasi.
Baca Juga: Kredit Macet Berpotensi Naik Usai Lebaran, KB Bank Pasang Posisi Waspada Jika itu terjadi, maka laju penyaluran kredit perbankan akan semakin lambat dan rasio kredit bermasalah juga bisa naik. Dengan begitu, Adrian menilai pelemahan rupiah akan berdampak besar pada fundamental bank yang akhirnya akan berdampak pula pada harga sahamnya. "Investor asing kini semakin memperhitungkan risiko nilai tukar dalam setiap keputusan investasi mereka, sehingga dengan nilai tukar rupiah yang menembus Rp 17.000 per dollar AS akan turut berpotensi mendorong aksi
net sell asing," ujarnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News