Saham Big Banks Kompak Menguat Pasca BI-Rate Ditahan di 5,75%



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Keputusan Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75% membawa angin segar bagi saham bank-bank berkapitalisasi pasar jumbo alias big banks. 

Di akhir perdagangan Rabu (23/9/2026), empat big banks kompak parkir di zona hijau. Penguatan harga terbesar dalam sehari dicatatkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), yakni sebesar 1,61% menjadi Rp 6.300. 

Selanjutnya, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menguat 0,72% menjadi Rp 4.190, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) naik harga 0,56% ke Rp 3.590, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menguat 0,31% menjadi Rp 3.190. 


Baca Juga: Transaksi Pembayaran Digital Agustus 2026 Tembus 6,11 Miliar

Menurut Analis Kiwoom Sekuritas Kevin Yudha Pratama, keputusan bank sentral menahan BI-Rate merupakan katalis yang cenderung netral-positif untuk saham big banks dalam jangka pendek. 

“Karena setidaknya tidak ada tambahan pengetatan pada RDG kali ini,” ujar Kevin kepada Kontan, Rabu (23/9/2026). 

Namun begitu, menurutnya keputusan ini belum cukup menjadi katalis kenaikan lebih lanjut. Pasalnya, BI masih menempatkan stabilisasi rupiah sebagai prioritas di tengah tekanan eksternal yang tinggi. 

Dus, untuk jangka panjang, Kevin bilang stabilitas nilai tukar rupiah sendiri yang memainkan peran penting, di samping meredanya tekanan suku bunga global dan perbaikan arus dana asing di pasar saham. 

Dari sisi kinerja, BI-Rate yang tetap di 5,75% juga belum otomatis membuat tekanan biaya dana (cost of fund/CoF) mereda, sehingga tekanan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) belum sepenuhnya hilang. 

Sejatinya dampak NIM ini bakal berbeda antarbank, tergantung struktur pendanaan dan portofolio kredit yang dimiliki. Kevin melihat, BBCA dengan komposisi dana murah yang kuat relatif tahan banting di situasi ini, sementara BMRI masih bakal relatif tertekanan. 

Di sisi lain, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta memandang keputusan BI menahan suku bunga acuan cukup memberi kepastian terhadap struktur biaya dana. “Juga memberi bank ruang untuk menjaga stabilitas margin,” katanya 

Di luar itu, Nafan menyoroti keputusan BI menjalankan berbagai kebijakan makroprudensial yang akomodatif, termasuk insentif likuiditas. Menurutnya itu membuka ruang perbankan untuk meningkatkan penyaluran kredit. 

Dengan demikian, dalam pandangannya, level suku bunga saat ini berpotensi menjadi katalis bagi saham big banks, terutama apabila diikuti oleh pertumbuhan kredit yang sehat, perbaikan kualitas aset, serta stabilisasi cost of fund.

Ia juga melihat hal itu juga bisa menjadi lebih dari sentimen jangka pendek apabila mampu diterjemahkan menjadi perbaikan kinerja fundamental perbankan. 

Dalam artian, katalis awal memang berasal dari persepsi pasar terhadap stabilitas suku bunga dan likuiditas, tetapi penguatan yang lebih berkelanjutan akan sangat bergantung pada pertumbuhan kredit, NIM, kualitas aset, cost of credit, serta pertumbuhan laba. 

Namun begitu, Nafan mewanti agar investor tetap memperhatikan faktor eksternal. Tekanan terhadap rupiah dan kenaikan yield US Treasury dapat membuat investor asing tetap melakukan rebalancing dari emerging markets, termasuk Indonesia. 

Hal ini terlihat dari aksi net sell asing yang masih menyasar saham-saham big banks: pada periode 14–18 September 2026, BBCA mencatat net sell asing sekitar Rp 798 miliar dan BMRI sekitar Rp 443,2 miliar.  

“Oleh karena itu, keputusan BI untuk menahan suku bunga belum otomatis berarti foreign flow langsung berbalik menjadi net buy,” ujarnya. 

Saham pilihan Nafan jatuh kepada BBCA, BMRI, dan BBNI, masing-masing ditarget di Rp 7.900, Rp 4.720, dan Rp 4.020 per saham. Namun, target tersebut tetap perlu dievaluasi secara berkala mengikuti perubahan earnings, valuasi, suku bunga, nilai tukar, dan arus dana asing. 

Sementara itu, Kevin merekomendasikan buy untuk BBCA, BMRI, dan BBRI masing-masing di target harga Rp 8.075, Rp 5.400, dan Rp 4.000. 

Baca Juga: BCA Fasilitasi 5.000 Sertifikasi Halal UMKM

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News