Saham Big Banks Kompak Merosot Usai BI Rate Kembali Naik, Simak Rekomendasi Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 25 basis poin ke level 5,75% langsung memukul saham-saham perbankan pada penutupan perdagangan Kamis (18/6). 

Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) memimpin pelemahan dengan turun 3,90% ke level Rp 2.960 per saham. Secara year to date (YTD), saham BBRI telah terkoreksi 19,13%.

Sementara itu, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 3,19% ke level Rp 6.075 per saham dan telah melemah 24,77% sejak awal tahun. Adapun saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 1,84% ke level Rp 3.730 per saham dengan koreksi YTD mencapai 14,65%.


Baca Juga: OJK Batasi Kepemilikan Asing Fintech Jadi 85%, AFPI Mengaku Kesulitan Gaet Asing

Sedangkan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) relatif lebih tahan dengan penurunan 0,45% ke level Rp 4.470 per saham. Sepanjang tahun berjalan, saham BMRI tercatat turun 12,35%.

Seperti diketahui, BI kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75%. Pada saat yang sama, suku bunga Deposit Facility naik menjadi 4,75% dan Lending Facility menjadi 6,50%. Kenaikan tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak global akibat konflik Timur Tengah sekaligus menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5% ± 1%.

Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya menilai, kenaikan BI Rate memang meningkatkan tekanan terhadap industri perbankan melalui kenaikan biaya dana (cost of fund) dan potensi penyempitan margin bunga bersih (net interest margin/NIM).

Namun menurutnya, pasar sebenarnya sudah mengantisipasi siklus pengetatan moneter tersebut dalam beberapa bulan terakhir sehingga dampaknya terhadap valuasi saham bank tidak akan terlalu besar.

"Kenaikan BI Rate ke 5,75% memang menambah tekanan terhadap sektor perbankan, terutama melalui kenaikan cost of fund dan potensi penyempitan NIM. Namun kami melihat dampaknya terhadap harga saham bank relatif terbatas karena pasar telah mengantisipasi siklus pengetatan moneter sejak beberapa bulan terakhir," ujar Andrey.

Ia menjelaskan, pergerakan saham bank ke depan akan lebih dipengaruhi faktor fundamental, seperti pertumbuhan kredit, kualitas aset, stabilitas rupiah, hingga potensi kembalinya dana asing ke pasar domestik.

Selain itu, kebijakan penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) di perbankan domestik juga dinilai berpotensi memperkuat likuiditas industri perbankan.

Optimisme terhadap sektor perbankan juga ditopang oleh kinerja intermediasi yang masih kuat. Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit perbankan mencapai 11,51% secara tahunan (YoY) pada Mei 2026, lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang tumbuh 9,89% YoY.

Secara rinci, kredit investasi tumbuh 21,95% YoY, kredit modal kerja naik 8,09% YoY, dan kredit konsumsi meningkat 5,89% YoY. BI pun tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan kredit tahun ini pada kisaran 8%-12%.

Menurut Andrey, selama pertumbuhan kredit dan kualitas aset tetap terjaga, dampak kenaikan suku bunga terhadap valuasi saham bank biasanya hanya bersifat sementara.

"Pada beberapa siklus sebelumnya, harga saham bank lebih dipengaruhi oleh ekspektasi pertumbuhan laba, kualitas aset dan arah aliran dana asing dibandingkan perubahan suku bunga semata," katanya.

Dari sisi strategi investasi, Andrey masih menempatkan BBCA sebagai pilihan paling defensif di tengah ketidakpastian suku bunga.

Menurutnya, BBCA memiliki keunggulan pada struktur pendanaan yang sangat kuat dengan rasio dana murah (CASA) sekitar 85%, sehingga lebih tahan terhadap kenaikan biaya dana dibandingkan bank lainnya.

"Untuk kategori defensif, kami masih melihat BBCA sebagai pilihan utama mengingat struktur pendanaannya yang sangat kuat dengan CASA sekitar 85% dan kualitas aset terbaik di sektor perbankan," ujarnya.

Untuk investor yang lebih agresif, Andrey memilih BMRI, BBRI dan BBTN sebagai saham yang menarik untuk trading jangka pendek.

BMRI dinilai memiliki momentum pertumbuhan laba yang kuat dengan valuasi yang masih menarik. BBRI berpotensi memperoleh katalis positif apabila kualitas kredit mikro membaik, sedangkan BBTN memiliki prospek pertumbuhan laba tertinggi berkat akuisisi portofolio kredit pensiun dan perbaikan struktur pendanaan.

RHB Sekuritas juga tetap mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor perbankan dengan top picks BMRI, BBRI, BRIS dan BBTN. Sementara untuk investor konservatif, BBCA masih direkomendasikan beli (buy) dengan target harga Rp 8.650 per saham.

Adapun, Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, respons negatif pasar terhadap kenaikan BI Rate merupakan hal yang wajar. Pasalnya, investor khawatir terhadap potensi perlambatan pertumbuhan kredit dan peningkatan risiko kredit bermasalah.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa hubungan antara kenaikan suku bunga dan saham bank tidak selalu negatif.

"Pada fase awal pengetatan moneter, harga saham perbankan sering mengalami tekanan karena investor lebih fokus pada risiko perlambatan ekonomi. Namun setelah pasar melihat bahwa margin bunga tetap sehat dan rasio kredit bermasalah masih terkendali, valuasi biasanya mulai pulih," ujar Hendra.

Menurutnya, BBCA tetap menjadi bank paling defensif berkat dominasi dana murah. Sementara BBRI menawarkan potensi pemulihan lebih besar jika kualitas kredit mikro tetap terjaga.

BMRI dinilai memiliki fondasi bisnis yang kuat karena ditopang segmen korporasi dan komersial yang terdiversifikasi. Adapun BBNI disebut sebagai "kuda hitam" karena valuasinya relatif lebih murah dibandingkan bank besar lainnya.

Hendra menilai investor kini akan lebih fokus mencermati kemampuan bank menjaga NIM dan rasio kredit bermasalah (NPL) di tengah kenaikan biaya dana.

"Selama kedua indikator tersebut tetap sehat, sektor perbankan masih memiliki peluang menjadi salah satu penopang utama pasar modal Indonesia meskipun era suku bunga tinggi belum sepenuhnya berakhir," tutupnya.

Baca Juga: Rasio Klaim Asuransi Naik ke 41,5%, AAUI Ungkap Penyebabnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News