KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Telkom Indonesia Tbk (
TLKM) makin gencar memperkuat bisnis inti dengan menggelar divestasi entitas usaha. Terbaru, TLKM melepas AdMedika Group kepada Fullerton Health. Asal tahu saja, AdMedika merupakan perusahaan pengelola layanan administrasi kesehatan atau
third party administrator (TPA) yang menyediakan solusi manajemen klaim dan layanan kesehatan bagi korporasi dan institusi. VP Corporate Communication Telkom Andri Herawan Sasoko menjelaskan, langkah tersebut merupakan bagian dari penataan portofolio bisnis dalam implementasi strategi transformasi TLKM 30.
“Langkah ini dilakukan untuk memperkuat fokus TelkomGroup pada core business di sektor telekomunikasi dan layanan digital,” jelas dia saat dihubungi Kontan belum lama ini. Baca Juga: Saham Lapis Kedua Lesu di Awal 2026, Simak Prospek dan Rekomendasinya Dia bilang AdMedika memiliki potensi pertumbuhan yang kuat di industri kesehatan. Dengan bergabung bersama Fullerton Health, AdMedika diharapkan dapat mengakselerasi pengembangan bisnis. Ke depannya, kata Andri, TelkomGroup secara berkelanjutan melakukan penataan portofolio bisnis dan
streamlining sebagaimana diamanatkan oleh Danantara. Berbagai opsi akan dipertimbangkan oleh TLKM. “Melalui berbagai opsi strategis seperti merger, transfer bisnis, kemitraan strategis, maupun divestasi, tetapi rencana spesifik terkait entitas tertentu saat ini masih dalam tahap kajian komprehensif,” ucapnya. Andri menegaskan setiap langkah
streamlining dilakukan secara prudent dengan memastikan keselarasan terhadap
core business TelkomGroup sebagai perusahaan digital telco. Senior Equity Research Analyst Phillip Sekuritas Indonesia Edo Ardiansyah mengatakan ada potensi re-rating terhadap TLKM seiring dengan transformasi perusahaan menuju model
strategic infrastructure holding.
Phillip Sekuritas Indonesia memberikan rekomendasi beli TLKM dengan target harga di Rp 4.200 per saham. Ini didasarkan pada proyeksi valuasi 26026 dengan PE sebesar 19,3 kali, PBV 2,3 kali dan EV/EBITDA sebesar 4,6 kali. “Ini masih relatif menarik dibandingkan rata-rata historis dan perusahaan sejenis di kawasan, dengan adanya potensi
re-rating seiring transformasi menuju
strategic infrastructure holding,” jelas Edo. Menurutnya, profil
risk-reward tetap menarik, didukung oleh stabilisasi kinerja segmen seluler, monetisasi aset fiber melalui skema
open-access, serta komitmen yang kuat terhadap pembagian dividen. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News