Saham Bluechip Sudah Murah, Tapi Risiko Fundamental Tetap Membayangi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham-saham dengan likuiditas tinggi, khususnya yang tergabung dalam indeks LQ45, kembali menjadi perhatian investor setelah mengalami koreksi cukup dalam sepanjang tahun ini. 

Secara historis, sejumlah saham blue chip memang telah diperdagangkan pada valuasi yang lebih rendah dibandingkan rata-rata beberapa tahun terakhir. Cuma, murahnya valuasi belum tentu mencerminkan saham-saham tersebut sudah menarik untuk dikoleksi.

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, mengatakan penurunan valuasi, khususnya pada sektor perbankan, memang sudah cukup signifikan. Kondisi ini tercermin dari rasio price to book value (PBV) yang kini berada jauh di bawah level historisnya.


Baca Juga: Penurunan Harga Minyak hingga Insentif Impor LPG Bakal Untungkan Emiten Petrokimia

Tapi, penurunan valuasi tersebut belum sepenuhnya mencerminkan risiko fundamental yang dihadapi sektor perbankan saat ini.

"Jadi valuasi yang turun saat ini belum sepenuhnya mencerminkan risiko kondisi ekonomi yang dihadapi sektor perbankan. Ke depan, kondisi ekonomi masih berpotensi menekan pertumbuhan kredit (loan growth), memicu kontraksi net interest margin (NIM), meningkatkan rasio kredit bermasalah (NPL), serta mendorong kenaikan biaya provisi," kata Harry kepada Kontan, Rabu (2/7/2026).

Sementara itu, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menyampaikan secara umum valuasi saham-saham blue chip LQ45 saat ini sudah jauh lebih menarik dibandingkan rata-rata historis lima tahun terakhir. Dari data valuasi, sebagian besar emiten blue chip diperdagangkan dengan PER yang berada di bawah rata-rata historisnya.

Misalnya, BBCA diperdagangkan pada PER sekitar 11,9 kali, jauh di bawah rata-rata historisnya sekitar 17 kali. BBRI diperdagangkan pada PER sekitar 6,9 kali, lebih rendah dibandingkan rata-rata historisnya sebesar 9,9 kali. BMRI diperdagangkan pada PER sekitar 6,1 kali, di bawah rata-rata historisnya sekitar 8,2 kali.

Ini juga terlihat pada saham sektor nonperbankan. KLBF diperdagangkan pada PER sekitar 9,6 kali, jauh di bawah rata-rata historisnya sekitar 15,6 kali. CPIN diperdagangkan pada PER sekitar 7,8 kali dibandingkan rata-rata historisnya sebesar 15,1 kali. Sementara itu, ICBP diperdagangkan pada PER sekitar 8,7 kali, lebih rendah dari rata-rata historisnya sekitar 13,5 kali.

Artinya, dari sisi valuasi, banyak saham LQ45 sudah masuk kategori undervalued dibanding rata-rata historisnya. "Namun menurut saya, penyebab valuasi murah tersebut bukan semata karena harga saham sudah turun signifikan, melainkan kombinasi beberapa faktor," ucap Alrich. 

Sepanjang semester I-2026 investor masih menghadapi ketidakpastian global, mulai dari arah kebijakan suku bunga global, tensi geopolitik, hingga Foreign outflow dari indonesia. Dari sisi domestik, ketidakpastian kebijakan pemerintah dan ekspektasi pertumbuhan laba emiten yang lebih moderat juga membuat investor mempertimbangkan risk premium yang lebih tinggi.

Dus, pasar saat ini belum sepenuhnya confidence pada valuasi yang reatif murah meskipun fundamental perusahaan-perusahaan besar cenderung masih solid.

Saham Menarik

Jika melihat data historis, Alrich bilang beberapa sektor justru mulai menawarkan valuasi yang menarik. Yang paling menonjol adalah sektor perbankan, khususnya BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. Fundamental perbankan masih cukup baik dengan kualitas aset yang relatif terjaga serta profitabilitas yang masih tinggi.

Selain itu dirinya juga melihat peluang pada sektor consumer staples seperti ICBP, KLBF, INDF, poultry seperti CPIN dan JPFA serta telekomunikasi seperti TLKM.

Sebaliknya, terdapat beberapa saham yang sudah tidak lagi terlalu murah apabila dibandingkan dengan prospek labanya. Misalnya MAPI sudah sedikit berada di atas rata-rata PER historisnya.  ITMG juga mulai diperdagangkan di atas rata-rata historis, meskipun masih ditopang dividen yang tinggi. Saham-saham seperti AMMN, CUAN, maupun beberapa saham berbasis growth stocks) memang memiliki valuasi yang relatif tinggi, sehingga penilaiannya lebih didasarkan pada ekspektasi pertumbuhan jangka panjang dibanding valuasi historis. 

Adapun Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama juga menambahkan, investor sebaiknya menggunakan pendekatan yang lebih komprehensif untuk memutuskan saham pilihan. 

Untuk sektor perbankan, PBV dan ROE masih menjadi indikator utama karena mampu mencerminkan kualitas aset dan profitabilitas. Sementara untuk sektor non-keuangan, EV/EBITDA, pertumbuhan laba (earnings growth), "Serta free cash flow memberikan gambaran valuasi yang lebih akurat dibanding hanya mengandalkan PER," ujar Elandry.

Berdasarkan rekomendasi saham, Elandry memilih saham BBCA di target harga Rp9.000, BBRI Rp 4.800, BMRI Rp 5.800, TLKM Rp 3.300, ASII Rp5.800 per saham.

Baca Juga: Menakar Valuasi Saham-Saham Blue Chip, Benarkah Sudah Murah?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News