Saham BMRI, BBNI, BBCA Memerah di Sesi Siang, Kredit Tumbuh Tapi Likuiditas Tertekan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham bank berkapitalisasi besar hingga sesi siang perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) kompak memerah. Hingga pukul 11.59 WIB saham Bank Mandiri (BMRI) turun paling dalam melemah sebesar 0,73% di Rp 4.100. 

Pelemahan Bank Negara Inodnesia (BBNI) sebesar 0,57% di Rp 3.500 per saham. Saham Bank Central Asia (BBCA) turun 0,4% di Rp 6.250 per saham dan saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) tidak bergerak dari Rp 2.960 per saham. 

Secara fundamental, seperti pertumbuhan kredit masih menunjukkan akselerasi pada Juni 2026. Namun, di balik ekspansi pembiayaan yang semakin kuat, industri perbankan mulai menghadapi tantangan dari sisi likuiditas seiring pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang tertinggal dan meningkatnya persaingan perebutan dana.


Baca Juga: Inflasi Medis Berpotensi Mencapai 17,8%, Manulife Indonesia Siapkan Mitigasi

Analis Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nurkholis Syafruddin dalam riset 24 Juli 2026 mencatat penyaluran kredit perbankan tumbuh 12,1% secara tahunan dan meningkat 1,8% secara bulanan pada Juni 2026, mencapai Rp 8.917 triliun.

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kredit investasi yang melonjak 22,5% secara year on year (yoy). Sementara itu, kredit modal kerja tumbuh 9,6% yoy dan kredit konsumsi meningkat 5,7% yoy.

Di sisi lain, pertumbuhan simpanan belum mampu mengimbangi laju ekspansi kredit. Dana pihak ketiga hanya meningkat 8,1% YoY dan 0,2% MoM menjadi Rp9.719 triliun.

Kondisi tersebut mendorong rasio loan to deposit ratio (LDR) industri perbankan naik 327 basis poin (bps) secara tahunan dan 144 bps secara bulanan menjadi 91,7%. Level ini merupakan yang tertinggi sejak Juli 2020, ketika kondisi likuiditas perbankan sangat longgar akibat anjloknya permintaan kredit selama pandemi Covid-19.

"Pertumbuhan kredit yang terus melampaui pertumbuhan deposito membuat tekanan likuiditas meningkat, tercermin dari kenaikan LDR sistem ke level tertinggi dalam enam tahun terakhir," tulis Muhammad Nurkholis Syafrudin dalam risetnya.

Selain perlambatan pertumbuhan simpanan, struktur pendanaan perbankan juga mulai mengalami perubahan. Dana giro (current account) turun 4,1% secara bulanan, sementara tabungan dan deposito berjangka masing-masing meningkat 1,0% dan 3,6% MoM.

Akibatnya, rasio dana murah atau current account savings account (CASA) turun 116 bps secara bulanan menjadi 64,7%. Meski demikian, level tersebut masih lebih tinggi 62 bps dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga: Laba BMRI Naik 24,4%, Mirae Asset Tak Rekomendasi Soroti Risiko NIM dan Likuiditas

Mirae Asset memperkirakan pertumbuhan deposito berpotensi melambat lebih lanjut setelah kenaikan suku bunga acuan kumulatif 100 bps pada Mei dan Juni 2026. Kondisi ini diperkirakan meningkatkan kompetisi antarbank dalam menghimpun likuiditas dan berpotensi mendorong kenaikan biaya dana.

Tekanan tersebut dapat berlanjut terhadap margin bunga bersih alias net interest margin (NIM), terutama apabila kenaikan suku bunga kredit tidak mampu mengikuti kenaikan biaya pendanaan.

Menurut Nurkholis, dampak kenaikan suku bunga terhadap margin perbankan cenderung tidak simetris. Suku bunga deposito, khususnya deposito berjangka, biasanya mengalami penyesuaian lebih cepat karena bank harus bersaing mendapatkan likuiditas. Sementara itu, penyesuaian bunga kredit cenderung lebih lambat akibat tekanan kompetisi dan banyaknya kredit dengan bunga tetap atau penyesuaian berkala.

Tekanan tersebut mulai terlihat dalam laporan kinerja semester I 2026 sejumlah bank. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatat penurunan NIM masing-masing sebesar 85 bps dan 27 bps. Pada periode yang sama, LDR kedua bank meningkat masing-masing 401 bps menjadi 96,6% dan 214 bps menjadi 92,3%.

"Kami memperkirakan biaya pendanaan akan meningkat lebih cepat dibandingkan imbal hasil aset dalam beberapa kuartal ke depan, sehingga memberikan tekanan terhadap NIM sektor perbankan, terutama bagi bank dengan LDR tinggi dan ketergantungan besar pada deposito berjangka maupun pendanaan wholesale," jelas Nurkholis.

Menghadapi kondisi likuiditas yang semakin ketat, Mirae Asset menyarankan investor untuk tetap selektif dalam memilih saham sektor perbankan. Bank dengan basis dana murah kuat dan likuiditas lebih baik dinilai memiliki kemampuan lebih besar dalam mempertahankan margin.

Mirae Asset masih menyukai PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) karena keunggulan bisnis CASA, posisi likuiditas yang kuat, serta kemampuan menentukan harga (pricing power) yang lebih baik dalam lingkungan suku bunga tinggi.

Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Bank Pilihan Saat Kredit Perbankan Melonjak

Untuk kelompok bank BUMN, Mirae Asset lebih memilih PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) karena dinilai memiliki kemampuan yang relatif lebih baik dalam menyesuaikan imbal hasil kredit dibandingkan biaya pendanaan. Selain itu, tambahan pencadangan kerugian kredit setelah penerapan IFRS 9 dinilai dapat memperkuat perlindungan kualitas aset dan membuka peluang perbaikan biaya kredit.

Sebaliknya, Mirae Asset masih berhati-hati terhadap PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) karena mempertimbangkan tekanan likuiditas, keterbatasan modal, serta risiko biaya kredit yang masih membayangi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News