KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asing nampak aktif membeli saham perbankan pada perdagangan Kamis (5/2/2026). Berdasarkan data RTI, saham Bank Mandiri (BMRI) jadi saham paling banyak dibeli asing dengan nilai beli bersih Rp 390,1 miliar. Sementara asing di saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) tercatat net buy Rp 124,1 miliar. Saham bank besar alias big bank lain yang banyak dibeli asing adalah Bank Central Asia (BBCA) dengan nilai net buy Rp 75,3 miliar. Analis Maybank Sekuritas, Jeffrosenberg Chenlim dalam riset 4 Februari 2025 menyebut, kondisi likuiditas perbankan yang melimpah hingga akhir 2025 membuat pihaknya masih memasang outlook positif pada sektor saham perbankan. Dia menyebut, pertumbuhan sektor perbankan ke depan sangat ditentukan oleh seberapa cepat dan luas pemulihan permintaan kredit.
Baca Juga: Kinerja Bank Mandiri 2025: Laba Tumbuh, Kredit dan DPK Menguat "Kinerja penyaluran kredit tahun ini akan bergantung pada sejumlah faktor, mulai dari efektivitas penyaluran program pemerintah ke sektor riil, sejauh mana windfall komoditas mendorong aktivitas ekonomi yang lebih luas, hingga arah pergerakan suku bunga," ujar Jeffrosenberg. Dia memaparkan bank-bank dengan neraca keuangan yang kuat dan ketahanan laba yang baik lebih menarik, diantaranya BBCA, Bank Syariah Indonesia (BRIS), BBRI, BMRI, dan Bank Negara Indonesia (BBNI). Data Desember 2025 menunjukkan, pertumbuhan kredit sistem perbankan mencapai 9,7% secara tahunan (year-on-year/yoy) dengan kenaikan bulanan (month-on-month/mom) 3,3%, terutama didorong oleh kredit investasi yang melonjak 21% yoy. Namun, segmen lain masih tertinggal. Kredit modal kerja hanya tumbuh 4,5% yoy, sementara kredit konsumsi naik 6,4% yoy. Chenlim memperkirakan sebagian pertumbuhan kredit pada akhir 2025 berasal dari fasilitas kredit yang disalurkan ke Agrinas—perusahaan non-tercatat—untuk program koperasi desa, sehingga permintaan kredit riil masih belum merata. Kondisi konsumsi yang lemah serta penyaluran kredit ke UMKM kemungkinan masih akan berlanjut hingga paruh pertama 2026. Pemulihan kredit secara lebih menyeluruh masih bergantung pada peningkatan daya beli masyarakat dan kepercayaan dunia usaha. Likuiditas perbankan berbalik longgar pada kuartal IV 2025 setelah sempat mengetat di paruh pertama tahun tersebut, ditopang pertumbuhan dana pihak ketiga 13,8% yoy pada Desember 2025.
Baca Juga: Dividen Interim Rp 9,3 Triliun, Bank Mandiri Klaim Fundamental Masih Kuat Ditambah injeksi likuiditas Rp 200 triliun pada September 2025 dan siklus penurunan suku bunga sejak September 2024, likuiditas diperkirakan tetap melimpah hingga awal 2026. Hal ini tercermin dari rasio kredit terhadap simpanan (LDR) yang turun menjadi 85% pada Desember 2025 dari 88% pada Desember 2024. Jeffrosenberg memproyeksikan margin perbankan mulai stabil pada 2026 seiring penurunan biaya dana dan penyesuaian suku bunga kredit. Dengan LDR yang relatif rendah, bank dapat lebih selektif dalam menentukan suku bunga simpanan, sehingga ketergantungan pada pendanaan berbiaya tinggi berpotensi menurun. Selain itu, pergeseran bertahap pertumbuhan aset produktif ke arah kredit dapat mendukung pertumbuhan laba sektor perbankan. Meski demikian, besarnya dampak positif tetap akan bergantung pada kecepatan pemulihan permintaan kredit dan dinamika persaingan antarbank.
Adapun rekomendasi saham bank Maybank Sekuritas sebagai berikut :
- Saham BBCA direkomendasikan buy dengan target harga Rp 10.650 per saham
- Saham BBRI direkomendasikan buy dengan target harga Rp 4.900 per saham
- Saham BMRI direkomendasikan buy dengan target harga Rp 5.600 per saham
- Saham BBNI direkomendasikan buy dengan target harga Rp 4.850 per saham
- Saham BRIS direkomendasikan buy dengan target harga Rp 3.350 per saham
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News