Saham BMRI Menghijau Usai Rilis Kinerja Kuartal I-2026, Simak Rekomendasi Analis



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja saham PT Bank Mandiri (BMRI) menghijau setelah melaporkan kinerja keuangan perusahaan di kuartal I-2026.

Pada penutupan perdagangan bursa Selasa (21/4), saham BMRI naik 80 poin atau 1,73% ke level Rp 4.700 per saham. Namun pada pembukaan perdagangan, sahamnya terlihat memerah di level Rp 4.610 per saham.

Jika dilihat, selama sepekan sahamnya juga susut 0,21%, dan secara year to date (ytd) sahamnya terjun 7,84%.


Seperti diketahui, Bank Mandiri berhasil mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 15,4 triliun atau tumbuh 16,6% secara year on year (yoy) pada kurtal I-2026. Capaian ini salah satunya ditopang oleh pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) yang naik 11,1% mencapai Rp 21,17 triliun.

Penyaluran kreditnya juga mencapai Rp 1.530 triliun atau naik 17,4% secara tahunan pada kuartal I-2026.

Di sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) bank only tercatat sebesar Rp1.675 triliun atau meningkat 21,1% yoy, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan industri yang sebesar 13,2% pada periode yang sama.

Kualitas aset juga terjaga dengan rasio Non Performing Loan (NPL) gross bank only berada di level 0,98% atau membaik 3 bps yoy, didukung pencadangan yang memadai dengan NPL Coverage Ratio di level 245%.

Memasuki kuartal II-2026, Bank Mandiri memproyeksikan ekspansi kredit tetap tumbuh sejalan dengan industri.

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini menyampaikan, penyaluran kredit akan difokuskan ke sektor-sektor yang prospektif dan memiliki ketahanan tinggi, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.

Baca Juga: Pembiayaan Bank Syariah Kompak Naik di Kuartal I-2026, Segmen Konsumer Jadi Penopang

Di sisi lain, bank ini juga memperkuat dukungan terhadap ekonomi kerakyatan melalui akselerasi pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sekaligus mendukung berbagai program strategis pemerintah.

Dari sisi pendanaan, Bank Mandiri menargetkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) lebih tinggi dibandingkan kredit. Fokus utama diarahkan pada peningkatan dana murah (CASA) guna menjaga efisiensi struktur pendanaan dan likuiditas.

“LDR kami jaga agar tetap berada pada level yang sehat,” jelasnya saat paparan kinerja perseroan, Selasa (21/4/2026).

Untuk menjaga profitabilitas, margin bunga bersih (NIM) diproyeksikan stabil melalui penguatan ekosistem, akselerasi transaksi, serta optimalisasi komposisi portofolio.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama, mengatakan pertumbuhan kredit menjadi mesin utama (engine of growth) Bank Mandiri, khususnya dari segmen korporasi dan ritel.

Baca Juga: Pembiayaan Investasi CNAF Tumbuh 3% Jadi Rp 821 Miliar pada Kuartal I-2026

“Ekspansi kredit yang agresif, terutama di segmen korporasi dan retail, menjadi pendorong utama kinerja Bank Mandiri,” ujarnya.

Selain itu, fokus pembiayaan ke sektor-sektor strategis seperti hilirisasi, infrastruktur, serta sektor berbasis environmental, social, and governance (ESG) turut menopang pertumbuhan kredit perseroan.

Di sisi pendanaan, Bank Mandiri juga dinilai mampu menjaga efisiensi biaya dana (cost of fund) melalui penguatan dana murah (CASA). Hal ini didukung oleh optimalisasi platform digital seperti Livin’ by Mandiri dan Kopra by Mandiri yang mendorong peningkatan transaksi nasabah.

“Pendapatan non-bunga dari transaksi digital dan layanan perbankan lainnya juga tumbuh signifikan, sehingga membantu menjaga margin bunga bersih (NIM) tetap optimal,” jelasnya.

Dengan kombinasi tersebut, Nafan memperkirakan Bank Mandiri masih mampu mencatatkan pertumbuhan kredit double digit pada 2026, di kisaran 10% hingga 12%.

Ia menilai prospek tersebut didukung oleh masih ekspansifnya sektor manufaktur, terjaganya konsumsi domestik, serta dorongan pembiayaan pada proyek-proyek strategis nasional.

Baca Juga: Bank Mandiri Janji Tambahan Dana SAL Akan Disalurkan ke Sektor Produktif

Meski demikian, sejumlah tantangan tetap perlu diwaspadai. Ketidakpastian global, fluktuasi nilai tukar rupiah, serta persaingan likuiditas antarbank dalam menghimpun dana pihak ketiga (DPK) berpotensi menekan kinerja perbankan.

Selain itu, perbankan juga dituntut untuk tetap disiplin dalam menjaga kualitas aset, termasuk melalui pembentukan pencadangan (provisioning) yang memadai guna menekan rasio kredit bermasalah (NPL).

“Likuiditas perbankan memang semakin ketat dan persaingan DPK meningkat, sehingga bank harus tetap menjaga kualitas aset dan manajemen risiko,” tambahnya.

Seiring prospek kinerja yang masih positif, Nafan merekomendasikan saham BMRI dengan target harga Rp6.200 per saham dan rating accumulative buy.

Sementara itu, Managing Director Solstice Indonesia, Handiman Soetoyo, mengatakan kinerja solid Bank Mandiri pada awal tahun terutama ditopang oleh penurunan biaya dana (cost of fund) serta membaiknya kualitas aset.

“Cost of fund turun karena likuiditas meningkat, terutama setelah adanya suntikan dana pemerintah ke bank-bank BUMN pada akhir tahun lalu. Selain itu, beban provisi juga menurun seiring perbaikan kualitas aset,” ujarnya.

Perbaikan kualitas aset tercermin dari rasio kredit bermasalah (gross NPL) yang turun menjadi 0,98% pada kuartal I-2026, dari 1,01% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Ia juga mencatat, kinerja kuartal I-2026 Bank Mandiri telah melampaui konsensus pasar, dengan realisasi laba mencapai sekitar 27% dari target sepanjang tahun 2026.

Meski demikian, Handiman mengingatkan bahwa pertumbuhan kredit ke depan berpotensi melambat. Hal ini antara lain disebabkan oleh lonjakan kredit pada akhir 2025, khususnya ke sektor Agrinas, yang membuat basis pertumbuhan menjadi lebih tinggi.

Di tengah ketidakpastian global, seperti gangguan rantai pasok, pelemahan rupiah, tekanan inflasi, serta melemahnya daya beli, pertumbuhan kredit diperkirakan akan lebih moderat pada kuartal II hingga III dan cenderung melandai di kuartal IV-2026.

“Secara keseluruhan, kredit masih bisa tumbuh di kisaran 9% hingga 11% sampai akhir tahun,” jelasnya.

Dari sisi margin, tekanan diperkirakan datang dari penurunan imbal hasil kredit (loan yield), seiring penyaluran kredit yang semakin selektif, khususnya di segmen korporasi.

Sementara itu, dari sisi kualitas aset, Bank Mandiri berpotensi meningkatkan pencadangan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi memburuknya kondisi ekonomi. Hal ini dapat berdampak pada perlambatan pertumbuhan laba di sisa tahun ini.

“Terdapat potensi normalisasi atau perlambatan pertumbuhan laba hingga akhir tahun,” tambahnya.

Handiman juga menyoroti sejumlah tantangan yang perlu diwaspadai, mulai dari perlambatan pertumbuhan kredit, penurunan yield kredit, hingga potensi penurunan kualitas aset, terutama di segmen konsumer dan UMKM.

Meski dihadapkan pada berbagai tantangan, valuasi saham BMRI dinilai masih menarik. Sejak akhir tahun lalu, harga saham Bank Mandiri tercatat telah terkoreksi sekitar 7,8%, dengan price to book value (PBV) berada di level 1,4 kali.

Selain itu, potensi imbal hasil dividen juga tergolong tinggi, dengan estimasi dividend yield final mencapai 8,1% dan secara tahunan sekitar 10,3%, dengan asumsi dividend payout ratio (DPR) sebesar 80%.

“Kombinasi valuasi yang relatif murah dan dividend yield yang tinggi menjadikan saham BMRI menarik untuk investor jangka panjang,” tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News