Saham BYD Anjlok, Penjualan Januari Melemah Tekan Otomotif China



Pelemahan ini terjadi setelah sejumlah emiten otomotif melaporkan penjualan Januari yang lebih lemah, seiring dampak perubahan skema subsidi kendaraan di China yang dinilai kurang menguntungkan segmen mobil berharga terjangkau.

Kepala strategi ekuitas China Macquarie Capital, Eugene Hsiao, menilai penurunan penjualan domestik BYD cukup mengejutkan pasar karena mengindikasikan potensi penurunan pangsa pasar yang signifikan.

Baca Juga: Penjualan Kendaraan BYD Turun 30,1% Secara Tahunan di Januari


Saham BYD yang tercatat di Bursa Hong Kong ditutup turun 6,9% ke HK$91, menjadi penurunan harian terbesar sejak 26 Mei 2025, setelah sempat menyentuh level terendah dalam sekitar satu tahun.

Sementara itu, saham BYD di Shenzhen (002594.SZ) ditutup melemah 4,2% ke level 87,05 yuan, terendah sejak September 2024.

Asosiasi Mobil Penumpang China (China Passenger Car Association/CPCA) sebelumnya memproyeksikan penjualan mobil di China akan stagnan tahun ini, berpotensi menjadi tahun terburuk sejak 2020.

China memang memperpanjang program subsidi mobil pada 2026. Namun, skemanya diubah dari subsidi tetap menjadi berbasis harga kendaraan baru. Skema ini dinilai mengurangi insentif bagi mobil berharga murah, yang justru mendominasi penjualan mobil baru di pasar domestik.

Baca Juga: BYD Kalahkan Tesla sebagai Raja EV Dunia, Insentif Pajak AS Jadi Faktor

Pesaing seperti Geely dan Leapmotor dinilai mampu mengejar bahkan melampaui keunggulan teknologi BYD di segmen tersebut. Sepanjang 2025, pertumbuhan penjualan BYD tercatat sebagai yang paling lambat dalam lima tahun terakhir.

Sebaliknya, penjualan Geely relatif stagnan dibandingkan tahun sebelumnya, sementara Leapmotor—mitra Stellantis di China—mencatat lonjakan pengiriman sebesar 27% pada Januari.

Tekanan Inovasi dan Andalan Ekspor

Namun, penjualan mobil plug-in hybrid—yang menyumbang lebih dari separuh total penjualan BYD—tetap turun 28,5% pada Januari. Penurunan ini memperpanjang tren setelah segmen tersebut melemah 7,9% sepanjang 2025.

Baca Juga: Ada Kendala Baterai, BYD Kembali Tarik 88.981 Mobil Hibrid di China

Perusahaan menargetkan pengiriman 1,3 juta kendaraan ke pasar internasional tahun ini, naik sekitar 24% dibandingkan 2025. Namun target tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi awal hingga 1,6 juta unit yang sempat disampaikan manajemen kepada Citi pada November lalu.

Tekanan Jangka Panjang di Harga Saham

Kondisi ini menegaskan tantangan besar yang dihadapi BYD dan industri otomotif China secara keseluruhan: persaingan harga yang semakin ketat, margin yang tergerus, kesenjangan teknologi yang kian menyempit antar pemain, serta harapan ekspor yang tidak lagi sekuat sebelumnya untuk menutupi pelemahan pasar domestik.

Selanjutnya: Iran Pertimbangkan Buka Lagi Diplomasi Nuklir dengan AS, Isu Rudal Jadi Ganjalan

Menarik Dibaca: Hujan Lebat di Daerah Ini, Cek Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (3/2) Jabodetabek