KONTAN.CO.ID - SHANGHAI. Saham China dan Hong Kong turun pada Rabu (23/9/2026) karena investor mengurangi ekspektasi terhadap rencana pertemuan antara presiden AS dan China, sementara meningkatnya ketegangan perdagangan dengan Eropa turut membebani pasar. Namun, sektor real estat menguat di tengah tanda-tanda adanya dukungan baru dari pemerintah. Mengutip
Reuters, Rabu (23/9/2026), indeks CSI300 (saham berkapitalisasi besar) turun 0,5% menjelang jeda perdagangan siang, sementara Indeks Shanghai Composite turun 0,4%.
Di Hong Kong, Indeks Hang Seng turun 0,8%.
Baca Juga: Inflasi Inti Singapura Naik Jadi 2,2% pada Agustus 2026 "Rencana pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping merupakan tanda bahwa hubungan AS-China menjadi lebih dapat diprediksi," kata Oxford Economics dalam sebuah laporan. "Namun, kebijakan perdagangan, teknologi, dan keamanan kemungkinan akan tetap berada pada jalur yang secara struktural lebih restriktif," kata lembaga kajian tersebut, seraya memprediksi "hubungan yang lebih tenang, namun tidak lebih erat." Fokus utama pertemuan para pemimpin pada 24 September ini adalah apakah Trump dan Xi akan memberikan sinyal mengenai perpanjangan gencatan senjata perdagangan yang disepakati tahun lalu, yang sebelumnya telah mencegah guncangan besar terhadap ekonomi global. Bank Sentral Eropa (ECB) pada hari Selasa menyatakan bahwa transformasi industri China mendesak perusahaan-perusahaan Eropa keluar dari pasar global. Lembaga pemeringkat Fitch menyatakan bahwa guncangan perdagangan akibat China telah berdampak pada zona euro, khususnya Jerman yang berorientasi ekspor.
Baca Juga: Harga Emas Melemah, Prospek Suku Bunga Tinggi Membebani Sentimen Fitch menurunkan perkiraan pertumbuhan China untuk tahun 2026 sebesar 0,1 poin persentase menjadi 4,5%, dengan alasan meningkatnya ketidakseimbangan ekonomi negara tersebut. Indeks yang melacak produsen mobil China turun 0,6% karena sejumlah eksekutif otomotif dan politisi Eropa menyerukan penerapan aturan kandungan lokal serta perluasan tarif untuk membendung penjualan kendaraan dari China. Indeks kendaraan energi baru China turun hampir 1%. Sementara itu, pemulihan saham teknologi kehilangan momentumnya, baik di China maupun Hong Kong. Saham sektor properti di kedua pasar melonjak setelah adanya laporan Reuters yang menyebutkan bahwa regulator China meminta sejumlah bank untuk tidak mengategorikan pinjaman China Vanke yang telah jatuh tempo sebagai kredit macet, serta memperpanjang tenggat waktu pelunasan bagi pengembang yang didukung negara tersebut.