Saham Chip Asia Bangkit Rabu (14/10), Pasar Menanti Data CPI AS



KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia bergerak menguat pada perdagangan Rabu (14/10/2026), seiring meredanya tekanan jual pada saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI).

Namun, kenaikan pasar masih terbatas karena harga minyak bertahan tinggi dan investor menanti data inflasi Amerika Serikat (AS).

Melansir Reuters, Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,5% setelah bursa saham AS ditutup melemah tipis pada perdagangan sebelumnya. Di kawasan Asia, indeks Nikkei Jepang menguat 0,2%, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan melesat 1,8%.


Baca Juga: Trump Klaim Taiwan Setuju Beli 30% Gas dari Proyek Alaska, Detail Belum Jelas

Saham perusahaan semikonduktor mulai bangkit setelah mengalami tekanan pada sesi sebelumnya. Samsung Electronics dan SK Hynix di Korea Selatan masing-masing menguat lebih dari 2%, sementara saham Kioxia di Jepang bergerak stabil.

Meski demikian, pelaku pasar masih berhati-hati di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Serangan rudal dan drone kelompok Houthi ke Arab Saudi turut memperburuk sentimen pasar energi.

Harga minyak mentah AS naik 0,8% menjadi US$ 94,96 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent diperdagangkan di level US$ 106,60 per barel.

Analis Capital.com Kyle Rodda mengatakan, pasar akan mencermati apakah tekanan pada indeks saham utama mereda setelah aksi jual yang dipimpin saham chip pada perdagangan sebelumnya.

Baca Juga: Glencore Debut di Bursa Australia, Bidik Investor di Tengah Tren Tembaga

Menurut dia, situasi geopolitik global dan dampaknya terhadap pasar energi masih menjadi faktor yang membayangi pergerakan aset berisiko.

Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah AS tenor panjang menguat seiring meningkatnya minat investor terhadap aset yang dinilai lebih aman.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun stabil di 5,221%, setelah menyentuh level terendah dalam hampir dua pekan.

Sementara itu, imbal hasil tenor 30 tahun bertahan di 5,569% setelah turun selama tiga hari berturut-turut.

Di Wall Street, saham-saham perbankan AS melemah setelah sejumlah bank, termasuk Citigroup, merilis kinerja kuartalan dengan hasil beragam. Tekanan pada sektor perbankan turut membebani pasar saham secara keseluruhan.

Kontrak berjangka saham S&P 500 tercatat naik tipis 0,04% ke level 7.858,8.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Rabu (14/10), Konflik Houthi-Arab Saudi Picu Kekhawatiran

Investor menanti data inflasi AS

Perhatian investor kini tertuju pada data indeks harga konsumen (CPI) AS periode September yang dijadwalkan dirilis pada Rabu.

Data tersebut menjadi salah satu indikator penting untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Ekonom memperkirakan inflasi umum AS meningkat menjadi 3,6% secara tahunan pada September, terutama akibat kenaikan kembali harga energi. Sementara itu, inflasi inti diperkirakan naik 0,2% secara bulanan.

Strategis mata uang Commonwealth Bank of Australia Carol Kong menilai, kejutan kenaikan inflasi inti berpotensi mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed.

Menurut dia, permintaan konsumen yang kuat dan peningkatan biaya dapat mendorong inflasi inti melampaui perkiraan.

Baca Juga: Dolar AS Mundur dari Level Tertinggi 18 Bulan Rabu (14/10), Menanti Data Inflasi

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober sekaligus memperkuat dolar AS.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober mencapai 22% menjelang publikasi data inflasi tersebut.

Presiden Federal Reserve New York John Williams sebelumnya mengatakan, bank sentral AS mungkin perlu kembali menaikkan suku bunga pada tahun ini untuk menekan inflasi. Namun, ia menilai kenaikan suku bunga tidak diperlukan pada 2027.

Di pasar valuta asing, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama berada di level 102,17. Euro bergerak relatif stabil di US$ 1,1202.

Selain data inflasi AS, investor juga menantikan data inflasi China yang dirilis pada Rabu. Data tersebut akan dicermati untuk melihat apakah permintaan domestik mulai pulih di tengah tekanan deflasi yang masih membayangi perekonomian negara tersebut.