Saham Ciputra Development (CTRA) Memerah Meski Laba Meroket, Masih Menarik Dikoleksi?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan saham PT Ciputra Development Tbk (CTRA) cenderung memerah dalam beberapa sesi perdagangan terakhir. Pada Senin (22/8), saham CTRA merosot 4,08% ke harga Rp 940.

Namun, pada Selasa (23/8) pukul 10.23 WIB, saham CTRA rebound setelah naik 2,66% ke Rp 965. Namun, dalam sepekan, saham CTRA masih melorot 3,5%. Padahal, emiten pengembang properti ini mencetak kinerja mumpuni sepanjang semester I-2022.

Analis Sucor Sekuritas Benyamin Mikael menilai bahwa pertumbuhan kinerja keuangan dan pra-penjualan (marketing sales) CTRA di atas ekspektasi pasar. Dia juga memperkirakan kinerja CTRA masih mampu bergerak secara solid sampai akhir tahun nanti.


Menimbang hal tersebut, Benyamin memberikan rekomendasi beli untuk saham CTRA. Saham Ciputra dinilai masih menarik dikoleksi dengan target harga berada di level Rp 1.300.

Adapun penurunan saham CTRA sejalan dengan kinerja pasar atau Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tengah memerah, termasuk pada saham properti. Pelaku pasar juga mencermati berbagai sentimen negatif di sektor ini.

Baca Juga: Kunjungan Meningkat, Ciputra Development (CTRA) Catat Tingkat Kunjungan Capai 80%

"Ke depan (sektor properti) ada tantangan dari potensi kenaikan suku bunga dan berakhirnya insentif diskon PPN," kata Benyamin saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (22/8).

Technical Analyst Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova melanjutkan, dari sisi harga saham, saat ini CTRA memang berpotensi koreksi dalam jangka pendek. Terlebih jika IHSG mengalami tekanan, yang membuat pelaku pasar memutuskan untuk mengurangi posisi portofolionya.

"Tapi patut dicermati, jika pada laporan kuartal ketiga hasilnya masih baik, maka kemungkinan besar untuk saham CTRA kembali mengalami kenaikan," ungkap Ivan.

Pada posisi saat ini, Ivan memandang saham CTRA menarik dikoleksi dengan strategi buy on weakness. Investor bisa mencermati area support pada Rp 885 dan resistance di Rp 1.015.

Sementara itu, Analis Henan Putihrai Sekuritas Jono Syafei memperkirakan, pertumbuhan emiten properti di tahun ini cenderung stagnan, atau hanya tumbuh di level single digit. Hal ini juga terjadi lantaran efek dasar yang tinggi dari kinerja pada 2021 (high base effect) saat kinerja marketing sales melonjak dibandingkan 2020.

Untuk CTRA, Jono menyoroti bahwa emiten ini punya keunggulan pendapatan berulang yang kuat dari segmen mall, hotel dari rumah sakit, yang ikut menjadi penopang pendapatan. Portofolio segmen real estate juga terdiversifikasi dari jenis produk dan lokasi yang tersebar di Indonesia.

 
CTRA Chart by TradingView

Di samping itu, CTRA memiliki kinerja yang sehat, sehingga bisa lebih kuat dalam menghadapi tantangan yang mengadang di tahun ini. Menimbang hal itu, Jono memberikan rekomendasi beli saham CTRA dengan target harga di Rp 1.500.

"CTRA diperdagangkan pada diskon yang besar terhadap nilai asetnya, sehingga pada harga saat ini memiliki potensial upside yang cukup besar," tandas Jono.

Sebagai informasi, hingga periode Juni 2022, pendapatan CTRA meningkat 15,92% secara year on year dari Rp 4,02 triliun menjadi Rp 4,66 triliun. Pendapatan CTRA didapat dari penjualan neto senilai Rp 3,78 triliun dan pendapatan usaha sebesar Rp 881,42 miliar.

Pertumbuhan signifikan didapat dari penjualan neto kaveling, rumah hunian dan ruko dengan nilai Rp 3,23 triliun pada Semester I-2022, melesat 38,03% dibandingkan raihan periode yang sama tahun lalu.

Penjualan lainnya didapat dari segmen kantor sebesar Rp 327,8 miliar dan apartemen senilai Rp 222,33 miliar. Kemudian, pendapatan usaha dari pusat niaga CTRA menanjak 30,57% menjadi Rp 276,84 miliar dalam periode enam bulan 2022.

Pendapatan usaha CTRA lainnya pada Semester I-2022 bersumber dari rumah sakit sebesar Rp 271,96 miliar, hotel senilai Rp 180,22 miliar, sewa kantor Rp 107 miliar, lapangan golf Rp 21,52 miliar dan lain-lain mencapai Rp 23,86 miliar.

Baca Juga: Ciputra Development (CTRA) Raih Pra Penjualan Rp 3,9 Triliun Hingga Juni 2022

Sejalan dengan kenaikan pendapatan, beban pokok penjualan dan beban langsung CTRA juga mengalami kenaikan 11,70%. Dari posisi Rp 2,05 triliun pada Semester I-2021 menjadi Rp 2,29 triliun per Semester I-2022.

CTRA pun mampu mengantongi laba kotor senilai Rp 2,36 triliun dalam periode enam bulan pertama 2022. Melesat 20,40% dibandingkan raihan Rp 1,96 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Dari sisi bottom line, CTRA berhasil mendongkrak perolehan laba bersih dengan pertumbuhan yang signifikan. CTRA meraih laba bersih Rp 1 triliun, meroket 107,83% dibanding laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk CTRA pada Semester I-2021 sebesar Rp 483,47 miliar.

Hingga periode Juni 2022, total aset CTRA tercatat senilai Rp 40,92 triliun, naik dari posisi Rp 40,66 triliun per Desember 2021. Total aset CTRA Semester I-2022 terdiri dari aset lancar Rp 22,08 triliun dan aset tidak lancar sebesar Rp 18,83 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari