Saham CPO Diprediksi Lanjut Menguat, Simak Rekomendasinya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek saham emiten crude palm oil (CPO) masih cukup menjanjikan hingga penghujung 2026. Penguatan harga komoditas sawit, meningkatnya penyerapan domestik melalui program biodiesel B50, serta potensi gangguan produksi akibat El Niño menjadi sejumlah katalis yang dapat menopang kinerja sektor tersebut.

Sejumlah saham emiten sawit bahkan telah mencatat kenaikan signifikan sejak awal tahun. Tren tersebut berlangsung seiring dengan penguatan harga CPO global yang berpotensi memberikan dampak positif terhadap kinerja fundamental perusahaan sawit.

Melansir Trading Economics, Minggu (6/9/2026) pukul 11.00 WIB, harga CPO berada di level MYR 4.929 per ton. Harga tersebut telah meningkat 21,70% sejak awal tahun atau secara year to date (YTD).


Penguatan juga tercermin pada pergerakan sejumlah saham emiten sawit. Saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) tercatat naik 15,93% YTD.

Sementara itu, saham PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) menguat 48,67% YTD, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) naik 41% YTD, sedangkan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) meningkat 6,49% YTD.

Baca Juga: IHSG Masih Berpeluang Menguat pada Senin (7/9), Ini Saham Rekomendasi Analis

Di tengah penguatan harga CPO, prospek pasokan komoditas tersebut berpotensi menghadapi tekanan akibat fenomena El Niño. Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat volume ekspor CPO turun 6,97% secara tahunan hingga Juli 2026, meskipun nilai ekspornya meningkat menjadi US$14,79 miliar.

Research Associate Panin Sekuritas Panin Sekuritas Luthfi Novardiansyah menjelaskan, meningkatnya harga CPO didorong oleh kekhawatiran risiko El Nino terhadap penurunan produksi serta implementasi B50 sejak 1 Juli 2026.

Menurut dia, kondisi tersebut meningkatkan permintaan biodiesel di dalam negeri dan berpotensi memperketat pasokan CPO di pasar global.

“Penurunan ekspor CPO Indonesia turut dipengaruhi oleh sebagian supply beralih untuk memenuhi kebutuhan domestik B50,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (4/9/2026).

Harga CPO Jadi Penopang Saham Emiten Sawit

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan, kenaikan saham CPO di tengah penurunan ekspor menunjukkan bahwa pasar lebih melihat faktor pricing power daripada volume ekspor.

Penurunan ekspor tidak otomatis berarti penurunan pendapatan emiten apabila harga jual rata-rata CPO meningkat.

“Selain itu, permintaan domestik juga menjadi penopang penting, terutama melalui program biodiesel B50,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (6/9/2026).

Data semester I 2026 menunjukkan konsumsi domestik CPO tumbuh 5,5% secara tahunan menjadi sekitar 12,9 juta ton, sedangkan konsumsi biodiesel mencapai 1,1 juta ton pada Juni.

“Jadi, sebagian tekanan ekspor dapat dikompensasi oleh meningkatnya serapan domestik,” ungkapnya.

Baca Juga: Adhi Karya (ADHI) dan PT PP (PTPP) Tunggu Arahan untuk Merger BUMN Karya

Kenaikan harga CPO juga memberikan ruang bagi perbaikan margin perusahaan sawit. Kondisi tersebut turut mendorong investor melakukan re-rating terhadap sektor CPO.

“Hal ini tercermin dari kinerja semester I, misalnya laba bersih AALI yang tumbuh 56,5% YoY, TAPG 20,5% YoY, LSIP 24,6% YoY, dan DSNG 9,3% YoY,” tuturnya.

Prospek Emiten CPO Semester II 2026

Luthfi melihat prospek emiten CPO pada semester II 2026 masih positif, terutama ditopang oleh average selling price (ASP) yang lebih tinggi, meskipun pertumbuhan produksi berpotensi terbatas akibat kondisi cuaca dan kenaikan biaya produksi.

Dengan harga CPO yang masih kuat serta dukungan demand dari B50, sektor CPO masih berpeluang melanjutkan performa positif hingga akhir 2026.

“Namun, risiko utama berasal dari normalisasi harga CPO dan tekanan produksi,” paparnya.

Pandangan serupa disampaikan Nafan. Menurut dia, sektor CPO sepanjang semester II 2026 cukup prospektif dan berpeluang tetap menjadi salah satu sektor unggulan hingga akhir tahun.

Katalis utama berasal dari harga CPO yang masih kuat, implementasi B50 yang meningkatkan permintaan domestik, serta potensi pengetatan pasokan akibat dampak El Niño.

Bahkan, sejumlah riset memperkirakan fenomena El Niño dapat menekan produksi CPO Indonesia sekitar 1–2 juta ton. Apabila permintaan tetap kuat, kondisi tersebut berpotensi menjaga harga CPO pada level tinggi.

Selain itu, fundamental sektor sawit juga relatif solid. Hal ini tercermin dari laba bersih inti emiten sawit yang mencapai sekitar Rp5 triliun pada semester I 2026 atau tumbuh 11% secara tahunan.

Risiko Saham CPO yang Perlu Dicermati

Meski prospeknya positif, investor tetap perlu mencermati sejumlah faktor yang dapat menjadi pemberat bagi saham emiten CPO.

Beberapa risiko tersebut antara lain potensi koreksi harga CPO setelah mengalami kenaikan cukup tinggi, peningkatan biaya produksi, risiko cuaca yang mengganggu produktivitas, kebijakan ekspor dan pungutan pemerintah, serta potensi pelemahan permintaan global.

Untuk September 2026, pemerintah menetapkan Bea Keluar CPO sebesar US$148 per ton dan pungutan ekspor 12,5% atau sekitar US$125,94 per ton. Dengan demikian, kenaikan harga CPO tidak sepenuhnya diterjemahkan menjadi peningkatan take-home margin produsen.

“Di samping itu, apabila harga CPO sudah terlalu tinggi, terdapat risiko permintaan dari negara importir utama seperti India menjadi lebih sensitif,” paparnya.

Rekomendasi Saham CPO

Dengan mempertimbangkan berbagai katalis dan risiko tersebut, Nafan merekomendasikan investor untuk mencermati sejumlah saham emiten sawit.

Nafan merekomendasikan add untuk DSNG dan LSIP dengan target harga masing-masing Rp1.795 per saham dan Rp1.875 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News