KONTAN.CO.ID - Saham CSL Ltd merosot tajam ke level terendah dalam delapan tahun pada Rabu (11/2/2026) setelah perusahaan bioteknologi raksasa Australia itu melaporkan penurunan laba semester pertama hingga 81%. Dibebani melemahnya penjualan produk plasma darah dan vaksin, biaya satu kali (one-off), serta pengunduran diri CEO Paul McKenzie. CSL pada Selasa (10/2/2026) malam menunjuk Gordon Naylor, eksekutif internal senior, sebagai CEO sementara, menyusul pengumuman pensiun mendadak McKenzie.
Baca Juga: Super Bowl LX Cetak Rekor, Aksi Bad Bunny Raup Lebih dari 4 Miliar Tayangan Medsos Pada perdagangan awal, saham CSL sempat anjlok hingga 18% ke level A$150,23, terendah sejak April 2018. Penurunan ini menjadi kejatuhan intraday terbesar sepanjang sejarah saham CSL dan menjadi penekan utama indeks acuan Australia, yang justru naik 0,6% pada hari yang sama. Keterpurukan saham CSL menyoroti tekanan yang kian besar terhadap salah satu saham terbesar dan paling luas dimiliki di Australia, yang selama ini dikenal sebagai emiten andalan pertumbuhan global berkat portofolio obat penyakit langkanya. Kombinasi kinerja laba yang di bawah ekspektasi, pembukuan penurunan nilai (impairment) besar akibat melemahnya prospek unit akuisisi, serta pergantian CEO secara tiba-tiba, memaksa investor menilai ulang seberapa cepat CSL mampu memulihkan momentum bisnisnya, terutama ketika bisnis inti plasma darah masih kesulitan memenuhi target.
Baca Juga: Harga Minyak Stabil Rabu (11/2) Pagi, Brent ke US$69,03 dan WTI ke US$64,19 “Saya tidak bisa menerima bahwa kita tidak dapat melakukan yang lebih baik,” kata CEO sementara Gordon Naylor dalam paparan kepada analis, seraya menambahkan bahwa unit vaksin CSL menghadapi kondisi pasar Amerika Serikat yang “sangat sulit”. CSL memperkirakan akan membukukan impairment setelah pajak sekitar US$1,1 miliar pada tahun fiskal berjalan, termasuk biaya restrukturisasi, dengan sebagian besar dicatat pada semester pertama. Beban tersebut terutama berasal dari penurunan nilai aset kekayaan intelektual di unit obat defisiensi besi dan penyakit ginjal Vifor, serta bisnis vaksin Seqirus. Naylor menegaskan perusahaan tetap memfokuskan perhatian pada unit produk plasma darah, yang menjadi penyumbang pendapatan terbesar CSL. “Di sinilah peluang terbesar berada,” ujarnya.
Baca Juga: AS Percepat Modernisasi Pengendalian Lalu Lintas Udara dengan Kontrak US$1,5 Miliar Untuk enam bulan yang berakhir pada 31 Desember, CSL membukukan laba bersih setelah pajak sebesar US$384 juta, turun tajam dari US$2 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Hasil ini meleset dari ekspektasi pasar, menurut analis. Kinerja yang lebih lemah terutama dipicu oleh unit CSL Behring, bisnis plasma perusahaan, di mana pendapatan berada di bawah proyeksi akibat penjualan imunoglobulin turun 6% dan penjualan albumin merosot 27%. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh pembatasan harga baru di AS serta perubahan kebijakan di China. Sebagai upaya menenangkan pasar, CSL juga memperluas program pembelian kembali saham (buyback) yang sedang berjalan sebesar US$250 juta, guna menegaskan kekuatan neraca keuangannya. Namun, analis Citi menilai investor lebih akan fokus pada kemampuan CSL membalikkan kinerja secara signifikan pada semester kedua.
Baca Juga: Dolar AS Terpuruk 9% Setahun: Ada Apa dengan Mata Uang Paling Kuat Dunia? Meski CSL menegaskan kembali proyeksi setahun penuh dengan perkiraan pertumbuhan pendapatan moderat dan pertumbuhan laba dasar satu digit menengah, tidak termasuk biaya satu kali tantangan masih besar. CSL memperingatkan bahwa kontribusi Seqirus pada paruh kedua tahun ini akan lebih kecil karena faktor musiman vaksin influenza dan tidak adanya keuntungan tak terduga dari wabah flu burung seperti tahun lalu.
Sementara itu, tekanan dari produk generik diperkirakan terus membebani kinerja Vifor. Analis Citi menilai kondisi tersebut menyisakan ruang kesalahan yang sangat terbatas, dengan unit plasma Behring harus “melakukan sebagian besar pekerjaan berat” jika CSL ingin memenuhi panduan kinerja tahunannya.