KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek PT Darma Henwa Tbk (
DEWA) hingga akhir 2026 dinilai masih cukup positif. Ekspansi bisnis jasa pertambangan dan mulai beroperasinya kontrak baru dengan PT Sebuku Sejaka Coal (SSC) menjadi katalis utama yang berpotensi mendorong kinerja. Untuk diketahui, DEWA telah menganggarkan belanja mod (capex) Rp 2,4 triliun tahun ini. Hingga semester I 2026, capex sudah direalisasikan Rp 1,6 triliun. Manajemen mengatakan capex tersebut terutama digunakan untuk mendukung proyek jasa pertambangan yang berjalan di PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia.
Baca Juga: Harga Ether Masih Terkoreksi, Begini Proyeksinya hingga Akhir 2026 Selain itu pada semester kedua tahun ini DEWA juga mulai mengalokasikan capex untuk menggarap kontrak baru dari PT Sebuku Sejaka Coal (SSC). Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta mengatakan, DEWA kini memasuki fase ekspansi volume melalui penguatan bisnis jasa pertambangan. Kata Nafan, kondisi ini menunjukkan ekspansi kapasitas alat dan kesiapan operasional perseroan sudah berjalan. "Yang menarik, selain mempertahankan proyek utama di KPC dan Arutmin, mulai beroperasinya kontrak baru dengan Sebuku Sejaka Coal (SSC) pada semester II menjadi katalis pertumbuhan baru," ujar Nafan kepada Kontan, Senin (31/8/2026). Nafan mencatat kontrak SSC tersebut memiliki nilai sekitar Rp 22 triliun, dengan potensi pekerjaan pengupasan lapisan penutup atau waste removal hingga 55 juta bank cubic meter (bcm) serta produksi batubara hingga 5 juta ton per tahun. Dari sisi volume, kontrak tersebut berpotensi memberikan kontribusi material terhadap pendapatan DEWA ke depan. Bahkan, volume waste removal SSC diperkirakan setara sekitar 40% dari volume DEWA pada 2025. Dari sisi fundamental, kinerja DEWA pada semester I 2026 juga menunjukkan perbaikan profitabilitas. Pendapatan perseroan naik 3,1% secara tahunan menjadi Rp 3,21 triliun, sementara laba bersih melonjak 89% menjadi Rp 354,3 miliar. EBITDA juga tumbuh 20,2% secara tahunan. "Dengan demikian, saya melihat semester II 2026 berpotensi menjadi periode yang lebih kuat bagi DEWA. Syaratnya, proses ramp-up proyek SSC berjalan sesuai target, utilisasi alat meningkat, dan efisiensi operasional dapat dipertahankan," lanjut Nafan.
Baca Juga: IHSG Menutup Agustus 2026 dengan Menguat, Simak Arahnya Perdagangan Selasa (1/9) Namun, Analis Bahana Sekuritas, Jeremy Mikael, mencermati bahwa rencana ekspansi DEWA melalui kontrak jasa pertambangan dengan SSC masih menghadapi sejumlah risiko yang perlu dicermati investor. Salah satu risiko utama yang perlu dipantau adalah laporan mengenai pembekuan izin usaha pertambangan (IUP) SSC oleh pemerintah. Persoalan tersebut dikaitkan dengan sengketa pembebasan lahan dengan masyarakat setempat yang telah berlangsung sejak Februari 2026. Jeremy mengatakan, berdasarkan pengecekan di lapangan, area yang terdampak sengketa disebut berbeda dengan lokasi tambang yang menjadi bagian dari kontrak DEWA. Sengketa tersebut juga disebut telah diselesaikan. Namun, hingga kini belum terdapat konfirmasi independen mengenai penyelesaian persoalan tersebut. "Perlu diperhatikan bahwa izin pertambangan berada pada tingkat korporasi SSC, bukan pada masing-masing pit. Dengan demikian, perbedaan lokasi antara area sengketa dan pit yang dikontrak belum tentu sepenuhnya melindungi kegiatan operasional apabila persoalan tersebut kembali muncul," terang Jeremy. Sementara itu, Analis Samuel Sekuritas Indonesia Juan Harahap, memperkirakan DEWA mulai memasuki fase pemulihan laba operasional pada kuartal III 2026. Terdapat tiga katalis utama yang berpotensi mendorong titik balik laba operasional DEWA mulai kuartal III 2026. Pertama, kontribusi penuh dari porsi pekerjaan sebesar 26 juta bank cubic meter (bcm) milik PT Pamapersada Nusantara (PAMA) di PT Kaltim Prima Coal (KPC) yang akan mulai sepenuhnya dibukukan.
Baca Juga: Tak Berizin OJK, Satgas PASTI Hentikan Kegiatan YWWSDC dan RTHAE Kedua, normalisasi biaya operasional (OPEX) seiring berlanjutnya efisiensi dalam kegiatan operasional perseroan. Ketiga, tambahan kontribusi dari proyek SSC. Dari sisi kinerja keuangan, Jeremy memprpyeksi pendapatan DEWA pada 2026 diperkirakan mencapai Rp 7,17 triliun, naik sekitar 12,2% YoY dibandingkan realisasi pendapatan 2025 sebesar Rp 6,39 triliun.
Namun, pertumbuhan pendapatan tersebut belum mampu mendorong kenaikan laba bersih. Jeremy memproyeksikan laba bersih DEWA pada 2026 hanya mencapai Rp 414 miliar, anjlok sekitar 90,4% dibandingkan realisasi laba bersih 2025 yang mencapai Rp 4,31 triliun. Mempertimbangkan faktor di atas, Jeremy mempertahankan rekomendasi buy saham DEWA, tetapi menurunkan target harga menjadi Rp 600 dari sebelumnya Rp 850 per saham Juan juga merekomendasikan buy saham DEWA dengan Target harga Rp 600 per saham. Ada pun Nafan merekomendasi accumulation buy DEWA dengan target harga Rp 635 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News