KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mendepak lima saham dalam indeks utama LQ45 dievaluasi mayor yang akan berlaku untuk periode 4 Mei 2026–31 Juli 2026. Yakni, PT Barito Renewables Energy Tbk (
BREN), PT Ciputra Development Tbk (
CTRA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (
DSSA), PT Medikaloka Hermina Tbk (
HEAL) dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (
NCKL). Kelima saham itu digantikan oleh PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (
CUAN), PT Darma Henwa Tbk (
DEWA), PT ESSA Industries Indonesia Tbk (
ESSA), PT Hartadinata Abadi Tbk (
HRTA) dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (
WIFI).
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menuturkan perubahan komposisi LQ45 dipengaruhi aturan baru terkait konsentrasi kepemilikan saham tinggi.
Baca Juga: IHSG Anjlok 17% dan Asing Kabur Rp 40 Triliun, Ini yang Harus Dilakukan Investor Nafan menyebut penetapan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau
high shareholding concentration (HSC) membuat sejumlah saham
big caps tergusur dari indeks acuan. Yakni, BREN dan DSSA. Berdasarkan data kepemilikan per 31 Maret 2026, BREN dan DSSA memiliki tingkat konsentrasi kepemilikan tinggi masing-masing sebesar 97,31% dan 95,76%. “Di sisi lain, saham-saham yang masuk ke dalam indeks utama ini berpotensi mendapat aliran dana dari reksadana indeks dan ETF berbasis acuan ke indeks LQ45,” katanya kepada Kontan, Minggu (26/4/2026). Nafan menilai ada peluang aliran dana masuk dari pengelola investasi alias
fund manager, yang akan mendorong peningkatan likuiditas serta pergerakan harga saham dalam jangka pendek. Pengamat Pasar Modal Hendra Wardhana menilai pergantian komposisi dengan kriteria baru, termasuk penyaringan saham dengan status HSC akan berdampak pada arus dana jangka pendek.
“Secara historis, saham yang baru masuk indeks berpotensi mendapatkan inflow dari reksadana indeks maupun fund manager yang melakukan benchmarking,” jelasnya saat dihubungi Kontan, Senin (26/4/2026). Hendra menilai saham CTRA dan NCKL relatif masih menarik dicermati karena memiliki kombinasi likuiditas yang meningkat pasca masuk indeks, fundamental yang cukup jelas serta cerita sektoral yang masih relevan. Menurutnya, CTRA
diuntungkan dari ekspektasi pemulihan sektor properti dan potensi penurunan suku bunga ke depan. Sementara, NCKL tetap menjadi proxy hilirisasi nikel yang sensitif terhadap siklus harga komoditas global. Meski begitu, Hendra mengingatkan, investor tidak bisa hanya mengandalkan narasi masuk indeks pasti naik. Di mana, ketepatan waktu saat berinvestasi juga diperlukan. “Strategi yang lebih rasional adalah menunggu
pullback atau konsolidasi harga setelah euforia awal
inflow mereda, lalu masuk secara bertahap, khususnya pada saham dengan fundamental yang menopang,” tuturnya.
Baca Juga: Dolar AS Melemah, Analis Sarankan Investor Wait and See Hendra menilai sentimen terhadap BREN dan DSSA cenderung negatif dalam jangka pendek, terutama setelah keputusan MSCI yang masih berhati-hati terhadap saham dengan HSC. Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRI Danareksa Sekuritas Chory Agung Ramdhani menimpali keluarnya BREN dan DSSA dari LQ45, ditambah potensi penghapusan dari indeks MSCI menciptakan tekanan ganda. Dia menyarankan investor menghindari alias
wait and see terhadap kedua saham itu Sebaiknya dihindari dulu. Chory menilai
outflow dari dana asing akibat sentimen MSCI bisa mencapai triliunan rupiah.
“Ketika saham keluar dari LQ45, manajer investasi domestik juga berpotensi melakukan
rebalancing dan selama isu HSC dan
free float belum tuntas, saham tersebut masih sangat rentan,” ucapnya.
Chory menyebut investor bisa mencermati HRTA karena tren harga emas dunia yang diprediksi tetap kuat di 2026. Lalu ada CUAN dan DEWA yang masuk membawa eksposur pada grup konglomerasi besar Sementara secara teknikal, Nafan merekomendasikan akumulasi beli pada saham NCKL dengan target harga di Rp 1.460. Dia juga menyarankan spekulasi beli HEAL dengan target harga terdekat di Rp 1.380. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News