Saham Diborong Bos dan Karyawan, Emiten Ramai Tambah Modal Lewat MESOP



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten semakin ramai mengeksekusi program opsi kepemilikan saham manajemen/karyawan alias Management/Employee Stock Option Program (MESOP). Aksi korporasi ini juga menjadi opsi penambahan modal yang lebih murah di tengah tren suku bunga tinggi.

PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) menjadi salah satu emiten yang merealisasikan MESOP di akhir tahun 2022. MESOP Tahap I TOBA dilakukan melalui skema Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) alias private placement yang digelar 14 Desember - 21 Desember 2022.

Jumlah opsi yang telah dilaksanakan dalam MESOP Tahap I sebanyak 18.307.058 dari total 80.499.640 saham baru. Sehingga jumlah opsi yang belum dilaksanakan dan masih berlaku sebanyak 62.192.582 saham.


Dengan harga pelaksanaan sebesar Rp 590 per lembar saham, TOBA setidaknya berhasil memperoleh tambahan modal sekitar Rp 10,8 miliar lewat MESOP Tahap I.

Baca Juga: Termasuk Pandu Sjahrir, Lima Direksi Borong Saham TBS Energi (TOBA) Lewat MESOP

Lima direksi TOBA ikut mengeksekusi MESOP Tahap I. Termasuk Direktur Utama Dicky Yordan dan Wakil Direktur Utama Pandu Patria Sjahrir yang masing-masing mengantongi 7.633.600 saham. 

Emiten lain yang menggelar MESOP di akhir tahun lalu adalah PT Global Digital Niaga Tbk (BELI). E-commerce Grup Djarum yang dikenal dengan merek Blibli ini melaksanakan MESOP Tahap I pada 15 - 21 Desember 2022.

Harga pelaksanaan sebesar Rp 432 per saham dengan jumlah hak opsi yang telah dikonversi sebanyak 18.586.100 saham. BELI memiliki sisa hak opsi yang belum dikonversi sebanyak 498.046.900 saham.

Baca Juga: Duo Pemilik Djarum Kuasai Aset Saham Senilai Rp 630,85 Triliun, Melejit 15,87 Persen

Sebelum TOBA dan BELI, emiten menara telekomunikasi PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk alias Mitratel (MTEL) melaksanakan MESOP Tahap I yang digelar pada 1 November sampai dengan 12 Desember 2022.

Dalam keterangan tertulis diinformasikan bahwa komisaris, direksi, dan karyawan MTEL melaksanakan hak opsi pada MESOP tahap I sejumlah 23.841.500 lembar saham. Harga pelaksanaan ditetapkan sebesar Rp720 per lembar saham.

Direktur Utama MTEL Theodorus Ardi Hartoko mengungkapkan, antusiasme manajemen dan karyawan dalam program MESOP merupakan bentuk optimisme terhadap fundamental bisnis MTEL dan sejumlah program yang memastikan pertumbuhan berkelanjutan.

“Ini merupakan bentuk dari kepercayaan, rasa memiliki dan optimisme terhadap keberhasilan perusahaan dalam jangka panjang," sebut Thedorus dalam rilis yang disiarkan 16 Desember 2022.

Baca Juga: Bukalapak Mau MESOP 5,06 Miliar Saham BUKA Rp 3,96 Triliun, Kali Ini bakal Laris?

Menurut Research & Consulting Manager Infovesta Utama Nicodimus Kristiantoro, pada dasarnya MESOP dimaksudkan untuk memperkuat rasa memiliki (sense of belongings) manajemen dan karyawan terhadap perusahaan. Hal ini diharapkan bisa meningkatkan motivasi untuk mendongkrak performa emiten menjadi lebih positif.

Nico menambahkan, pada umumnya MESOP ditawarkan kepada manajemen atau karyawan dengan harga yang lebih rendah dari penawaran umum. Meski di bawah harga pasar, namun tetap harus sesuai dengan peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

Dengan begitu, Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Roger MM menilai MESOP bisa menguntungkan manajemen/karyawan maupun perusahaan. Bagi karyawan, keuntungannya adalah bisa membeli saham di bawah harga pasar. Sedangkan bagi perusahaan bisa menjadi instrumen untuk menambah modal.

"Walau tidak selalu di bawah harga pasar, tetapi berpeluang mendapat harga lebih murah. Kadang secara psikologis ikut mempengaruhi pergerakan harga sahamnya," ungkap Roger kepada Kontan.co.id, Senin (9/1).

Baca Juga: Manajemen Mitratel (MTEL) Borong 23,84 juta Saham Lewat MESOP

Nico menimpali, ketika proses pembelian atau akumulasi saat MESOP, dampak terhadap pergerakan harga saham tidak terlalu signifikan. Namun, jika nantinya saham MESOP dilepas dengan jumlah besar mengikuti mekanisme pasar, maka berpotensi menarik penurunan harga saham.

"Tapi ketika hasil penjualan saham dari MESOP masih kalah proporsinya dengan aksi beli investor umum, maka tidak akan berpengaruh signifikan ke sahamnya," sebut Nico.

Oleh sebab itu, investor umum di luar karyawan dan manajemen emiten mesti mencermati porsi saham yang dieksekusi saat MESOP. Porsi saham yang menjadi objek MESOP juga terkait dengan efek dilusi pada kepemilikan saham lama.

Pada umumnya dilusi tidak signifikan karena MESOP dilakukan secara bertahap. Hanya saja, realisasi MESOP tetap berpeluang menimbulkan fluktuasi harga saham secara jangka pendek.

"Kabar-kabar mengenai MESOP dan harga pelaksanaan bisa saja memicu respons dari trader terhadap keputusan tradingnya," ungkap Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan.

Baca Juga: BFI Finance Lakukan Pengalihan Saham Treasuri Senilai Rp 37,5 Miliar

Di samping untuk membangun rasa memiliki karyawan/manajemen terhadap perusahaan, Valdy melihat aksi MESOP juga dipertimbangkan oleh emiten sebagai instrumen penambahan modal yang menarik.

Nico punya pandangan serupa. Dari sisi strategi korporasi, MESOP yang serupa dengan private placement ini bisa menjadi alternatif pendanaan yang lebih murah di tengah tren kenaikan suku bunga seperti saat ini.

Di antara sejumlah emiten yang telah mengeksekusi MESOP, Nico menjagokan saham TOBA. Secara jangka pendek, TOBA sedang dalam downtrend dan menguji area support di Rp 500-Rp 525.

Pada perdagangan hari ini, saham TOBA ditutup turun 1,83% ke harga Rp 535. Saran Nico, pertimbangan untuk hold terlebih dulu. Jika tren penurunan sudah mereda, Nico merekomendasikan buy on weakness.

"Secara jangka panjang, saham TOBA menarik untuk dicermati karena prospek bisnis yang menuju ke arah energi terbarukan dan diversifikasi lini bisnis kendaraan listrik," tandas Nico.

Sedangkan untuk MTEL dan BELI, Nico belum memberikan rekomendasi. Catatan Nico, waspadai saham MTEL ketika tekanan turun masih kuat. Begitu juga saham BELI yang masih downtrend, serta semakin mendekati level harga saat IPO.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati