Saham Dividen Mulai Menarik, tapi Yield SBN Masih Lebih Kompetitif



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Investor pasar modal perlu lebih selektif menempatkan dana di tengah tingginya ketidakpastian global dan imbal hasil instrumen pendapatan tetap yang semakin kompetitif.

Kondisi ini membuat saham dengan yield dividen tinggi belum tentu otomatis lebih menarik dibandingkan surat berharga negara (SBN).

Data PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menunjukkan, yield obligasi pemerintah tenor tiga tahun mencapai sekitar 6,95% per 30 September 2026.


Angka tersebut melonjak 33,5% dibandingkan posisi September 2025, seiring tren kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sejak Mei 2026 dari 4,75% menjadi 5,25%.

Sementara itu, pasar saham masih menghadapi tekanan. Hingga Rabu (7/10), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level 6.146,72 atau telah terkoreksi 28,91% sejak awal 2026.

Baca Juga: Saham Harga Cepekan Ini Akan Bagi Dividen Rp 1.650/Lot, Yield 10% lebih

Di tengah koreksi tersebut, sebagian besar emiten yang membagikan dividen interim 2026 menawarkan yield di bawah 5%. PT Plaza Indonesia Realty Tbk (PLIN), misalnya, membagikan dividen interim Rp 76 per saham.

Dengan harga saham Rp 2.510, yield dividennya sekitar 3,03%.

Sebaliknya, ada sejumlah emiten dengan yield dividen lebih tinggi. PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) akan membagikan dividen interim Rp 611,93 per saham. Berdasarkan harga penutupan Rp 8.675 pada Rabu (7/10), yield dividennya mencapai sekitar 7,05%.

"Yield dividen emiten mulai terlihat menarik, terutama GEMS," kata Rully Arya Wisnubroto, Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia.

Namun, Rully mengingatkan bahwa yield dividen 7% tidak berarti investor otomatis memperoleh total return sebesar itu. Setelah pembagian dividen, harga saham dapat terkoreksi dan selanjutnya bergerak mengikuti fundamental perusahaan serta sentimen pasar.

Baca Juga: Yield SBN 10 Tahun Naik ke 7,23%, Ini Dampaknya ke Beban Utang Pemerintah

Karena itu, investor tidak cukup hanya membandingkan yield. Untuk menilai keberlanjutan dividen, investor perlu melihat kemampuan arus kas, rasio pembayaran dividen, kondisi neraca, prospek industri, dan potensi kinerja laba emiten.

Menurut Rully, SBN ritel masih kompetitif karena memberikan kupon sekaligus pokok yang dijamin pemerintah. Sementara itu, investasi saham tetap menghadapi risiko fluktuasi harga.

Setelah koreksi pasar yang cukup dalam sejak puncak pada September lalu, Rully menilai rasio risiko dan imbal hasil saham mulai membaik.

Investor dapat mulai mengakumulasi secara bertahap saham dengan fundamental kuat dan valuasi menarik. Namun, strategi window dressing tidak sebaiknya menjadi alasan utama untuk masuk pasar.

Tekanan aliran dana asing, pelemahan rupiah, tingginya yield Treasury AS, serta ketidakpastian global tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Baca Juga: Yield SBN 10 Tahun Tembus 7%, Investor Cermati Risiko Fiskal dan Gejolak Global

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Nico Demus menilai yield dividen tinggi baru menarik jika didukung kondisi pasar yang memungkinkan harga saham kembali pulih setelah pembagian dividen.

"Jika pasar mendukung, yield dividen tinggi bisa jadi kesempatan," ujar Nico.

Meski demikian, Nico menilai investor SBN ritel belum tentu beralih ke saham ber-yield tinggi. Perbedaan profil risiko dan volatilitas membuat instrumen pendapatan tetap tetap memiliki daya tarik bagi investor ritel.

Dengan demikian, kenaikan yield obligasi pemerintah dan tingginya yield Treasury AS membuat SBN semakin kompetitif.

Kondisi ini berpotensi menahan perpindahan dana investor dari SBN ritel ke saham, meski beberapa saham kini mulai menawarkan yield dividen yang menarik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News