Saham Emiten Asuransi Menguat, Simak Prospek dan Rekomendasinya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pada penutupan pasar Senin (26/1/26), sejumlah saham emiten asuransi menunjukkan pergerakan yang bervariasi.

Sebagai contoh, saham PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII) menunjukkan penurunan 4,39% ke level Rp109, tetapi menguat 6,86% secara year to date (ytd).

Saham PT Victoria Insurance Tbk (VINS) naik 0,93% ke level Rp216 dan menguat 30,91% secara ytd. Lalu ada saham PT Panin Financial Tbk (PNLF) terkoreksi 2% ke level Rp294, tetapi menguat 13,95% secara ytd.


Kemudian saham PT Asuransi Jiwa Syariah Jasa Mitra Abadi Tbk (JMAS) terkoreksi turun ke level Rp292 dengan koreksi 0,68%, namun menguat 39,05% secara ytd.

Meski begitu, sejumlah analis menilai bahwa belakangan ini saham emiten asuransi menguat seiring dengan adanya dorongan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 23 Tahun 2023 perihal penyesuaian modal minimal dan aksi korporasi untuk memenuhi aturan tersebut.

Baca Juga: Thomas Djiwandono Jadi Deputi Gubernur BI, Berpotensi Bawa Sentimen Positif bagi IHSG

"Investor sekarang jauh lebih jeli, mereka mencari emiten yang punya rencana aksi korporasi jelas untuk memenuhi modal tersebut," ujar Praktisi Saham, Muslim Hasan Birga kepada Kontan, Senin (26/1/26).

Kendati demikian, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisory, Ekky Topan memandang bahwa ke depannya prospek saham asuransi masih tetap selektif.

"Untuk prospek saham asuransi ke depan, menurut saya masih tetap selektif," ungkap Ekky kepada Kontan, Senin (26/1/26).

Menurutnya, kinerja emiten asuransi sangat bergantung pada kualitas underwriting, rasio klaim, serta pengelolaan investasi sehingga tidak semua emiten memiliki prospek yang sama.

Hal tersebut sejalan dengan Muslim yang mengatakan bahwa saham emiten asuransi masih dihadapkan pada tantangan implementasi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 117 yang berpotensi memengaruhi tampilan laporan keuangan emiten.

"Ada tantangan implementasi PSAK 117 yang mungkin akan membuat laporan keuangan terlihat sedikit berbeda dalam jangka pendek bagi orang awam," ujarnya.

Kondisi seperti ini membuat analis menilai berbeda tentang rekomendasi saham emiten asuransi.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta belum melihat peluang beli untuk emiten berbasis asuransi.

"Kalau saat ini rekomendasi emiten-emiten berbasis asuransi adalah not rated," ujarnya kepada Kontan, Senin (26/1/26).

Baca Juga: Pengumuman MSCI Berpotensi Picu Arus Dana Asing Keluar, Ini Respons BEI

Menurutnya, likuiditas emiten asuransi masih tergolong rendah sehingga pergerakan saham emiten tidak selalu mencerminkan fundamental jangka panjang.

Walau begitu, Ekky mencermati saham PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) dan PNLF masih relatif paling menarik karena bisnisnya jelas dan likuiditasnya lebih baik dibandingkan emiten asuransi kecil.

TUGU cocok untuk investor yang mencari sektor defensif dan berpotensi diuntungkan saat kondisi pasar membaik, dengan target jangka pendek di level Rp1.300 dan berpeluang menuju Rp1.500.

Sementara itu, PNLF dinilai lebih sesuai untuk investasi jangka menengah hingga panjang karena pergerakannya yang cenderung stabil, dengan target jangka panjang di kisaran Rp350–Rp400.

Di sisi lain, Muslim juga mencermati bahwa emiten AMAG (PT Asuransi Multi Artha Guna Tbk) menarik perhatian berkat rencana buyback senilai Rp90 miliar hingga April 2026.

Selanjutnya: Tekanan Domestik Dominan, Yield SBN Masih Rentan Naik

Menarik Dibaca: Hujan Petir di Pagi Hari, Ini Prakiraan BMKG Cuaca Besok (27/1) di Jakarta

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News