Saham Emiten CPO Menanjak, Simak Prospek dan Rekomendasi Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham sejumlah emiten kelapa sawit alias crude palm oil (CPO) tercatat menanjak dalam beberapa waktu terakhir.

Tengok saja, saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) naik 10,08% dalam sebulan terakhir. Kemudian, dalam sebulan belakangan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) naik 9,06%, PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) naik 21,45%, PT Prime Agri Resources Tbk (SGRO) 29,48%, dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) 20,18%.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Indonesia Abida Massi Armand menjelaskan, ada tiga katalis utama berjalan bersamaan.


Yaitu, implementasi B50 efektif Juli 2026 yang menyerap CPO domestik secara signifikan dan mempersempit pasokan ekspor, harga CPO global yang solid di atas MYR 4.600 per ton didukung permintaan India dan China, serta pelemahan rupiah yang mengembangkan pendapatan ekspor dalam denominasi rupiah secara otomatis.

Baca Juga: Kinerja Emiten CPO Terkerek Program B50, Cermati Saham Pilihanan Analis

“Kenaikan saham berpotensi berlanjut selama realisasi B50 berjalan sesuai rencana dan harga CPO global tetap di level saat ini,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (28/7/2026).

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, rally saham emiten sawit juga disebabkan oleh harga minyak Brent tembus US$ 100 barel yang membuat CPO sebagai alternatif energi lebih kompetitif.

Selama B50 berjalan lancar dengan pembayaran BPDPKS tepat waktu dan minyak masih tinggi, saham emiten sawit pun dilihat akan berlanjut terkerek. 

“Risiko reversal adalah jika terjadi gencatan senjata Iran-AS permanen yang bisa menurunkan harga minyak bumi ke US$ 75 - US$ 80 per barel yang bisa menekan CPO,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (28/7/2026).

Baca Juga: Menilik Kinerja Emiten Sawit Kala Harga CPO Terus Menguat dan Rekomendasi Analis

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi mengatakan, pengerek harga saham emiten CPO dalam beberapa waktu terakhir didorong oleh probabilitas tinggi El Niño dan kejelasan implementasi PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Pertama, prospek penguatan El Niño. Berdasarkan proyeksi NOAA, probabilitas terjadinya El Niño yang sangat kuat pada Oktober–Desember 2026 mencapai 81%, bahkan berpotensi menjadi salah satu yang terkuat sejak 1950. 

Kondisi cuaca yang lebih kering diperkirakan akan menekan produktivitas perkebunan sawit, sehingga meningkatkan ekspektasi kenaikan harga CPO. 

“Secara historis, setelah periode El Niño, harga CPO cenderung meningkat sekitar 5–19% YoY pada tahun berikutnya,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (23/7/2026).

Kemudian, kejelasan implementasi DSI membuat diskon harga CPO Indonesia terhadap Malaysia menyempit menjadi sekitar 23% pada Juni 2026, dibandingkan 24% pada bulan sebelumnya.

Menurut Imam, selama ekspektasi terhadap penguatan harga CPO masih terjaga, terutama didukung El Niño dan implementasi B50, tren positif saham-saham CPO masih berpotensi berlanjut hingga paruh kedua 2026. 

Baca Juga: B50 Resmi Meluncur, Simak Prospek Kinerja dan Rekomendasi Saham Emiten CPO

“Namun, investor tetap perlu mencermati risiko perubahan regulasi maupun kondisi cuaca yang lebih ekstrem dari perkiraan,” katanya.

Abida menuturkan, prospek saham emiten CPO tetap konstruktif didukung realisasi penuh B50, pemulihan produksi pasca El Niño yang mendorong volume semester II 2026, dan harga CPO yang masih sangat tinggi. 

Saham emiten CPO juga masih menarik mengingat valuasi yang masih terdiskon dan katalis B50 yang belum sepenuhnya terdiskon di harga. 

TAG: