Saham emiten pelayaran belum menjanjikan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Awan mendung masih menyelimuti emiten perkapalan. Belum kondusifnya iklim bisnis di sektor tersebut menjadi salah satu biang keladi.

"Terlebih, harga minyak dunia masih dalam tren tinggi," ujar William Surya Wijaya, Vice President Research Department Indosurya Bersinar Sekuritas, Senin (2/7).

PT Pelayaran Tempuran Emas Tbk (TMAS) menjadi salah satu korban sentimen tersebut. Profitabilitas perusahaan menurun setidaknya selama tiga tahun terakhir. Return on equity (ROE) TMAS tahun lalu hanya 5,2%. Padahal, di 2015 angkanya mencapai 17,8%. Sedang return on asset (ROA) TMAS hanya 1,8% dari sebelumnya hampir 40% pada periode 2015.


Manajemen TMAS sebelumnya mengungkapkan, selain karena iklim industri, penurunan itu juga karena meningkatnya beban operasional.

Asal tahu saja, sepanjang 2016-2017, perusahaan cukup agresif dalam memperbesar bisnis, yaitu berupa pembelian kapal-kapal baru. Sehingga, di akhir 2017 dengan armada sebanyak 34 unit, total kapasitas angkut TMAS mencapai 25.785 teus dengan umur kapal rata-rata 8 tahun. Selain itu TMAS juga menambah jumlah peti kemas menjadi 36.000 unit.

Penambahan armada ditambah tingginya biaya bahan bakar itulah yang menekan kinerja TMAS. Kondisi itu sepertinya masih akan berlanjut tahun ini. Terlebih, TMAS bakal terus berekspansi memanfaatkan program tol laut pemerintah.

Hal itu tercermin dari target laba bersih tahun ini yang sebesar Rp 150 miliar. Meski naik tiga kali lipat dibanding laba bersih tahun lalu sebesar Rp 53,3 miliar, angka itu turun 25% dari target sebelumnya yang diungkapkan, sekitar Rp 200 miliar.

Penurunan target laba bersih karena adanya penyesuaian terhadap peningkatan pengembangan bisnis tahun ini. Meski demikian, TMAS berkomitmen tetap akan mengejar efisiensi guna menjaga kinerja.

Salah satu caranya dengan berani memberikan penawaran sebesar Rp 1.500 dalam tender tol laut trayek T-9 yang melayani rute Surabaya – Nabire – Serui – Wasior. Dengan memenangkan tender tol laut, perusahaan bisa menghemat biaya antri kapal cukup besar.

William mengatakan, strategi sudah pasti berdasarkan pertimbangan matang dari manajemen TMAS. Tapi, jika itu justru menekan kinerja keuangan mungkin sebaiknya dikaji lagi strategi tersebut.

Namun, William menggarisbawahi, kurang menariknya prospek TMAS lebih ke sisi saham. Likuiditasnya rendah. "Kalau pun bergerak, itu hanya sementara dan belum konsisten," imbuhnya.

Investor memandang bisnis pelayaran harus benar-benar memerlihatkan soliditas dan kekuatan fundamental dari emitennya itu sendiri. Maka penting, kata William, bagi emiten pelayaran seperti TMAS untuk benar-benar membuktikannya supaya berdampak positif ke harga saham. ”Saya memilih tidak memberikan rekomendasi di pelayaran dan saham TMAS,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News