KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham emiten properti afiliasi Sugianto Kusuma alias Aguan masih belum bergairah sepanjang tahun 2026. PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (
PANI) dan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (
CBDK) kompak mengalami penurunan saham sejak awal tahun ini. Melansir RTI, PANI parkir di level Rp 6.475 per saham, anjlok 48,61% di sepanjang tahun ini. Sementara, CBDK parkir di Rp 3.490 per saham, amblas 60,11% secara
year to date (ytd).
Padahal, jika melihat operasional, kinerja PANI dan CBDK sebenarnya masih tergolong bagus di tahun ini.
Baca Juga: MAPI Bakal Bawa Balik Ace Hardware ke Indonesia, Buka Perdana Juli-Agustus 2026 PANI mencatat pendapatan sebesar Rp 1,1 triliun per kuartal I 2026, tumbuh 82% dibandingkan tahun lalu. Laba bersih tercatat Rp 578 miliar, meningkat lebih dari 10 kali lipat secara tahunan. Anak usahanya, CBDK, membukukan pendapatan sebesar Rp 743 miliar di kuartal I 2026, tumbuh 74% secara tahunan. Sementara laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk alias laba bersih tercatat Rp 542 miliar di kuartal I 2026, melonjak 317% secara tahunan. Di sisi lain, PANI dan CBDK masing-masing memutuskan hanya membagikan dividen tunai sebesar Rp 5 per saham dari buku tahun 2025. Dengan jumlah saham 18,11 miliar saham, total dividen tunai yang dibayarkan PANI dari buku tahun 2025 sebesar Rp 90,58 miliar. “Dengan
payout ratio 7%. Meskipun tidak signifikan, ini salah satu usaha yang kami lakukan saat ini lantaran masih mengembangkan proyek di PIK 2,” ujar Sekretaris Perusahaan PANI, Christy Grassela dalam Public Expose PANI, Kamis (11/6/2026) lalu. Sedangkan, dengan jumlah saham 5,66 miliar, CBDK akan membagikan total nilai dividen dari buku tahun 2025 sebesar Rp 28,34 miliar.
Baca Juga: IHSG Anjlok 3,5%, Meski MSCI Pertahankan Status Indonesia di Emerging Market Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie melihat, koreksi harga saham PANI saat ini lebih dipicu oleh sentimen eksternal dibandingkan dengan kinerja operasional perusahaan. “Aksi
buyback diperkirakan dapat menopang harga saham dalam jangka pendek, walaupun pertumbuhan jangka panjang tetap harus didorong oleh fundamental yang solid,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (24/6/2026). Terkait pembagian dividen PANI dari buku tahun 2025, besarannya memang kurang menarik bagi investor pemburu dividen. “Namun rasio pembayaran yang minim ini mengindikasikan bahwa emiten masih berfokus pada strategi ekspansi dengan menahan laba,” ungkapnya. Kevin Halim, Analis Maybank Sekuritas bilang, penurunan saham PANI dan CBDK sebagian juga diakibatkan karena gejolak pasar saham sejak awal tahun. Dari sisi fundamental, PANI dan CBDK masih kuat ditopang dengan balance sheet yang kuat. Pendapatan PANI di tahun ini juga diproyeksikan naik signifikan. Dari sisi pendapatan pra penjualan (
marketing sales), Kevin memproyeksikan PANI bisa mencatatkan pre-sales sebesar Rp4,3 triliun atau stagnan secara tahunan. “
Buyback saham CBDK pun dapat menjadi
support untuk harga saham. namun kami masih melihat bahwa gejolak pasar saham masih menjadi faktor yang lebih dominan,” tuturnya.
Baca Juga: Kinerja Saham Grup MIND ID Bervariasi, Simak Rekomendasinya Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menambahkan, investor sebaiknya bisa mencari saham emiten yang memberikan dividend yield di atas 5%. Ke depan, sentimen negatif yang akan memengaruhi kinerja PANI dan CBDK di tahun ini adalah tingginya tingkat suku bunga, lemahnya daya beli dan konsumsi, serta tingginya ketidakpastian membuat masyarakat akan cenderung berhati-hati. “Sentimen dari luar terkait dengan ketidakpastian juga membuat pelaku pasar dan investor cenderung berhati-hati saat ini,” ujarnya kepada Kontan, Rabu. Adrian berpandangan, secara operasional, kinerja PANI dan CBDK di tahun 2026 diproyeksikan tetap resilien yang didukung sentimen positif dari ramp-up utilisasi Nusantara International Convention Exhibition (NICE), kepemilikan lahan yang luas dengan valuasi harga tanah premium, serta realisasi
marketing sales dari tahun-tahun sebelumnya yang masih tergolong baik. Meskipun demikian, sektor properti masih dihadapkan pada tantangan berupa kebijakan kenaikan suku bunga acuan yang cukup agresif. “Ini berpotensi menjadi pemberat utama bagi emiten-emiten yang profil pendapatannya sangat bergantung pada
development income,” ungkapnya.
Baca Juga: JP Morgan Pangkas Proyeksi Minyak Brent di Semester II-2026, Ini Rinciannya Adrian pun merekomendasikan trading buy untuk PANI dengan target harga Rp 7.275 per saham. Kevin berpandangan, sentimen positif untuk kinerja PANI dan CBDK adalah meningkatnya aktivitas ekonomi dan purchasing power, serta confidence dari masyarakat sehingga dapat mendorong interest dari property buyer. Rekomendasi beli untuk PANI pun disematkan Kevin dengan target harga Rp 9.800 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News