KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham emiten sektor tembakau atau rokok diperkirakan akan bangkit di tahun 2026. Proyeksi ini seiring perkembangan kebijakan fiskal dan dinamika pasar pada awal tahun. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan menilai terdapat sejumlah faktor fundamental yang membuat saham-saham rokok kembali menarik bagi investor dan pelaku pasar.
Pertama, kepastian margin usaha akibat keputusan cukai menjadi katalis utama. Pemerintah memutuskan untuk tidak menaikkan tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) maupun Harga Jual Eceran (HJE) pada 2026. Keputusan ini memberikan ruang bernapas bagi emiten rokok setelah selama lima tahun terakhir margin laba emiten tertekan kenaikan cukai yang agresif.
Dengan tarif cukai yang stagnan, emiten besar seperti PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) berpeluang memperbaiki profitabilitas tanpa harus menaikkan harga jual secara signifikan, yang berisiko menekan daya beli konsumen.
Baca Juga: Fenomena Downtrading hingga Peredaran Rokok Ilegal Tekan Kinerja HM Sampoerna (HMSP) Kedua, valuasi saham rokok dinilai sudah sangat murah. Setelah mengalami tekanan, harga saham emiten tembakau kini berada di level terendah dalam satu dekade terakhir. Rasio
price to earnings (P/E) dan
price to book value (PBV) tercatat jauh di bawah rata-rata historisnya. "Investor melihat ini sebagai peluang beli di harga bawah," kata David kepada Kontan, Kamis (15/1/2026). Penguatan saham GGRM sebesar 7,86% secara year to date (ytd) dan HMSP naik 6,21% di awal tahun ini menjadi sinyal bahwa pasar mulai melirik saham-saham rokok yang dinilai
undervalued. "Secara historis, saham rokok sudah berada di level valuasi yang sangat murah. Momentum kebijakan ini bisa menjadi pemicu
re-rating harga saham ke level yang lebih wajar sepanjang tahun," tambah David.
Ketiga, kebijakan terhadap peredaran rokok ilegal turut menjadi sentimen positif tambahan. Usulan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terkait penambahan golongan atau layer baru CHT dinilai dapat mempersempit celah harga antara rokok legal dan rokok ilegal maupun rokok golongan rendah. Selama ini, emiten rokok legal golongan satu kerap kalah bersaing akibat disparitas tarif yang lebar. Penambahan layer cukai diharapkan dapat menciptakan persaingan yang lebih sehat sehingga produk rokok legal kembali kompetitif di pasar.
Keempat, sektor rokok memiliki karakter defensif di tengah kondisi konsumsi masyarakat yang masih rapuh. Data makro Januari 2026 menunjukkan saldo tabungan masyarakat cenderung menurun, sementara belanja konsumsi tetap tinggi. Sebagai produk dengan tingkat loyalitas konsumen yang tinggi, permintaan rokok relatif tidak elastis. Dalam kondisi ekonomi yang tertekan, konsumen umumnya tetap merokok namun melakukan
downtrading ke jenama dengan harga lebih terjangkau. Emiten yang telah menyiapkan produk di segmen bawah, seperti strategi produk tier 2 yang dijalankan GGRM, berpeluang menjaga volume penjualan.
Baca Juga: Menkeu Mau Tambah Layer Tarif Cukai, Saham Rokok Kompak Menghijau Hari Ini (15/1) Sementara itu, produk rokok tanpa asap milik HMSP dinilai sebagai investasi jangka panjang. Meskipun kontribusi penjualannya belum mendominasi dibandingkan sigaret kretek tangan (SKT) atau sigaret kretek mesin (SKM), produk tanpa asap seperti IQOS memberikan margin yang lebih tinggi dan membangun profil risiko yang lebih baik (ESG). Strategi ini juga membuat HMSP tetap relevan bagi investor asing yang mulai membatasi investasi di rokok konvensional.
Kelima, daya tarik dividen juga menjadi pertimbangan utama, terutama untuk HMSP yang dikenal konsisten membagikan dividen. Dengan laba yang diproyeksikan lebih stabil pada 2026 seiring tidak naiknya beban cukai, dividend yield emiten rokok diperkirakan akan lebih menarik dibandingkan suku bunga deposito maupun imbal hasil surat berharga negara (SBN). "Ini menjadikannya instrumen
safe haven penghasil
passive income," tambah David.
Pilihan Saham
David menyebutkan, diantara saham emiten rokok, pilihan saham utama yang layak dicermati saat ini ialah GGRM. Sejak awal tahun, GGRM menunjukkan momentum
bullish yang kuat. Emiten ini turut diuntungkan oleh pemulihan konsumsi di segmen menengah hingga bawah, serta peluang pembagian dividen yang lebih menarik seiring penerapan efisiensi anggaran internal. Sementara itu, HMSP dinilai lebih sesuai sebagai pilihan berbasis dividen atau
income play. HMSP masih mempertahankan reputasinya sebagai emiten dengan rasio pembagian dividen yang tinggi. Kenaikan harga saham sebesar 6,9% ytd mengindikasikan saham ini mulai bergerak naik dari level terendahnya, sehingga cocok bagi investor yang mengedepankan stabilitas dan pendapatan dividen. Adapun sebagai alternatif yang bersifat lebih spekulatif, David menilai PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) dapat menjadi opsi tambahan bagi investor.
Baca Juga: Tarif Cukai Rokok Tidak Naik di Tahun 2026, Begini Rekomendasi Saham Sektor Rokok Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News