Saham Energi Hijau Ada Katalis Positif, Cek Rekomendasi BREN, KEEN, TOBA, PGEO



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Saham emiten energi hijau memiliki sejumlah katalis yang layak dicermati investor, mulai dari rencana pembelian kembali saham, ekspansi kapasitas pembangkit energi baru terbarukan (EBT), hingga pengembangan bisnis pengelolaan limbah.

Sejumlah katalis tersebut mewarnai prospek saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN), PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), dengan rekomendasi investasi yang beragam dari para analis.

1. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)


BREN telah memiliki kapasitas terpasang untuk proyek geotermal sebesar 989 megawatt (MW) pada 2025 melalui sejumlah proyek pengembangan dan inisiatif optimasi. Posisi dominan tersebut memberikan fondasi kuat bagi BREN untuk menangkap pertumbuhan permintaan listrik berbasis energi bersih di Indonesia. Perseroan menargetkan peningkatan kapasitas menjadi sekitar 2,3 GW hingga 2,8 GW pada tahun 2032 melalui kombinasi optimalisasi aset eksisting, pengembangan proyek panas bumi baru (greenfield geothermal developments) dan ekspansi ke proyek energi angin.

Selain itu, BREN dikabarkan mengajukan penawaran untuk mengakuisisi perusahaan panas bumi asal Filipina, Energy Development Corp (EDC), dengan nilai sekitar US$ 5 miliar. Jika terealisasi, transaksi ini berpotensi menjadi salah satu akuisisi energi terbarukan terbesar di Asia dalam beberapa tahun terakhir. 

Tapi, BREN kembali menjadi perhatian investor pasar modal setelah mengumumkan rencana pembelian kembali saham atau buyback dengan dana maksimal Rp 1 triliun. Aksi korporasi tersebut dijadwalkan berlangsung pada 19 Oktober hingga 31 Desember 2026, di tengah volatilitas pasar saham dan perkembangan terbaru penegakan aturan pasar modal oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Rekomendasi: Sell on Strength

Support: Rp 2.100

Resistance: Rp 2.470

Praktisi Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto 

Baca Juga: Amman Mineral (AMMN) Buyback Rp 1 Triliun, Ini Rekomendasi Analis

2. PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN) 

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 merencanakan penambahan kapasitas EBT baru sekitar 42,6 GW dan penyimpanan energi sebesar 10,3 GW. Penambahan tersebut terutama berasal dari energi surya sebesar 17,1 GW, tenaga air 11,7 GW, energi angin 7,2 GW, dan panas bumi 5,1 GW.

Bagi KEEN, yang memiliki aset di Sumatra Utara dan Kalimantan, kondisi hidrologi lebih menentukan produksi listrik dibandingkan akses jaringan. Oleh karena itu, musim yang lebih basah akan menjadi faktor positif. Energi surya diperkirakan menjadi pendorong utama fase pertumbuhan kapasitas berikutnya melalui program pemerintah berkapasitas 100 GWp. Program tersebut ditargetkan rampung pada 2029 dan memiliki skala hampir enam kali lipat dibandingkan target energi surya sebesar 17,1 GW dalam RUPTL.

Untuk tahun 2026 tambahan kapasitas pembangkit KEEN adalah 10 MW yang berasal dari PLTM Salu Noling yang ditargetkan selesai konstruksi dan dapat COD (beroperasi secara komersial) pada kuartal II-2026. Dengan beroperasinya PLTM Salu Noling, kapasitas terpasang pembangkit KEEN bakal mencapai 79,5 MW. Sebagai perbandingan, kapasitas KEEN per tahun 2025 adalah 69,5 MW yang mencakup Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), PLTM, Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Rekomendasi: Buy

Target harga: Rp 1.300

Analis MNC Sekuritas Christian Sitorus

Baca Juga: BEI Lanjutkan Suspensi Saham PTPP Saat Restrukturisasi Utang Rp 18,2 Triliun

3. PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA)

TOBA berpeluang mempercepat ekspansi bisnis pengelolaan limbah di Asia melalui akuisisi, seiring rencana investasi maksimal S$ 555 juta dari HPS Investment Partners, bagian dari BlackRock. Investasi tersebut akan dilakukan bertahap melalui penerbitan saham preferen baru SBTH Asia Holdings Pte. Ltd. (SBTH), perusahaan induk platform pengelolaan limbah TBS serta instrumen lainnya.

Namun rencana investasi itu masih menunggu persetujuan pemegang saham TOBA melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Dana yang dihimpun nantinya ditujukan untuk mendukung pertumbuhan bisnis pengelolaan limbah di kawasan Asia.

Saat ini, TOBA menjalankan bisnis pengelolaan limbah di Indonesia dan Singapura melalui tiga perusahaan operasional, yakni Cora Environment Pte. Ltd., Asia Medical Enviro Services Pte. Ltd., dan PT Arah Environmental Indonesia. Secara kolektif, ketiga perusahaan tersebut mengumpulkan sekitar 760.000 ton limbah sepanjang semester I-2026. Cora Environment melayani lebih dari 470.000 rumah tangga dan bisnis di Singapura, sedangkan Arah Environmental beroperasi di 15 provinsi Indonesia.

Rekomendasi: Trading Buy atau Accumulation Buy

Target harga: Rp 580-Rp 615

Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas

Baca Juga: Rupiah Berpotensi Melemah Lagi Senin (26/10), Dibayangi Harga Minyak dan Arus Asing

4. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) 

PGEO merupakan pemain utama di industri panas bumi Indonesia. Perusahaan memiliki kapasitas pembangkit yang dioperasikan sendiri sebesar 715 MW di enam wilayah kerja, serta menerima royalti sebesar 4% secara berkelanjutan atas kapasitas 1.216 MW yang dioperasikan oleh Star Energy dan Sarulla. Sebanyak 96% pendapatan PGEO terikat dalam kontrak dengan grup PLN selama 30 tahun, dengan ketentuan pembayaran minimum (take-or-pay) sebesar 69%-90% serta penyesuaian tarif berdasarkan indeks harga konsumen dan indeks harga produsen Amerika Serikat (AS).

Momentum operasional perusahaan masih solid. Pada semester I-2026, pendapatan tumbuh 14,7% secara tahunan (YoY), dengan margin EBITDA sebesar 78,3% dan faktor kapasitas mencapai 90,4%. Kinerja Karaha juga mulai pulih, sementara program kogenerasi masih berjalan sesuai jadwal.

Dengan tarif batas atas saat ini sebesar 9,5 sen AS per kWh, kami memperkirakan pembangkit baru yang menggunakan teknologi flash hanya menghasilkan tingkat pengembalian yang mendekati biaya modal. RUPTL menargetkan penambahan kapasitas panas bumi sebesar 5,1 GW hingga 2034, dengan 89% di antaranya berasal dari pengembang listrik swasta atau Independent Power Producers (IPP). 

Rekomendasi: Hold

Target harga: Rp 1.065

Head of Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News