Saham Energi Terbarukan Berjatuhan, Begini Rekomendasi Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham-saham emiten pengembang energi terbarukan tampak berguguran sepanjang 2026 berjalan. Padahal, emiten di sektor ini menyimpan potensi pertumbuhan kinerja yang positif pada masa mendatang.

Harga saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) terpantau melemah tajam 22,12% year to date (ytd) atau sejak awal tahun ke level Rp 880 per saham hingga Senin (6/7/2026). Kinerja saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) lebih parah lagi, mengingat anjlok 64,44% ytd ke level Rp 3.440 per saham. Selain itu, saham PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) anjlok 32,21% ytd ke level Rp 4.830 per saham. PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN) juga mengalami penurunan harga saham mencapai 19,51% ytd ke level Rp 825 per saham. Ada pula saham PT Hero Global Investment Tbk (HGII) yang menurun 20,13% ytd ke level Rp 123 per saham.

Baca Juga: Dibayangi Sentimen Kebijakan Ekspor Satu Pintu, Simak Rekomendasi Saham ITMG Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan, khusus untuk BREN, pelemahan harga saham emiten tersebut sangat erat kaitannya dengan isu saham terkonsentrasi tinggi atau high shareholder concentration (HSC) dari MSCI yang memaksa arus dana pasif keluar secara mekanis. Ditambah lagi, likuiditas BREN terbatas sehingga memperparah volatilitas saham tersebut.


Di sisi lain, tekanan harga saham yang dialami PGEO, ARKO, KEEN, dan HGII lebih bersifat valuasi. Dalam hal ini, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menjadi 5,75% telah mengerek tingkat diskon yang langsung menghantam valuasi emiten energi terbarukan yang arus kasnya bersifat jangka panjang.

"Hal ini diperparah oleh sentimen keterlambatan commisioning operation date (COD) dan kepastian tarif offtake yang belum sepenuhnya terselesaikan," ujar dia, Senin (6/7/2026).

Senada, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menyampaikan, koreksi tajam saham BREN dipicu oleh sentimen eksklusi MSCI akibat isu HSC dan free float yang memicu outflow dana pasif secara masif.

Sebaliknya, penurunan yang dialami saham PGEO lebih disebabkan oleh tekanan valuasi usai peningkatan harga yang berlebihan. Adapun tekanan yang melanda saham ARKO, KEEN, dan HGII lebih dipengaruhi oleh likuiditas yang minim pada saham berkapitalisasi rendah dan menengah.

Dari sisi fundamental, tantangan struktural masih dihadapi oleh emiten-emiten pada 2026. Di antaranya adalah negosiasi tarif antara emiten pengembang pembangkit energi terbarukan dengan PLN yang selalu alot, infrastruktur jaringan distribusi listrik yang belum siap, hingga kepastian pendanaan untuk proyek yang sering molor sekitar 12 bulan - 24 bulan.

Baca Juga: Cek Rekomendasi Teknikal Saham AADI, PWON, UNTR untuk Selasa (7/7)

Secara umum, Wafi memperkirakan prospek kinerja emiten pengembang energi terbarukan masih cukup konstruktif pada semester II-2026. Namun, daya tarik sektor ini lebih terfokus pada aspek tema dalam jangka panjang dibandingkan katalis pendapatan dalam jangka pendek.

"Sentimen positif di sektor ini adalah kehadiran program B50 yang memperkuat narasi ketahanan energi dan pipeline proyek energi terbarukan pemerintah yang besar," ungkap Wafi, Senin (6/7/2026).

Abida juga menyatakan, sektor energi terbarukan secara struktural tetap menarik dalam jangka menengah, meski tantangan jangka pendek masih ada. Misalnya, efek kenaikan suku bunga acuan yang menekan valuasi, kepastian tarif jual-beli listrik yang membutuhkan waktu, hingga likuiditas terbatas untuk saham energi terbarukan mid-cap.

Wafi menimpali, untuk mengatasi berbagai tantangan sekaligus meningkatkan kinerja keuangan, emiten energi terbarukan perlu mempercepat penutupan keuangan (financial close) proyek sebelum biaya modal naik serta mendiversifikasi offtaker di luar PLN.

Dari situ, emiten energi terbarukan yang telah memiliki aset beroperasi, Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik yang sudah terkunci dalam jangka panjang, dan neraca keuangan kuat berpotensi mencetak kinerja unggul dalam beberapa waktu mendatang.

Lantas, dari sekian emiten, Wafi menjagokan PGEO berkat rekam jejak operasional solid, keunggulan berupa aset panas bumi yang besar, dan dukungan Pertamina Group. Dia menargetkan harga saham PGEO dapat mencapai level Rp 1.050 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News