KONTAN.CO.ID - MOSKOW. Saham raksasa energi milik negara Rusia, Gazprom, merosot ke bawah level 100 rubel pada Senin (22/6), menandai titik terendah sejak 2009 berdasarkan data Bursa Efek Moskow. Penurunan ini mencerminkan tekanan berat yang terus dihadapi perusahaan gas terbesar Rusia tersebut di tengah berbagai tantangan geopolitik dan bisnis yang berkepanjangan. Menurut data perdagangan, saham Gazprom sempat menyentuh level 99,9 rubel pada sesi perdagangan sebelum akhirnya berada di posisi 100,65 rubel, turun 3,67% dibandingkan hari sebelumnya.
Kinerja saham Gazprom dalam setahun terakhir juga menunjukkan tren negatif. Nilainya telah merosot sekitar 20% dalam 12 bulan terakhir, sehingga kapitalisasi pasar perusahaan kini hanya mencapai sekitar 2,382 triliun rubel atau setara US$ 32,15 miliar. Angka tersebut sangat jauh dari target ambisius yang pernah disampaikan manajemen perusahaan pada 2008, ketika Gazprom diproyeksikan dapat mencapai valuasi hingga US$ 1 triliun.
Baca Juga: Arus Kapal Tanker Kembali Meningkat di Selat Hormuz, Harga Minyak Terkoreksi Sejumlah Faktor Menekan Kinerja Gazprom
Analis menilai pelemahan saham Gazprom dipicu oleh sejumlah faktor yang terjadi secara bersamaan. Salah satu faktor utama adalah keputusan negara-negara Eropa untuk mengurangi dan bahkan menghentikan ketergantungan terhadap energi Rusia sejak pecahnya konflik antara Rusia dan Ukraina. Kebijakan tersebut telah menggerus pasar ekspor utama Gazprom yang selama puluhan tahun menjadi sumber pendapatan terbesar perusahaan. Selain itu, penurunan harga minyak dunia turut membebani sentimen pasar terhadap sektor energi Rusia. Harga minyak tertekan seiring perkembangan positif dalam perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi membuka jalan bagi peningkatan pasokan minyak global. Di sisi lain, Gazprom juga belum berhasil mengamankan kontrak baru penjualan gas alam dengan China. Kegagalan mencapai kesepakatan baru dengan pasar terbesar di Asia tersebut semakin meningkatkan kekhawatiran investor terhadap prospek pertumbuhan perusahaan.
Serangan Drone Ukraina Perburuk Sentimen Investor
Sentimen negatif terhadap Gazprom juga diperburuk oleh serangan drone Ukraina pekan lalu yang menargetkan kilang minyak di Moskow milik Gazprom Neft, unit bisnis minyak Gazprom. Insiden tersebut meningkatkan kekhawatiran investor mengenai risiko operasional dan keamanan aset energi Rusia di tengah konflik yang masih berlangsung. Analis juga mencatat bahwa Gazprom belum membagikan dividen kepada pemegang saham dalam beberapa tahun terakhir, sehingga daya tarik saham perusahaan di mata investor semakin berkurang.
Baca Juga: Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, 3 Warga Prancis Meninggal Kapitalisasi Pasar Menyusut Tajam
Merosotnya harga saham Gazprom menjadi simbol perubahan besar dalam lanskap energi global selama beberapa tahun terakhir. Sebelum konflik Ukraina dan gelombang sanksi Barat terhadap Rusia, Gazprom dikenal sebagai salah satu perusahaan energi paling dominan di dunia dengan akses luas ke pasar Eropa. Namun kini, kombinasi penurunan ekspor gas ke Eropa, tekanan harga energi, tantangan geopolitik, serta ketidakpastian ekspansi ke pasar Asia telah memangkas nilai perusahaan secara signifikan. Dengan kapitalisasi pasar sekitar US$ 32 miliar, Gazprom berada jauh di bawah ekspektasi yang pernah digadang-gadang hampir dua dekade lalu untuk menjadi perusahaan bernilai US$ 1 triliun.