KONTAN.CO.ID - LONDON. Saham global menuju kenaikan mingguan terkuat sejak Mei pada Jumat (7/8/2026), didukung optimisme investor terhadap pertumbuhan laba perusahaan yang solid dan antusiasme terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI). Sentimen tersebut mampu meredam kekhawatiran pasar terhadap konflik di Timur Tengah. Indeks saham global MSCI All-World mencatat kenaikan sekitar 2,4% sepanjang pekan ini. Penguatan tersebut menjadi yang terbesar dalam tiga bulan terakhir. Pada perdagangan Jumat, indeks tersebut bergerak relatif stabil. Di Eropa, indeks STOXX 600 naik 0,6% pada perdagangan Jumat dan menguat sekitar 2% sepanjang pekan. Penguatan terutama ditopang oleh saham perusahaan farmasi dan teknologi.
Setelah mengalami volatilitas akibat kekhawatiran mengenai keberlanjutan reli saham yang didorong oleh AI, perhatian investor kini tertuju pada data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang akan dirilis pada Jumat.
Baca Juga: AS Kehilangan 23.000 Pekerjaan pada Juli, Tekanan terhadap The Fed Menguat Data payrolls AS diperkirakan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) selanjutnya. Konsensus pasar memperkirakan penambahan lapangan kerja di AS mencapai 80.000 pada Juli 2026, meningkat dari 57.000 pada Juni. Sementara itu, tingkat pengangguran diperkirakan tetap berada di level 4,2%.
Pasar Terbelah soal Suku Bunga The Fed
Pasar uang menunjukkan investor masih terpecah mengenai kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga pada bulan depan. Karena itu, data payrolls AS berpotensi menjadi penentu arah ekspektasi kebijakan moneter. Michael Feroli, Kepala Ekonom AS di JPMorgan, mengatakan imbal hasil obligasi dan inflasi masih menjadi risiko utama bagi pasar saham. "Dengan imbal hasil dan inflasi yang masih menjadi risiko utama bagi saham, kami memperkirakan data NFP pada Jumat akan menjadi rilis 'kabar baik adalah kabar buruk'," ujar Feroli. Menurut dia, data tenaga kerja yang kuat dapat memperkuat ekspektasi suku bunga tetap tinggi dalam waktu lebih lama dan memberikan tekanan terhadap kenaikan suku bunga pasar. Sebaliknya, pasar saham berpotensi merespons positif apabila data nonfarm payrolls menunjukkan pelemahan. Kondisi tersebut dapat mendorong penurunan imbal hasil obligasi sekaligus menggeser ekspektasi kebijakan The Fed ke arah yang lebih dovish. Analis menilai data ketenagakerjaan kali ini dapat memberikan dampak lebih besar terhadap pasar karena minimnya panduan mengenai arah kebijakan moneter dari Ketua The Fed Kevin Warsh. David Stritch, strategist Caxton, mengatakan data ekonomi yang sangat lemah ataupun sangat kuat dapat memberikan pengaruh jauh lebih besar terhadap harga aset dibandingkan sebelumnya. "Rilis data yang sangat buruk atau sangat kuat dapat menghasilkan dampak yang jauh lebih besar terhadap harga dibandingkan sebelumnya, ketika The Fed jauh lebih jelas mengenai pilihan kebijakannya. Kekosongan informasi harus diisi oleh apa pun yang tersedia dan pasar memang akan memilih dirinya sendiri sebagai solusi. Saya menduga dampak praktisnya adalah peningkatan volatilitas secara luas," kata Stritch.
Baca Juga: Inpex Naikkan Proyeksi Laba 2026 hingga 46% Jadi Rekor 510 Miliar Yen Bursa AS Berpotensi Menguat
Di pasar Amerika Serikat, kontrak berjangka Nasdaq naik 0,6%, sedangkan kontrak berjangka S&P 500 menguat 0,3%. Saham perusahaan penyedia layanan cloud Cloudflare melonjak sekitar 16% dalam perdagangan pra-pembukaan pada Jumat. Kenaikan tersebut melanjutkan lonjakan sekitar 18% setelah penutupan perdagangan Kamis, menyusul proyeksi kinerja perusahaan yang positif. Perkembangan kinerja perusahaan teknologi dan prospek pertumbuhan berbasis AI menjadi salah satu penopang utama sentimen positif di pasar saham global sepanjang pekan ini.
Harga Minyak Kembali Bergerak Naik
Di pasar komoditas, perhatian investor juga tertuju pada perkembangan konflik di Timur Tengah yang kembali memanas setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran menyerang Arab Saudi, salah satu pemasok minyak utama dunia. Arab Saudi memperingatkan bahwa serangan terkoordinasi oleh Houthi dan milisi Irak yang didukung Iran berpotensi segera terjadi. Namun, harga minyak Brent justru berbalik turun 0,7% pada Jumat ke sekitar US$82 per barel. Investor dinilai masih mengabaikan peringatan Arab Saudi terkait potensi serangan lanjutan. Sementara itu, Iran tengah meninjau rancangan undang-undang awal yang akan melarang kapal Amerika Serikat, Israel, dan negara lain yang dianggap "bermusuhan" melintas di Selat Hormuz. Laporan tersebut disampaikan kantor berita semi-resmi Iran, Fars, pada Kamis dengan mengutip seorang anggota parlemen. Rancangan aturan tersebut akan mengenakan denda hingga 20% dari nilai muatan kapal bagi pihak yang melanggar pembatasan yang diusulkan.
Imbal Hasil Obligasi dan Dolar Stabil
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS relatif tidak berubah pada Jumat. Ketidakpastian menjelang rilis data tenaga kerja membuat aktivitas perdagangan cenderung terbatas. Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor dua tahun berada di sekitar 4,243%, sedangkan tenor 10 tahun berada di level 4,67%.
Baca Juga: Serangan Drone Ukraina Guncang Wildberries, Bisnis Ritel Rusia Tertekan Keras Di pasar valuta asing, dolar AS juga bergerak stabil. Posisi tersebut membuat yen Jepang berada di sekitar 158,3 yen per dolar AS. Data ketenagakerjaan AS berpotensi menentukan arah pergerakan yen berikutnya setelah intervensi bersejarah di pasar valuta asing oleh Jepang dan AS pada pekan lalu memicu penguatan tajam mata uang tersebut.
Harga Emas Naik Hampir 7%
Sementara itu, harga emas bergerak berlawanan dengan dolar AS. Harga emas mencatat level tertinggi dalam sekitar enam pekan pada pekan ini, ketika dolar AS berada di sekitar level terendah dalam enam pekan. Harga emas telah melonjak hampir 7% sepanjang pekan ini. Kenaikan tersebut menjadi penguatan mingguan terkuat sejak pertengahan Januari, ketika harga emas mencapai rekor US$5.594 per ons. Pada perdagangan terakhir, harga emas naik 2% menjadi sekitar US$4.322 per ons. Pergerakan emas menunjukkan investor masih mencari aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global, terutama terkait arah suku bunga AS, pergerakan dolar, serta meningkatnya kembali risiko geopolitik di Timur Tengah.