KONTAN.CO.ID - NEW YORK/LONDON. Pasar saham global ditutup melemah pada Selasa (24/3/2026), sementara harga minyak melanjutkan kenaikan tajam seiring meningkatnya ketidakpastian terkait konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran. Kekhawatiran utama pasar berpusat pada durasi perang dan dampaknya terhadap pasokan energi serta perdagangan global. Gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur vital bagi sekitar seperlima distribusi minyak dan gas dunia, menjadi pemicu lonjakan harga minyak.
“Masih banyak ketidakjelasan mengenai Iran, berapa lama operasi militer akan berlangsung, dan dampaknya terhadap minyak serta perdagangan global,” ujar Oliver Pursche, penasihat senior di Wealthspire Advisors.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Memanas, Ini Saham-saham yang Berpotensi Kena Imbas Di Wall Street, indeks utama ditutup di zona merah. Dow Jones Industrial Average turun 0,18% ke 46.124,06, S&P 500 melemah 0,37% ke 6.556,37, dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,84% ke 21.761,89. Sektor komunikasi dan teknologi menjadi penekan utama pergerakan indeks. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut membebani pasar saham, dipicu oleh lemahnya lelang obligasi tenor dua tahun. Sementara itu, dolar AS kembali menguat setelah sebelumnya sempat tertekan. Di pasar energi, harga minyak Brent ditutup naik ke US$ 104,49 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) melonjak 4,79% menjadi US$92,35 per barel. Keterbatasan pasokan akibat konflik diperkirakan akan menjaga harga minyak tetap tinggi dalam waktu dekat. Di Eropa, indeks STOXX 600 menguat 0,43%. Namun, data terbaru menunjukkan pertumbuhan sektor swasta di zona euro hampir stagnan bulan ini. Lonjakan ekspektasi inflasi dan gangguan rantai pasok memperkuat indikasi bahwa kawasan tersebut mulai terdampak langsung oleh konflik geopolitik.
Baca Juga: Harga Minyak Naik Lebih dari US$1 Rabu (4/3): Brent ke US$82,53 & WTI ke US$75,37 Tekanan inflasi yang berpotensi bertahan membuat sebagian pejabat bank sentral AS mulai mempertimbangkan untuk menahan atau bahkan menaikkan suku bunga. Hal ini menggeser ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter ke depan. Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik menjadi 4,356%. Indeks dolar menguat tipis ke 99,24, dengan euro melemah ke US$1,1602 dan yen Jepang terdepresiasi ke 158,72 per dolar AS. Sementara itu, harga emas spot naik 1,34% ke US$4.464,66 per ons, mencerminkan meningkatnya permintaan aset aman di tengah ketidakpastian global.