KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Saham global bergerak menguat pada Selasa (27/10/2026), sementara harga minyak mentah melemah. Pelaku pasar mencermati perkembangan upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah, di tengah penantian laporan keuangan perusahaan teknologi besar Amerika Serikat (AS) dan keputusan sejumlah bank sentral utama dunia. Perkembangan tersebut menjadi perhatian investor karena berpotensi memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi, biaya operasional perusahaan, serta arah suku bunga global dalam jangka pendek. Pemimpin tertinggi Iran bertemu dengan kepala keamanan negara tersebut untuk membahas pentingnya memperjuangkan kepentingan Iran dan menerapkan persyaratan yang diajukan guna mengakhiri perang. Media pemerintah Iran juga melaporkan pembahasan mengenai situasi yang disebut sebagai "tidak ada perang maupun perdamaian".
Upaya diplomatik turut berlangsung di Teheran dengan kehadiran perwakilan Arab Saudi, Turki, dan Pakistan. Perkembangan ini menjadi salah satu faktor yang dicermati pasar di tengah ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah. Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent berbalik melemah setelah sebelumnya menguat. Pada perdagangan Selasa, harga Brent turun 1% menjadi US$ 114,74 per barel.
Baca Juga: Coca-Cola Naikkan Proyeksi Laba 2026, Andalkan Minuman Bebas Gula Sementara itu, indeks saham Eropa STOXX 600 naik tipis 0,1%. Kontrak berjangka indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing menguat 0,2% dan 0,3%. Di Eropa, saham perbankan menjadi perhatian investor setelah HSBC, bank dengan aset terbesar di kawasan tersebut, turun 6,7%. Penurunan ini terjadi setelah pendapatan HSBC pada kuartal III-2026, periode Juli hingga September, tidak memenuhi ekspektasi pasar akibat pertumbuhan bisnis pengelolaan kekayaan yang lebih lambat. Meski demikian, laba sebelum pajak perseroan sesuai dengan perkiraan analis. Analis pasar senior Swissquote Bank, Ipek Ozkardeskaya, mengatakan sektor perbankan sebelumnya menjadi salah satu pemenang pada kuartal terakhir berkat tingginya volatilitas pasar dan pembiayaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). "Namun, saat ini, mereka menghadapi tekanan karena imbal hasil jangka pendek meningkat lebih tinggi dibandingkan imbal hasil jangka panjang. Kondisi tersebut pada dasarnya menggerus pendapatan mereka," kata Ozkardeskaya. Ia menambahkan, perbankan masih berada dalam posisi yang lebih baik dibandingkan sektor-sektor lain yang lebih rentan terhadap kenaikan biaya. Secara global, laporan kinerja keuangan kuartalan menjadi fokus utama investor. Pasar berupaya memperkirakan dampak konflik Iran terhadap kinerja perusahaan, terutama melalui kenaikan biaya operasional dan suku bunga.
Laporan Keuangan Perusahaan AS Jadi Sorotan
Pekan ini, lebih dari sepertiga perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500 diperkirakan merilis laporan keuangan. Sejumlah hasil yang diumumkan pada Selasa menunjukkan gambaran kinerja perusahaan yang beragam.
Baca Juga: Restrukturisasi Berhasil, Porsche Cetak Kenaikan Laba Tinggi di September 2026 Coca-Cola dan perusahaan logistik United Parcel Service (UPS) menaikkan proyeksi kinerja tahunan mereka. Sebaliknya, laporan Hilton dan JetBlue mencerminkan tekanan kenaikan biaya yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah. Perhatian investor selanjutnya tertuju pada perusahaan teknologi besar yang bergerak di bidang infrastruktur AI atau hyperscaler, termasuk Microsoft, Amazon, dan Alphabet. Laporan keuangan perusahaan-perusahaan tersebut dinantikan untuk mengukur apakah investasi bernilai miliaran dolar AS yang digelontorkan ke sektor AI mulai menghasilkan imbal hasil sesuai harapan. Dalam perdagangan prapasar, saham Microsoft turun 0,8%, sedangkan Amazon dan Alphabet mencatatkan kenaikan tipis. Ekonom Jefferies, Mohit Kumar, mengatakan pihaknya masih optimistis terhadap prospek investasi di sektor penyedia infrastruktur AI dalam jangka menengah. "Kami tetap optimistis terhadap investasi pada perusahaan penyedia infrastruktur AI dalam jangka menengah. Kami melihat siklus belanja modal masih akan kuat dan kinerja laba tetap solid," ujar Kumar. "Namun, kami mengakui bahwa, seperti siklus lainnya, akan ada pemenang dan pihak yang kalah dalam investasi AI. Sejumlah perusahaan tidak akan mampu mempertahankan profitabilitasnya dan bahkan bisa bangkrut." Kinerja keuangan perusahaan teknologi besar juga berpotensi memengaruhi minat investor terhadap rencana penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) Anthropic, salah satu perusahaan AI yang menjadi perhatian pasar. Selain itu, Meta Platforms tengah merencanakan penggalangan dana melalui penerbitan saham senilai US$ 95 miliar.
Bank Sentral Diperkirakan Mempertahankan Suku Bunga
Selain laporan keuangan perusahaan, investor juga menantikan keputusan kebijakan moneter dari Federal Reserve (The Fed), Bank Sentral Eropa (ECB), dan Bank Sentral Jepang (BOJ) yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.
Baca Juga: Rusia-Ukraina Mulai Gencatan Senjata di Oleshky, Serangan di Wilayah Lain Berlanjut Para ekonom memperkirakan ketiga bank sentral tersebut akan mempertahankan suku bunga acuan. Dengan demikian, perhatian pasar akan tertuju pada pernyataan para pembuat kebijakan untuk memperoleh petunjuk mengenai arah suku bunga berikutnya. Pejabat The Fed sebelumnya telah memberikan sinyal bahwa bank sentral AS tidak akan kembali menaikkan biaya pinjaman jangka pendek pada pertemuan Rabu. Namun, kekhawatiran terhadap inflasi masih menjadi perhatian utama.
Investor menilai jeda kenaikan suku bunga tersebut kemungkinan tidak akan berlangsung lama. Pelaku pasar bahkan mulai memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga The Fed pada Desember mendatang. Di pasar valuta asing, euro melemah 0,2% menjadi US$ 1,114. Posisi tersebut mendekati level terendah euro pada Mei yang tercatat dua pekan sebelumnya. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun relatif stabil di level 4,974%, masih berada di bawah ambang 5%. Level tersebut sempat ditembus pada September ketika investor beralih ke obligasi pemerintah AS sebagai aset yang lebih aman di tengah gejolak pasar saham akibat kekhawatiran terhadap prospek investasi AI. Harga emas di pasar spot juga melemah 0,1% menjadi US$ 4.010,96 per ons troi. Pergerakan emas, dolar AS, obligasi, dan saham global terus dicermati investor untuk mengukur dampak perkembangan geopolitik serta prospek kebijakan moneter terhadap pasar keuangan.