KONTAN.CO.ID - Pasar saham global bergerak menguat tipis pada perdagangan Kamis (13/8/2026), sementara harga minyak bertahan di bawah level US$90 per barel. Investor kembali mencermati perkembangan konflik Iran setelah data ekonomi Amerika Serikat yang lebih lunak memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga pada September.
Baca Juga: Selat Hormuz Disebut Iran Masih di Bawah Kendali Teheran Pelaku pasar kini memperkirakan probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan September mencapai 65%, naik dari sekitar 50% sebelum rilis data ekonomi dan inflasi terbaru. Harga minyak turun tipis ke sekitar US$88 per barel. Prospek melemahnya permintaan global menjadi penekan harga, meski kebuntuan negosiasi perdamaian terkait Iran masih memberikan dukungan terhadap harga minyak. Persediaan minyak mentah komersial Amerika Serikat mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak Januari 2023. Di saat yang sama, OPEC memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia 2026. Saham Teknologi Jadi Penopang Saham teknologi menjadi salah satu penopang pasar setelah sejumlah perusahaan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) membukukan kinerja positif. Indeks semikonduktor AS melonjak sekitar 2,5%, menjadi kenaikan harian terbesar dalam hampir sepekan. Indeks Nasdaq juga mengungguli indeks saham utama lainnya.
Baca Juga: Bursa Australia Ditutup Turun Kamis (13/8), Saham Tambang dan CBA Jadi Beban Indeks saham global MSCI naik 0,10%, sedangkan indeks STOXX 600 Eropa menguat 0,11%. Saham sektor teknologi Eropa bertambah 0,13%. Kontrak berjangka Nasdaq naik 0,03%, sementara kontrak berjangka S&P 500 menguat 0,09%. "Musim laporan keuangan perusahaan infrastruktur AI berlangsung kuat dan belum menunjukkan tanda-tanda perlambatan belanja modal," ujar Mohit Kumar, ekonom Jefferies. Menurut dia, likuiditas yang masih tinggi di sistem keuangan serta pandangan bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga dapat terus mendukung aset-aset berisiko. Di Asia, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 1,08%, dipimpin saham Korea Selatan yang melonjak 3,78%. Indeks Nikkei Jepang juga naik 1,67%, terutama ditopang saham terkait chip dan prospek kinerja perusahaan yang solid. Investor selanjutnya menantikan data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat untuk mendapatkan petunjuk tambahan mengenai arah tekanan inflasi.
Baca Juga: Saham Chip Menggila, KOSPI Korea Selatan Melonjak 3,56% ke Level Tertinggi 3 Pekan AS-Iran Kembali Saling Tuduh Perkembangan konflik Iran juga menjadi perhatian pasar. Washington dan Teheran pada Kamis saling menuduh terkait upaya membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis bagi perdagangan minyak dunia. Amerika Serikat menuding Iran gagal memenuhi kewajibannya dalam kesepakatan. Iran membantah dan menyatakan Washington belum memenuhi komitmennya untuk mengakhiri blokade terhadap pelabuhan Iran. Kebuntuan tersebut membuat investor tetap mewaspadai risiko gangguan pasokan energi global.
Baca Juga: UPDATE - Harga Minyak Dunia Turun Kamis (13/8), Soroti Prospek Permintaan Global Dolar AS Menguat ke Level Tertinggi Dua Pekan Dolar AS menguat ke level tertinggi dalam hampir dua pekan karena investor mencermati kebuntuan terkait Iran. Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap sejumlah mata uang utama termasuk euro dan yen, naik 0,32% menjadi 100,01, setelah sempat menyentuh 100,08 atau level tertinggi sejak 31 Juli. Dolar AS terhadap yen justru melemah tipis 0,03% menjadi 159,38 yen.
Ekspektasi bahwa Bank of Japan (BOJ) akan menaikkan suku bunga pada September turut menguat setelah data menunjukkan harga produsen Jepang melonjak 7,2% secara tahunan pada Juli.
Baca Juga: Kepercayaan Konsumen Thailand Naik pada Juli, Tembus Level 51,8 Sementara itu, dolar Australia melemah tipis terhadap dolar AS ke US$0,7050. Di pasar komoditas, harga emas spot turun 0,74% menjadi US$4.375,88 per ons.