Saham Hong Kong Tertekan, Dana Asing Bisa ke Pasar Indonesia?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham Hong Kong tengah tertekan dalam tiga hari belakangan. Hal itu terjadi karena Morgan Stanley menurunkan peringkat untuk saham China, sehingga para investor menarik dananya.

Data aktivitas jasa yang positif dari survei bisnis sektor swasta untungnya bisa membantu membatasi penurunan saham Hong Kong. 

Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus mengatakan, pemangkasan peringkat utang Amerika Serikat (AS) memang telah memberikan tekanan yang cukup besar kepada pasar, baik secara global maupun di dalam negeri.


Tidak hanya itu saja, penurunan bobot yang dilakukan oleh Morgan Stanley terhadap saham China turut memberikan tekanan, karena adanya potensi pendapatan yang masih melemah.

Baca Juga: IHSG Menguat 0,64% ke 6.898 Pada Kamis (3/8), SMGR, KLBF, INTP Jadi Top Gainers LQ45

“Ini ditambah dengan adanya tekanan perlambatan ekonomi China, tercermin dari beberapa data ekonomi China juga mengalami pelemahan,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (3/8).

Hal tersebut membuat pasar saham Hong Kong akhirnya mengalami tekanan. Pada tahun 2022, China merupakan mitra dagang terbesar Hong Kong dengan total transaksi US$ 276,157 juta.

“Tentu saja dampak pelemahan China juga akan membuat perekonomian Hong Kong tertekan,” paparnya.

Nico melihat, Indonesia bisa menjadi negara alternatif tujuan investasi di tengah kondisi ini. Sebab, fundamental perekonomian Indonesia kuat dan fiskalnya berjalan sehat.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bagus di tahun ini menjadi salah satu daya tarik bagi investor asing untuk memasukkan Indonesia menjadi negara alternatif,” ungkapnya.

Dengan sentimen saat ini, ada kemungkinan pelemahan pasar saham Hong Kong akan terjadi.

Namun, di semester II diharapkan keadaan menjadi jauh lebih baik bagi perekonomian global, meskipun masih ada ketidakpastian.

Baca Juga: Sejumlah Pakar Menilai Reli Bursa Saham China Tidak Bertahan Lama, Ini Sebabnya

Namun, kata Nico, IHSG memiliki sentimen, daya tarik, serta daya tahannya sendiri.

Sehingga, pelaku pasar dan investor akan mampu menilai kelebihan dan kekurangan masing-masing negara dan disesuaikan dengan alokasi investasi yang ada.

Nico pun memprediksikan IHSG akan mencapai 7.650 pada akhir tahun 2023 mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi