KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
Di tengah tekanan pasar saham domestik pasca MSCI membekukan evaluasi indeks saham Indonesia hingga 2026, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) menegaskan evaluasi fundamental tetap dilakukan secara berkelanjutan. Pada penutupan perdagangan Rabu (28/1/2026) kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk ke level 8.320,55, terkoreksi hingga 7,35%. Sejalan dengan itu, saham BBTN melorot 4,02% dalam sehari ke level Rp 1.195. Menanggapi ini, Director Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, menyebut dari sisi bank, fundamental perusahaan tetap menjadi prioritas yang difokuskan. Saat ini, bank cenderung melihat pergerakan saham sebagai dinamika pasar alih-alih pelemahan fundamental.
Baca Juga: Dana Pensiun BTN Jaga Kinerja di Tengah Bertambahnya Peserta Pensiun “Dari sisi perusahaan yang penting kan fundamental, jadi volatilitas saham di market harus dilihat, mana yang sifatnya
panic selling, mana yang karena fundamental,” ujar Setiyo saat ditemui di pembukaan BTN Expo di Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Soal fundamental, Setiyo yakin transparansi informasi yang selama ini disediakan bank dapat menjadi pertimbangan fundamental para investor. “Kami
fully disclose fundamental kinerja kita. Itu yang paling penting, transparansi, supaya para investor yang memegang saham kami meyakini kinerja yang kami sampaikan itu transparan,
reliable, dan dapat dipercaya,” jelasnya.
Baca Juga: BTN: Kredit Program Perumahan Jadi Solusi Kepemilikan Rumah Sektor Informal Untuk diketahui, pembekuan pembaruan data saham Indonesia dalam seluruh produknya oleh MSCI merupakan perlakuan sementara. Langkah ini diambil sebagai bentuk kekhawatiran terhadap transparansi kepemilikan dan perdagangan saham di Indonesia.
Tren perdagangan terkoordinasi yang dinilai berisiko mengganggu mekanisme pasar yang wajar juga menjadi alasan pembekuan ini. Sejauh ini, MSCI belum berencana melakukan perubahan tertentu terhadap Indonesia dalam indeksnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News